Cerpen

Kota Logam Dalam Jingga Senja

 

Kami duduk dalam satu deret kursi panjang bus yang menuju kota Solo , gerah cuaca siang itu membuatku tidak begitu memperhatikan wajah-wajah para penumpang kepanasan dalam sesaknya aroma kecut bercampur wangi wangi menyengat yang  datang dari ibu-ibu berdandan sedikit menor yang  sepertinya baru pulang dari kantor. Aku sendiri terlalu sibuk untuk menjaga kursiku agar tidak ada orang lain yang mencoba untuk merebunya dariku dengan alasan apapun.

Terdengar alunan tembang Sewu kuto dari 2 remaja dekil ber senjatakan gitar kecil murahan ketika bus yang kami tumpangi berhenti di trafic light pertama, sebuah lagu dari kang Didi Kempot yang sedang booming dan entah kenapa lagu dengan iringan sederhana itu mampu membiusku dan melemparkan perasaan emosionalku akan banyak kenangan di kota logam hingga tidak terasa bibirku bergumam menirukan lirik demi lirik hingga selesai.

Ku lemparkan pandanganku ke arah sebelah kiri saat bus yang menuju kota Solo ini berjalan pelan meninggalkan trafic light kota Yogyakarta terlihat pemandangan pertokoan memenuhi sepanjang jalan hingga  sepertinya aku tidak melihat perkampungan namun mata hanya disuguhi orang-orang yang konsumeristik disini, hatiku sedikit berdebar saat mataku berhenti pada sosok gadis muda berjilbab putih yang duduk dekat jendela , ada perasaan kenal, dekat dan entah apalagi namun semua itu hanya sekejap tersirat, sedikit ku beranikan diri untuk cukup lama memandang gadis kuning langsat berkacamata berjilbab putih dan pakaian putih “sepertinya seorang dokter” kataku dalam hati, artinya jika dia seorang dokter pastilah bukan teman yang pernah dekat denganku dulu, aku semakin penasaran kini.

Dia adalah gadis periang kelas 2 SMK di sebuah sekolah kejuruan kota logam tempatku melanjutkan sekolah, sebuah kota kecil dengan pemandangan desa masih asri namun penduduknya punya kesiapan yang luar biasa, hamparan rel kereta api dengan stasiun pemberhentian menambah indah suasana tatkala sore hari kami bermain bersama untuk menikmati jingga senja seraya melihat capung-capung kembali ke rumahnya, sementara segerombolan burung emprit akan engaku nikmati bermain di bawah sinar kuning keperakan sebelum akhirnya masuk ke dalam pohon beringin yang tumbuh dipinggir stasiun dan beristirah penuh hingga esok tiba.

Parmi itu adalah namamu, sebuah kata sederhana yang membangkitkan cinta mendalam di kota logam, saat dulu kita saling sapa ketika bertemu di pematang sawah barat desa kau berdiri sendiri yang kemudian  keluar kamat dari bibirku   “Apa yang kamu cari Nona? “, kamu menjawab bahwa keindahan senja dengan sinar jingga dan keperakan adalah salah satu kepuasan yang seharusnya dinikmati, bukan seharusnya ditinggal menonton televisi, atau menyibukkan diri dengan hal-hal duniawi, lihatlah kebesaranNYA dihamparkan dan ada sebuah kebanggaan yang tidak bisa dilukiskan manakala kita bisa menikmatinya, itulah kalimat demi kalimat yang keluar dari mulutmu pada perjumpaan pertama kita.

Setelah hari itu biasanya kita akan mengabiskan senja bersama-sama kecuali bila musih hujan tiba dan benih-benih cinta tumbuh diantara kita sebab kita punya banyak persepsi yang sama terutama dalam menikmati hidup, keberadaanmu sungguh sesuatu yang amat berarti bagiku dan bahkan senja tanpamu hanya menyiratkan luka mendalam yang menggores,  menusuk dan menimbulkan air mata kesedihan, tanpamu sepertinya dunia begitu asing dan sepi.

Sebuah takdir telah menghepaskan dirimu dan diriku setelah itu, engkau melanjutkan study di kota Gudeg Yogyakarta sementara aku meneruskan kegemaranku menulis puisi-puisi tentangmu dan sepertinya aku telah menjadi seorang pujangga, kita terputus komunikasi secara total karena takdir begitu kejam merenggutmu dariku, hingga siang ini aku menemukan gadis yang duduk di bangku panjang sebuah bus yang menuju ke kota Solo, namun apakah itu dirimu Parmi, masihkah parasmu cantik seperti dulu?, kuberanikan diri untuk berdehem kecil agar sang gadis menengokan wajahnya,  namun sepertinya dia sedang asyik masyuk menikmati pemandangan area persawangan yang terhampar menghijau nyaman untuk dilihat dan  sungguh pemandangan yang indah dan menenteramkan.

Mata yang indah dalam balutan kaca mata putih sedikit tersibak setelah jilbab yang melambai terkena hempasan angin jendela bus turun ke bahu dan pada saat yang sama tatapan kami saling bertemu, saat itu seolah suasana dalam bus yang penuh sesak penumpang terhenti diam oleh alunan kidung hati yang menyapa dalam kegaguan ucapan “parmi, engkaukah itu? “, sang gadis mengerutkan dahinya yang menandakan ada yang salah dengan kata-kataku, “Maaf mas, apakah sampyan menyapa saya? Jika ya, nama saya bukan Parmi melainkan Inge”, sontak degup jantungku seperti berlari lebih kencang hingga membuat wajahku sedikit memerah karena rasa malu, “Maaf mbak, saya kira embak adalah teman saya dulu, sekali lagi saya mohon maaf, aku melanjutkan kalimat terbataku, saat itu aku merasa semua mata yang ada dalam bus memandangku sebagai seorang lelaki penggoda wanita yang mempunyai trik untuk mendekati mangsa, dalam gundahku aku menggeser posisi dudukku supaya perasaan bersalahku hilang, dan kulihat gadis bernama Inge tadi sedikit tersenyum melihat tingkahku, “santai mas, aku dah biasa kok disangka  teman si anu si itu oleh beberapa lelaki yang menjumpaiku, saya juga heran apakah karena wajahku yang pasaran atau mereka memang mengatakan seperti itu sekedar ingin kenal denganku? , dan sepertinya Parmi adalah sesosok perempuan yang begitu mendalam masuk ke relung hati mas ya? , maaf jika ada kemiripan dengan saya”, kalimat demi kalimat yang enteng di ucapkan dengan enteng oleh gadis itu membuatku semakin bingung dalam rasa malu dan entah tiba-tiba aku berharap secepatnya bus berhenti sampai di kota logam dan aku akan segera turun untuk menghindarinya namun laju bus sepertinya tidak sekokoh bodinya, aku pura-pura tidur dan memimpikan senja nanti sore akan bersua dengan Parmi di simpang jalan kecil persawahan tempat dulu kami pertama kali bertemu untuk kemudian kami menikmati senja bersama-sama. ( 2018 )

Continue reading “Kota Logam Dalam Jingga Senja”

Iklan
Cerpen

Ku Tunggu Kau Di Purnama

Usianya saat ini sudah 60 tahun lebih namun fisiknya tidak kalah dengan perempuan-perempuan umur 50 tahunan, semangatnya masih seperti mereka yang paruh baya, energik, lincah, dan masih mempunyai harapan hidup tinggi itulah Parmi sesosok perempuan sebatang kara yang tinggal di rumah tua namun terlihat rapi, dan bersih di sana-sini.

Dulu saat masih remaja Parmi adalah Lakon dari hampir semua permainan kampung seperti gobak sodor, kasti, benthik, jek-jekan, lompat tali, dan bahkan bola bekel serta tentunya permainan favorit para gadis yaitu engklek dikuasai penuh, suatu kali ibu saya pernah menceritakan tentang sesosok Parmi yang selalu bermain dengan hati dan kesungguhan, seperti menghayati permainan yang ia lakoni, tidak seperti kebanyakan teman-temannya yang menikmati permainan dengan cara  merka seperti  tertawa , bersendau gurau, bahkan akan saling mengejek , namun tidak dengan Parmi.

Akhir-akhir ini Parmi terlihat seperti gelisah dalam menjalani harinya, beberapa malam ini  dia kepergok sedang duduk diatas batu tua yang mencongol  di halaman rumah Inge sepulang dari masjid  sembari  melamun memandang langit , halaman rumah yang kini sudah tidak luas lagi, sebuah halaman tempat dihabiskannya  masa kecilnya bersama teman-temannya dengan penuh keriangan yang mana waktu itu  bulan  penuh bersinar menerangi semsta raya dan akan terdengar syahdu anak-anak  menyenandungkan lagu-lagu tradisionil, tak terasa air matanya luruh pelan menetes di pipi keriputnya melihat masa kekinian yang berubah begitu cepat, keriangan canda-tawa bocah yang berlarian tidak lagi terdengar bahkan anak-anak masa kini sudah tidak bisa menikmati purnama layaknya jamannya dulu, sepertinya mereka saat ini disibukan  dengan menonton sinetron atau menikmati sandiwara politik negeri dan sebagian lebih asyik melihat serial  layar bollywood di televisi, oh ya..Parmi juga melihat anak-anak kecil itu bermain telepone genggam pembelian orangtuanya.

Ada yang salah dengan zaman bisiknya kepada dirinya sendiri, “sebuah kenikmatan masa lalu telah dicuri , tapi oleh siapa? , siapa yang berani mencuri indahnya purnama dengan segala keceriaan gelak tawa bocah?”, pikiran hampa dalam balutan kerinduan inilah yang menyebabkan Parmi beberapa malam ini duduk diatas batu tua di halaman rumah Inge tempat dimana dia dan kawan-kawannya dulu riuh menyatu dalam kegembiraan malam purnama.

Parmi tahu halaman yang dulu luas dengan tumbuhan pohon-pohon jambu telampok itu kini telah berubah semakin mengecil dan sempit seiring dengan semakin dewasanya anak-anak Inge yang kemudian mendirikan rumah untuk membina keluarganya,  namun mengapa batu tua yang mencongol itu tidak ikut di bongkar sehingga masa lalunya juga akan  hilang dibawa  bersamanya?, Parmi ragu tentang hal itu memang merupakan sebuah kehendak takdir, dimana Tuhan sengaja membiarkan setiap kenangan masa kecilnya akan tumbuh kembali bersama dengan setiap datangya purnama selepas isya’ di halaman rumah Inge, ya..Tuhan memang maha rahasia dan kebenaran menurut versi Parmi hanyalah berupa angan-angan dan penerkaan belaka selebihnya kebenaran yang utuh itu masih tersimpan di langit.

Parmi bertekad melalui  hatinya yang paling dalam bahwa bila setiap purnama tiba dirinya akan selalu menanti kawan-kawannya masa kecilnya  disini, di halaman rumah Inge , Parmi ingin merubah keadaan yang menurutnya kini hampa dan penuh kekosongan itu bisa kembali lagi sehingga kampung dimana ia dilahirkan  yang kini dinilainya  semakin  sibuk mengurusi masalah  dunia nantinya bisa menjadi sebuah kampung yang utuh, kampung yang menghargai fenomena alam dan tidak melewatkan begitu saja dengan terbuai bujukan aklan-iklan televisi, ia akan tetap  menanti hingga anak-anak itu tertawa dalam kegembiraan dan  keceriaan  disini , dimana sebuah persatuan dan kegotong royongan terbangun melalui sebuah permainan, ya..permainan yang mengasyikkan di bawah terangnya bulan yang purnama. ( tegelinang 2018 )

Continue reading “Ku Tunggu Kau Di Purnama”

Cerpen

Wajahmu Di Sepertiga Malam

Menurutku waktu itu adalah sebuah malam yang terindah yang pernah  ada dalam hidupku, setiap sepertiga malam terakhir aku akan selalu  membisiki dirimu melalui pagar gedek tua tempat engkau tinggal dimana dirimu sedang  istirah setelah lelah seharian untuk mengajar anak-anak kampung  yang menurutmu sangat melelahkan namun asyik untuk dijalani, bukan upah yang engkau cari namun lebih kepada belajar mengenal karakter bocah dengan berbagai perangai yang dimilikinya itulah dunia termurni yang selalu kau temui, dalam mengajar engkau mendapatkan 2 ilmu sekaligus yaitu ilmu untuk mendidik anak selain  mendapatkan banyak kesempatan untuk menambah wawasan karena kadangkala ilmu itu datang saat engkau mengajar dan bukan saat engkau belajar itulah 2 keuntungan yang selama ini memberikan motivasi terhadap dirimu untuk bertahan dan masuk dalam dunia kanak-kanak yang selalu ceria dipenuhi sendau gurau seperti hakekatnya dunia ini.

Penduduk kampung tidak pernah tahu tentang menghargai para pendidik kecuali dengan cara mereka sendiri yaitu mereka akan bersikap hormat dan cenderung mendengarkan suaramu, kebanyakan dari mereka memang enggan untuk menyisihkan  sedikit hartanya untuk diberikan kepada para pendidik non formal, namun hal ini tidaklah membuat semangatmu surut justeru dengan tidak mendapatkan honor engkau telah mendapatkan kepuasan tersendiri , uang bukanlah satu-satunya untuk dimiliki namun kepercayaan orang kampung lebih dari segalanya dan uang bisa datang dari mana saja.

Dalam buaian dingin angin pagi kami berjalan beriringan menuju langgar kecil ditemani planet  merah yang selalu menyapa di semenanjung ufuk timur selain  rasi bintang gubuk penceng yang seolah selalu tersenyum pada manusia yang memperhatikan dirinya, kebanyakan orang yang belajar astronomi  di sekolahan akan mengenali setiap rasi bintang namun kami berdua yakin hanya segelintir orang saja yang selalu menjumpai rasi bintang gubuk penceng ini, mereka hanya paham dan mengenali lewat buku-buku pelajaran, rasi yang istimewa karena muncul setiap waktu tahajud tiba.

Seusai menjalankan sholat malam dalam keheningan kamu akan memilih untuk  membaca Al-Qurán dengan suara lirih sehingga orang yang berada di balik sekat langgar kecil itupun tidak akan mendengar suaramu, hanya mendengar semacam gumaman kecil namun indah didengarkan  sementara itu aku akan menghabiskan sisa waktu menuju subuh dengan wirid kesukaanku yantu sholawat jibril.

Bukan tanpa alasan aku dan Parmi melaksanakan tahajud berjamaáh walau kami menyadari bahwa kami bukan pasangan suami istri namun ibadah ini kami lakukan karena cinta pada Allah semata, bukan karena kami ingin berpacaran atau berbuat mesum di tempat suci bernama langgar, kami cukup tahu aturan untuk tidak saling menyentuh walau cinta kami ini sudah terdengar di seluruh penjuru kampung , kami akan selalu menjaga marwah kami sendiri untuk tidak jatuh kepada lembah dosa hanya karena menuruti nafsu belaka, kami menjaga kemurnian cinta dengan selalu menyandingkannya dihadapan Tuhan semesta alam.

Teringat dengan cerita seorang ulama’ besar dari Turki  bernama Jalaludin Arrumi yang begitu agung namun kemudian merasa kerdil setelah mendapatkan pertanyaan sederhana penuh mistik dari sang pengelana Syamsuddin At-tabrizi yaitu “Riyadloh dan Cinta”, pertanyaan yang kemudian membuat beliau  bergelut dalam ilmu kesufian dan mejadikannya orang yang sangat besar dan berjasa dalam ilmu tasawuf, itulah salah satu tujuan kami melaksanakan sholat malam, kami ingin masuk kedalam dunia penuh kasih, cinta , dan keperihatinan untuk menuju kepada cahaya maha cahaya, terbuai dalam alunan irama suka cita Tuhan, dan itu belum kami rasakan apalagi kami temukan.

Kisah kami di sepertiga malam memang menghadirkan makna yang mendalam, walau akhirnya Parmi kekasihku telah mendapatkan tambatan hatinya namun kehendak takdir ini tidak pernah menyurutkan niat kami untuk selalu menyelami makna cinta yang luas, kisah yang selalu aku baca setiap hendak tidur tiba sembari membayangkan keberadaanmu kini ada dimana. ( tegelinang 2018 )

Continue reading “Wajahmu Di Sepertiga Malam”

Cerpen

Pada Surau Tua

Seperti dalam sebuah keterasingan, itulah kata yang tepat untuk menggambarkan perasaan Karman malam saat ini , sebuah malam dimana malam hari ini adalah malam yang bertepatan dengan malam 12 tahun silam saat Parmi berusaha untuk menemuinya di sebuah surau tua yang sudah cukup lapuk namun beribadah di dalamnya sangatlah nyaman dan penuh kekhusukan, Parmi menemuinya bukanlah tanpa sebab dan alasan karena biasanya Parmi akan berusaha menghindari pertemuan di tempat terbuka dengan Karman karena ia tahu orang tuanya melarang keras untuk menjalin hubungan khusus dengan pria sederhana nan miskin ini.

Cinta tidak pernah memilih karena dialah yang mengarahkan kemana sebuah hati akan berlabuh itulah yang terjadi pada diri Parmi, dan keyakinan pada sebuah kesucian  perasaan inilah Parmi selalu memendam kerinduan yang mendalam yang terbungkus begitu rapi sehingga kedua orangtuanya tidak pernah mengetahui bahwa yang terpilih di hatinya adalah seorang Karman yang cacat ekonomi di mata kedua orangtuanya.

Malam itu adalah sebuah moment yang sangat penting bagi Karman, setelah melaksanakan sholat isya’ secara berjamaah dia berdoa dengan segala kesungguhan hati dan hampir-hampir menitikkan air mata karena sepertinya dia sudah tahu apa isi pembicaraan yang nantinya bakal dilaluinya, sebuah perasaan yang akan  hilang, kekesalan terhadap sebuah takdir, cacian dan umpatan terhadap hidup dan nasibnya..ya..sepertinya itulah yang bakal terjadi.

Parmi datang sekitar pukul 20.30 setelah surau sepi dari aktifitas peribadahan warga kampung dan Karman masih terlihat menelaah kitab kuning kesukaannya, Parmi tahu Karman hanya membuang kegundahannya saja dan bukan bermaksud untuk belajar kitab kuning , “ assalamu’alaikum akang” Parmi mengucapkan salam sebelum masuk ke dalam surau untuk selanjutnya duduk disamping Karman yang segera menutup kitab dengan kedua tangannya, “ Wa’alaikumussalam waraahmatullahi wabarakatuh Neng” terdengar jawaban salam yang diucapkan lirih penuh makna, “ Kang, akang pasti sudah tahu maksud Neng menemui akang malam hari disini, bukan maksud Neng untuk membuat luka ataupun sesuatu yang tidak baik untuk akang , namun hal ini memang harus Neng ungkapkan agar semuanya tidak berlarut-larut dan kita tahu apa yang mesti kita lakukan selanjutnya”, Parmi membuka percakapan yang hanya di jawab dengan dehem kecil yang mengandung sedikit kekecewaan dari Karman, “ Neng memohon sebuah keputusan dari akang yang pasti akan Neng lakukan demi cinta dan sayang Neng kepada akang walaupun harus ada yang Neng pertaruhkan nantinya, kang..orangtua Neng menghendaki agar Neng cepat menikah dan kemarin malam rumah Neng kedatangan tamu yang ternyata maksud kedatangan mereka adalah untuk melamar Neng, namun karena hati Neng yang telah berlabuh di hati akang maka Neng akan menerima semua jawaban dari akang, entah sebuah jawaban agar neng menikah dengan lelaki pilihan orangtua atau Neng harus mengikuti kemana akang akan membawa neng untuk membina keluarga kecil walau tanpa restu kedua orangtua Neng” , Parmi mengakhiri ungkapan perasaanya dengan mata yang berkaca-kaca.

Sebuah pilihan sulit buat Karman waktu itu, jika dia merelakan kekasihnya untuk bersanding dengan pria lain maka sama saja dia tidak menghormati ketulusan cinta Parmi selama ini, namun jika dia nekat mengajak Parmi untuk kawin lari tanpa restu kedua orangtua Parmi maka itu sama saja dengan menghadang doa buruk dari orang tua yang seharusnya ia hormati, Karman tertegun sesaat sebelum akhirnya membuka suaranya, “ Neng, akang tahu kualitas cinta Neng itu karena allah, dan Neng juga tahu bahwa akang sangat menyayangi Neng karena allah juga, namun bukan berarti kita harus egois mengarahkan takdir hidup menurut kehendak kita, akang minta dalam 3 hari ini kita bermunajat istokharah kepada allah untuk diberikan jalan terbaik, jika allah mengizinkan akang untuk bersanding dengan Neng maka pintu hati kedua orangtua Neng pasti terbuka buat akang, namun jika takdir berkehendak kita tidak bisa menyatu di dunia ini sesungguhnya akang akan mencari Neng di surga kelak dan tidak akan peduli dengan para bidadari yang telah dijanjikan karena bagi akang bidadari surga itu adalah Neng sendiri”, Karman terlihat sedikit sesak ketika menyampaikan kata-kata tersebut, “ 3 hari  lagi kita akan betemu di surau tua ini pada jam yang sama dengan membawa hasil istikharah kita” , lanjut Karman.

Takdir memang aneh ataukah kejam? ,  pada hari yang telah disepakati oleh Karman dan Parmi untuk bertemu,  keduanya membawa petunjuk yang mengharuskan keduanya berpisah dan akhirnya kisah itu bergulir dengan digelarnya pesta pernikahan Parmi dengan lelaki pilihan kedua orangtuanya, namun Karman tidak pernah berkeluh kesah dengan kejadian ini, rasa sakit yang dirasakan karena cinta telah dirubahnya dengan kegigihan bekerja dan saat ini adalah 12 tahun silam dimana Karman kembali di damparkan di tempat yang sama yaitu surau tua penuh kenangan.

Karman menghela nafas sambil berbaring dalam keterasingan yang asyik masyuk, sebuah perasaan yang sulit diungkapkan seperti dirinya sedang membuka sebuah kotak usang yang di dalamnya didapati mainan masa kecil yang sudah lama hilang namun masih terlihat cantik dan bagus untuk dimainkan itulah perasaannya kini, perlahan karman bangkit dan berjalan menuju ke luar dari surau tua itu dan  di dapatinya langit sangat cerah dengan hiasan sedikit gemintang karena bulan begitu penuh bersinar,  ia melangkah pelan pulang ke rumah dengan perasaan tenang dimana keluarga kecilnya telah menanti,  sambil memandang rembulan Karman berucap, “ Di surga kelak aku akan tetap mencarimu bidadariku, bukan disini ” , karena di kehidupan dunia ini ada 2 bidadari yang harus aku bahagiakan yaitu keluarga kecilku , seperti halnya engkau juga telah mempunyai keluarga yang harus kamu bahagiakan. ( tegelinang 2018 )

Continue reading “Pada Surau Tua”

Esay

Terasing

Karman melangkah pulang ke rumah dengan sedikit gontai bersama banyak pikiran memenuhi rongga-rongga otaknya, dia tidak habis mengerti mengenai keadaan lingkungannya yang dalam pandangannya terasa  mulai berubah tidak seperti zaman remaja bahkan zaman kecilnya dulu, perubahan secara  radikal yang sepertinya terhitung semenjak masyarakat disekitarnya senang akan mengkonsumsi kotak berwarna di atas meja yang menyajikan aneka menu berita, tentang kriminalitas, HAM, pelecehan seksual, atau bahkan menonton para penggosip murahan yang acapkali mereka bumbuhi dengan merendahkan harga diri lainnya, tentang aib yang diumbar, dan tentu saja politik!.

Seharian tadi Karman sudah memenuhi kewajibannya sebagai seorang imam , pemimpin  sebuah keluarga kecil yang dirasakannya bahagia, dengan kata lain keringatnya hari ini adalah bukti tanggung jawab yang ia pikul selaku seorang ayah dari kedua puteri cantiknya serta sebagai seorang suami teladan dari seorang istri yang selalu setia menunggui suaminya pulang tanpa pernah terucap omelan sedikitpun, sifat itulah yang membuat Karman dulu mencintainya sepenuh hati, bekerja sebagai kuli bangunan yang kata orang-orang sukses adalah sebuah pekerjaan yang  tidak akan pernah memberikan  kemapanan, namun justeru Karman mempunyai banyak waktu untuk berfikir tentang keadaan sekitar melalui pengamatan sederhana, melihat banyak hal dari sudut pandang lain dan mengikuti lahirnya  sebuah perubahan kecil  yang lambat laun telah menjadi sebuah tradisi dan budaya dalam kampungnya, atau bahkan dengan gamblang ia telah menyaksikan tentang semangat masyarakat yang sudah mulai kendor tergerus tren urbanisasi dan keserakahan diri sebagai pemuja materialisme, sebuah semangat keberagaman dan kegotong royongan yang kini hampir menjadi sebuah cerita indah, miris! .

Sebenarnya tidak banyak orang seperti Karman yang memanfaatkan malam sebagai obyek perenungan, berteman dengan rokok lintingan terbuat dari tembakau murahan dan kopi hitam sedikit manis, jika pun  istrinya sedang ada kelebihan uang belanja maka dengan setia dia akan membuatkan sekedar pisang goreng atau bakwan gandum sebagai teman si kopi dan si lintingan, kadang kala ada satu dua teman sebaya di kampungnya datang untuk sekedar  mengobrol , menemani hingga larut malam, kesederhanaan hidup serta kejujuran berucaplah yang membuat temannya kerap mendatangi untuk berbagi cerita.

Kemelaratan tidak bisa dihindari karena ia adalah peran yang harus dimainkan meskipun banyak orang menyangkalnya, entah karena Karman menyukai peran itu atau karena ia dan keluarganya tidak pernah berada dalam kondisi ekonomi mapan menurut para tetanggannya yang membuatnya nampak melarat dengan masih menghuni sebuah rumah sederhana terbuat dari gedek bambu tanpa kursi-kursi di dalamnya serta temaram lampu neon 10 watt yang selalu menemani terang malam-malam panjangnya.

Dalam 2 bulan terakhir ini seorang Karman yang biasanya nampak rajin mengikuti berbagai kegiatan kampung tiba-tiba menjadi pribadi yang tertutup, jarang bergaul, dan seperti punya perangai untuk menghindari setiap keramaian yang ada di kampungnya, kasak-kusuk para tetangga terdengar dari beberapa sudut kampung sepinya, membicarakan sebuah perubahan drastic pada diri Karman, santer terdengar Karman sekarang sudah punya jalan yang berbeda dengan para tetangganya, bahkan isu miring dari nyinyiran terbusuk yang sempat terdengar adalah Karman menutup dirinya karena sudah bergaul dengan jaringan radikal, Karman sendiri tidak pernah menggubrisnya bahkan sifat murah senyumnya tetap dapat dinikmati oleh warga kampung kecuali Karman memang saat ini menutup segala akses aktifitasnya kepada penduduk kampung dimana ia dan keluarganya tinggal.

Bukan karena mengikuti radikalisme, Karman paham betul tentang arti fundamentalis, radikal, aliran kanan, maupun kiri, namun kesengajaan dalam menjaga pergaulan lebih disebabkan karena factor bahaya riya’, pamer, dan doktrin sekulerisme di kampungnya, Karman tidak habis piker tentang perubahan pola pikir dari para tokoh garda depan dikampungnya yang sering disebut kyai itu kini sudah menggampangkan klaim kebenaran, mengkafiran terhadap sesama, maupun bujukan-bujukan untuk masuk kedalam politik praktis, pengamatan sementara Karman tertuju pada kotak berwarna diatas meja bernama televisi yang saat ini sudah begitu masif berpengaruh sekali terhadap nalar abstrak bernama iman, selain televisi kecurigaan Karman jatuh pada para politisi yang sekarang mulai turun hingga kampung-kampung untuk mendulang suara, kecurigaan ini bukan tanpa alasan karena pengaruh dari janji manisnya sudah terasa, Karman melihat bendera-bendera parpol mulai berkibar di sana-sini menghias hijaunya jalan asri dengan pagar pohon perdu dikampungya, pengajian ibu-ibu diwarnai dengan mengarahkan kepada gambar parpol tertentu, kumpulan pemuda sedikit banyak membahas tentang siapa caleg yang pantas mendapat dulangan suara dari mereka, dan bahkan pada khotbah di masjid yang suci tempat Tuhan berumah pun terselip ucapan murahan tentang kebenaran parpol tertentu dan menyesatkan parpol lainnya dari bibir manis sang khotib.

Menurut Karman ini sungguh kejadian luar biasa, dimana mereka yang dulu bersuara bahwa agama adalah pemersatu, agama adalah segala nilai keindahan?, yang ada sekarang adalah agama sebagai alat untuk mengolok-olok golongan tertentu, ini sebuah kebiadaban yang harus dilawan walau harga diri sebagai taruhan suara batin Karman terdengar tegas dan penuh kepiluan, inilah alasan Karman saat ini mengasingkan diri dari kerumunan orang banyak, Karman hanya ingin jeritan suara pedihnya didengarkan,  bukan .., Karman bukan membenci parpol, Karman tidak anti caleg namun tempat dan waktunya harus jelas, jangan ketika dakwah bendera dibawa, jangan ketika ngobrol sehabis wiridan dimasjid warna baju dibahas, jangan ketika pengajian ibu-ibu nama caleg ditawarkan, bermain kok tidak elegan!, Karman menghela nafas panjang sembari melinting rokok tembakau murahannya seraya berfikir bagaimana masyarakat kampungnya tidak terlalu dalam terjerumus kepada pemikiran politik praktis yang ujung-ujungnya adalah saling membenci, seperti menaburkan bibit-bibit perbedaan yang akhirnya membuahkan klaim kebenaran dan saling menjatuhkan satu dengan yang lain, Karman bingung harus berbuat apa dan bagaimana, tidak terasa waktu hampir pukul 03.00 dini hari saat dilihatnya tembakaunya mulai menipis setelah itu ia merebahkan tubuhnya di bentangan tikar pandannya yang mulai terlihat lusuh. ( tegelinang 2018 )

Continue reading “Terasing”

Esay

Belajar Dari Orang Mati

Tahun ini aku berniat untuk mendedikasikan separuh waktuku untuk mengunjungi beberapa pengikutku yang ada di beberapa kota kecamatan, bukan karena yang lain melainkan karena  mereka menghendaki untuk bertemu denganku lantaran ada beberapa masalah yang akan didiskusikan denganku.

Mungkin sudah terlalu lama aku berdiam diri dalam kesunyian,  hampir 15 tahun mengasingkan diri dari kerumunan manusia, semenjak pikiranku terguncang dengan berbagai permasalahan yang timbul di sekelilingku, terutama masalah keduniawian dan selebihnya pengakuan akan  martabat manusia yang sepertinya tidak pernah terpuaskan, identitas kosong  yang  membuai jiwa.  Mereka berlomba untuk mendapatkan tempat dihati manusia lain, saling sindir dan nyinyir demi untuk mendapatkan kepercayaan semu, banyak diantara mereka saling menjegal, memanipulasi keadaan, mempertontonkan harta, dan bahkan saling memperkosa hak-hak orang lain agar mendapatkan restu dari yang bernama kelas sosial.

Tahun ini aku telah berniat untuk mendedikasikan separuh waktuku untuk mengunjungi beberapa pengikutku  sekedar melihat perkembangan zaman setelah 15 tahun aku tinggalkan, para pengikutku itu sendiri hanya  terdiri dari perumahtangga sederhana yang sering mendapatkan celaan dan sindiran dari mereka yang  merasa dirinya kaya, dulu sebelum pengasingan ini aku jalani  banyak hal memang membuatku gundah, membuat aku termenung, berfikir akan tujuan sebenarnya hidup, syahdan aku bertekat untuk menjauhi dunia manusia dalam pengembaraan spiritualku.

Kecamatan Flamboyan adalah tujuan pertamaku dalam misi ini dimana aku menemui Sutjai yang saat ini sudah menduda sekitar 5 tahun silam lantaran istrinya meninggal karena serangan kangker rahim ( serviks ), Lee adalah putera satu satunya dari keluarga ini yang sekarang berumur sekitar 30 tahun yang bekerja sebagai buruh bangunan dengan gaji pas pasan untuk mencukupi hidup mereka berdua sedangkan Sutjai sahabat yang sekaligus  pengikutku masih seperti dulu yaitu hidup dari mencari kayu bakar di pinggir hutan kecil untuk menyambung hidup keluarganya, sebuah keluarga miskin yang dengan senang hati menjalani takdirnya.

Saat aku datang Sutjai tampak sumringah dengan senyum tulus yang tersungging dari bibirnya, kami bersalaman sebelum akhirnya Sutjai mempersilahkan aku duduk di tikar butut penuh sulaman disana sini dan membuatkan secangkir kopi pahit untukku, suaranya masih terdengar jelas tanpa ada beban dalam hatinya tatkala dia berbicara kepadaku, “Silahkan diminum Yasa, masih suka kopi pahit bukan? ” nadanya ramah penuh gairah.

Kami terlelap dalam perbincangan arah mata angin, dimulai dari barat terus berlari ke timur dan tahu-tahu sudah muncul si selatan, tiba-tiba  perbincangan kami malah sudah berada diutara dan akhirnya menukik ke barat lagi, obrolan yang tidak berbobot namun penuh makna keakraban, tanpa tendensi dan hanya kami yang tahu endingya ada dimana, itulah mengapa kami menyebut perbincangan ini sebagai jenis perbincangan arah mata angin, obrolan tanpa tuan.

Pada akhirnya aku harus menceritakan perjalanan sunyiku yang aku harapkan masih bisa memberikan motivasi untuk Sutjai , paling tidak pengalamanku menyatu dengan alam akan memberikannya gambaran baru agar menjadi menjadi sudut pandang lain terhadap hidupnya dan bahkan kehidupannya, “Yasa, berilah satu patah dua patah kata untuk aku dan anakku” pintanya,  “Apalagi yang harus ku katakan kepadamu setelah kusampaikan tentang ketidakkekalan? “jawabku. “Belajarlah dari orang yang telah mati” aku melanjutkan, “lihatlah mereka seonggok daging yang tidak berguna dan cenderung untuk dihindari, seperti sabda Nabi kita bahwa kematian adalah sebuah pintu dimana segala sesuatu yang hidup akan memasukinya”.

Benar, bahwa orang yang telah mati akan meninggalkan segalanya, kekayaan, keangkuhan, derajat, pangkat, jabatan dan yang ditinggalkannya hanyalah harga diri sewaktu hidup , dan yang paling berguna tidak lain kecuali amal perbuatan baik yang telah diperbuat olehnya sewaktu masih di dunia. Orang yang mati tidak bisa mengurus dirinya sendiri, bau busuknya akan mengganggu lingkungan untuk itulah dia dikubur atau mungkin di kremasi , orang yang mati tidak bisa meminta apapun  kepada siapapun dan punya tanggungan yang tidak dapat diselesaikan olehnya, belajarlah dari ketidak berdayaannya.

Seperti halnya orang yang mati, itulah kita sebenarnya, dihadapan Tuhan sang penguasa alam kita hanyalah seonggok daging tanpa harga jika bukan karena ketaatan kita, kita akan dibuang dan bahkan dipanggang ke dalam tempat paling hina, jangan pernah takut menjadi miskin harta karena miskin harta adalah jalan hidup yang mesti ditempuh, jadilah orang yang kaya hatinya dengan mudah tergerak untuk menolong sesama, keangkuhan dan kesombongan dibumi hanya membuat kita unggul sementara di hadapan manusia sedangkan setelah memasuki gerbang kematian semua menjadi sia-sia dan miskin disana adalah miskin yang sebenar-benarnya setelah itu tidak ada selain penyesalan yang tidak mungkin ditebusnya kembali.

Aku pulang setelah menghabiskan satu gelas kopi pahit pemberian Sutjai untuk melanjutkan perjalanan ke beberapa pengikutku lagi sekedar untuk melihat perubahan 15 tahun terakhir ini, dari kejauhan aku melihat Sutjai menangis tersedu di pojok ruangan rumah bambunya. ( tegelinang 2018 )

Continue reading “Belajar Dari Orang Mati”

Esay

Mereka Yang Tamak

Aku bertemu dengannya kemarin sore di suatu senja yang indah di persawahan selatan desa saat aku mencoba kembali untuk mengenang masa kecilku dulu, menapaki pematang sawah yang mulai menciut dengan iringan  indah suara gemericik air jernih selokan yang kini semakin menyempit di tebas keserakahan manusia yang konon katanya memperjuangkan hak-hak sejengkal tanahnya tanpa berfikir untuk berbagi dengan kearifan lokal.

Wajahnya mulai sedikit tirus setelah hampir 20 tahun kami tidak bersua namun tatapan matanya masih tajam seperti dulu, setajam pemikirannya yang tidak pernah menyiratkan ketuaan fisiknya, ah..Yasa namanya, sebuah nama yang dulu kami takuti karena keberanian untuk adu fisik jika hatinya tidak berkenan dalam sebuah permainan masa kanak.

Kami bertemu dalam ketidaksengajaan saat aku mencoba untuk mengenang masa kecilku yang beberapa waktu ini  kurindukan , seperti sebuah benda yang hilang dan angan bergerak untuk mencoba mencarinya kembali, mengutak-atik kotak usang antik bernama masa yang menelan umur kami namun ingatan keriangan itu masih segar dalam ingatanku seperti baru terjadi beberapa waktu lalu saja.

Yasa kawanku bercerita dengan antusias tentang hidupnya kini, 2 anak gadisnya telah dinikahkan dan hidup bahagia dengan suami suaminya yang bekerja mapan sebagai pegawai negeri seperti yang dicita-citakannya dulu, mereka telah mempunyai rumah cukup bagus dan saat ini sedang menunggu kelahiran putera-puterinya yang tentunya membuat Yasa semakin bangga dengan keadaannya.

Satu hal yang berbeda dari Yasa kawanku itu kini, yaitu pemikirannya yang muncul dan cukup menggetarkan perasaanku, “Joe,  apa yang sudah kamu pelajari selama ini tentang hubungan manusia dan alam sekitanya” tanya Yasa kepada ku, “Manusia adalah alam itu sendiri yang mencoba berbuat tamak dengan sesama, selain membuat kerusakan di sana-sini” jawabku datar.

Kawanku itu manggut-manggut mendengar jawabanku seraya menimpali dengan argumen lirih dan terdengar sumbang “ Manusia itu hakekatnya memang merusak alam yang artinya dia menjalankan perannya dengan bagus, seperti seorang aktor  yang memang harus luwes untuk memerankan apa yang dikehendaki sang sutradaranya, sedangkan ketamakan adalah laksana baju zirah yang dibuat untuk membuat takut dengan menggetarkan hati orang lain agar dia terjaga dari ketamakan manusia lain”, imbuhnya.

Perbincangan kami makin asyik manakala senja semakin memerahkan langit diufuk barat sehingga warna orange tua yang terpadu dengan perak menjadikan langit seperti taman impian bermain semua orang, tentu saja hal ini mejadikan perasaan mendalam bagi mereka sang pengagum senja, duduk bersila dipematang sawah dengan hamparan warna kuning emas karena padi sebentar lagi dipanen.

“Pernahkah kamu melihat  bahwa kita semakin kehilangan kekayaan yang  sebenarnya?” Yasa memberatkan nadanya yang menandakan bahwa pertanyaan tersebut tidak butuh jawaban, ya..ketamakan adalah faktor perusak yang maha dahsyat , namun hal tersebut malah menjadi sebuah kebanggan yang hampir diidamkan oleh banyak orang, lihatlah Joe..dulu kita bermain disini bersama teman-teman kita, berlarian melalui pematang  yang kemudian kita akan menceburkan diri di sunga kecil ini namun sekarang tengok, ini bukan sungai kecil namun lebih tepat di sebut selokan, ini ulah ketamakan!!! , Lanjut Yasa berapi-api. “Mereka tidak pernah berfikir jika musim hujan tiba, dengan debit yang tidak bisa ditahan oleh lebar dan dalamnya sungai kecil ini, apa yang akan terjadi??? Kerusakan!.

Memang benar apa yang kawanku itu ucapkan, kerusakan alam yang akan  berimbas kepada manusia itu sendiri bisa jadi dimulai dari ketamakan mereka akan alamnya, teretorial yang berlebihan!. Aku pulang  kerumah dengan perasaan gundah, membayangkan beberapa spesies masa kecilku yang kini telah hilang dan tidak pernah kutemukan, apakah ini sebuah  pertanda akan adanya ancaman kerusakan lebih besar yang mengintip dibalik lembutnya sang  waktu?, Gundahku mungkin tidak beralaskan, namun paling tidak aku harus mencari cara untuk menyelamatkan hidupku sendiri, mungkin  bisa dimulai dari memusuhi tamak. ( tege linang 2018 ) Continue reading “Mereka Yang Tamak”