Esay

Lelaki Peziarah Malam

Lelaki itu dengan cekatan mengambil jaket imitasi berwarna cokelat tua berumur yang tergantung di paku tiang rumahnya, seperti pada hari-hari sebelumya setiap malam rabu sekitar pukul 21.00 WIB dia akan melaksanakan tirakat dan keprihatinan atas hidup dengan mengunjungi makam-makam para hukama’ dengan maksud jiwanya akan tersandar pada petuah-petuah para ulama’ tersebut yang sampai sekarang masih segar tertulis di lembaran-lembaran catatan bahtsul masail.

Banyak orang beranggapan bahwa lelaku yang dijalaninya itu hanya mendatangkan  kepercumaan saja, mubadzir, musyrik, bidáh, tidak bermanfaat dan bahkan malah memadhoroti hidupnya, “lha wong pingin mulyo kok malah zaroh, mbok yo golek kerjo sik bener, mbengi ge turu” orang pingin mencapai kemuliaan kok malah berziarah, seharusnya cari kerja yang betul dan waktu malam itu hendaknya digunakan untuk istirahat tidur” itulah beberapa pendapat masukan dari tetangga kanan kiri.

Lelaki itu adalah orang yang sederhana dengan hanya mempunyai beberapa lembar kain baju dan dua sarung kotak-kotak yang sudah kumal, pekerjaan setiap harinya membantu para tetangga yang membutuhkan tenaganya seperti membersihkan rerumputan yang mulai mengotori lingkungan rumahnya, mencarikan makanan kambing, atau bahkan kadang-kadang dia dengan suka rela akan membersihkan sampah-sampah yang mengotori jalan kampungnya, banyak orang beranggapan otaknya sedikit miring karena perangai hariannya cenderung pendiam dan bahkan dalam pekerjaannya dia tidak pernah mematok harga tenaga seperti kebanyakan profesi professional.

Lelaki itu sebenarnya mempunyai isteri yang sabar dan satu puteri kecil umur sekitar 2 tahun, semenjak kecil hidupnya tergolong pas-pasan dan bahkan cenderung kekurangan namun menurut banyak cerita dari tetangga sekitar lelaki itu tidak pernah mengeluh dan bahka akan banyak menebar senyuman tatkala berpapasan dengan warga dan itu yang disayangkan oleh sebagian tetangganya, orang sebaik itu kok belum dapat pekerjaan tetap, belum bisa mengubah nasibnya, dan malah menziarahi batu-batu saksi bisu pemakaman para ulama’, apakah dengan tindakan seperti itu diharapkan mampu mengubah nasibnya ? atau jangan-jangan sang lelaki malah menganut faham fatalisme? .

Sore ini saya memberanikan diri sowan kepada lelaki berjaket cokelat tua yang warna aslinya hampir pudar dan hobby ziarah tersebut, saya diajak masuk dengan senyuman terbuka tanpa beban, saya duduk di kursi tua beranyamkan penjalin, isterinya yang berdandan sederhana segera menghidangkan 2 cangkir kopi manis sebelum kami banyak ngobrol, sedangkan saat itu saya mendengan tangisan manja dari buah hati mereka yang ditinggal ibunya membawakan kami minum, segera setelah ibunya selesai tangisan manja itu tidak terdengar lagi.

Namanya Karjo, orang yang tidak berpendidikan secara formal namun sekitar 15 tahun mengenyam pendidikan di sebuah pesantren salafy di lereng Merapi, kesederhanaan adalah tujuan hidupnya dia tidak bermaksud maupun bercita-cita menjadi kaya ataupun sukses materiil seperti yang orang kebanyakan lakukan dan itu adalah keputusan yang di amini oleh isterinya, ziarah merupakan persembahan malam yang mana dia merasa khusuk mendoakan banyak orang terutama kedua orang tuanya serta guru-gurunya, dia tidak punya niat untuk mencari harta dengan lelaku ziarah yang rutin dilakukannya karena arti ziarah terlalu sempit jika dihubungkan dengan kebutuhan hidup, baginya ziarah malam adalah hadiah terindah yang di berikan Tuhan kepadanya untuk selalu mengingat kematian dan doa tulus dikala orang-orang terbuai menonton televise maupun tidur awal agar keesokan harinya bisa sehat bekerja.

“Dunia bukan tujuan utama, nikmat materiil tidak akan pernah melegakan dahaga akan keduniaan, dunia tidak akan pernah cukup untuk dicari maupun memenuhi perut kita, ziarah adalah pandangan lain tentang arti sebuah ketidak kekalan, ketidak berdayaan manusia, keterbatasan pengetahuan makhluk maupun sempitnya akal pikiran, ziarah memberikan ruang dan waktu kepada jiwa-jiwa yang hidup dari kematian dunia, itulah intisari dari lelaku” Karjo sedikit terbata-bata merampungkan kalimatnya.

( tegelinang 2018 )

siluet-orang-laki-baca-al-quran

Iklan
Esay

Rindu , Cinta, Dan Kesunyian

Manusia adalah sebuah makhluk yang terkodrat memiliki banyak kemampuan dalam mengekspresikan berbagai jenis perasaan emosional serta memiliki perasaan yang mendalam kepada semesta dan berbagai makhluk yang tercipta di alam ini.

Perasaan cinta yang mendalam dalam kalbu manusia di sebut kasih murni yang sulit tersentuh oleh akal pikirannya sendiri, dengan cinta manusia bisa menjelma menjadi dewa yang sangat mulia namun dengan cinta juga manusia akan terhempas kepada rasa gila yang tak akan pernah berhenti, sebuah penderitaan tiada akhir.

Mengiringi cinta  adalah rasa rindu dendam dimana perasaan ini lebih cenderung kepada sifat penyendiri dan menggantung di semesta sendu-sedan yang terbungkus air mata suka-duka.

Rasa rindu itu seperti seorang pencuri yang menyelinap,  manakala dia mempunyai sebuah kesempatan yang bahkan kesempatan tersebut sering melupakan waktu, apakah pagi hari, siang, semenanjung sore, ataukah malam hari dia akan tetap beraksi dan membabat habis segala kesibukan untuk mengistirahkan rasa itu jauh ke ujung kesunyian untuk kemudian menyerap habis serotonin yang ada di seluruh tubuh sehingga jiwanya menjadi segundah ketenangan itu sendiri.

Cinta itu perasaan yang meminta untuk diungkapkan kepada semua warga semesta, namun rindu lebih condong masuk kepada aurora kesunyian yang berwarna – warni, bagi insan yang dimabuk cinta maka ia akan bertingkah untuk mengekspresikan perasaan tersebut agar diketahui oleh sekelilingnya atau dia akan menjelma menjadi detektif yang menyibukka dirinya mengorek keterangan selengkap-lengkapnya tentang dia yang dicintainya.

Pertanyaan yang menarik adalah, dimanakah hubungan yang menggravitasi antara Cinta, Rindu, dan Kesunyian?, apakah cinta hanya diperbolehkan kepada satu lawan jenis? Dan bagaimana jika kita merindu kepada 1 hingga 3 seseorang yang bakal kita cintai, dan apakah ruang kesunyian tempat bersarang rindu tidak goyah bahkan penuh oleh duri-duri cinta yang kita ciptakan sendiri?..

Bagaimanapun cinta akan tetap menjadi misteri sebagaimana kisah klasik Rama-Shinta dan hubungan gelap setelah Rahwana yang berhasil menculik shinta bahkan tanpa Rahma tahu sebenarnya.

Namun kekuatan cinta tetap akan mengobarkan peperangan dan membabat habis ruang sepi rindu setiap insan yang dibutakan oleh cinta..karena ini adalah tenunan takdir yang mengkaini kehidupan manusia sampai dunia ini hancur kelak. ( tegelinang 2018 ) Continue reading “Rindu , Cinta, Dan Kesunyian”

Esay

Go Back To The Door is Gobak Sodor

Orang jawa biasa menyebutnya dengan Gobak Sodor yaitu sebuah permainan tradisionil yang menguji mental serta kelincahan sang pemain dan dimainkan dihalaman rumah minimal oleh 4 orang untuk 1 grup artinya dalam permainan ini kita butuh 8 orang pemain.

Caranya sangat sederhana, buatlah 4 kotak bujursangkar yang tersambung satu dengan yang lain dengan dimensi 5 m² untuk tiap bujur sangkar ( buat garis yang kentara lebih baik dengan tambahan gamping agar garis tetap awet.

Perwakilan dari grup ( biasanya ketua ) harus melakukan hom pimp ah untuk menentukan siapa yang akan jaga garis atau yang bermain terlebih dahulu ( ingat, yang kalah harus jaga garis ya..).

Setelah proses hom pim pah selesai maka permainan bisa dimulai yaitu untuk sang penjaga garis awal ( pintu ) ada orang pertama, di garis tengah 1 orang lagi, di garis ke dua ( bagian yang membelah 4 bujur sangkar ) ada 1 penjaga lagi, dan terakhir penjaga yang ada di garis paling atas sendiri.

Nah..para penjaga garis sudah siap artinya sekarang kita bermain ya.. 4 pemain pemenang hom pim pah harum masuk ke bujur sangkar dengan tanpa tersentuh oleh para penjaga garis hingga bisa kembali ke titik start lagi, ini memerlukan trick khusus yaitu bagaimana tim harus bekerjasama mengelabuhi para penjaga gawang agar tidak bisa menyentuk ke empat pemain, trick dan kerjasama harus diiringi dengan kelincahan serta kadang-kadang perlu ungkapan-ungkapan untuk mengelabuhi penjaga garis. Continue reading “Go Back To The Door is Gobak Sodor”

Tak Berkategori

Pesta rakyat

Dimana-mana yang dibicarakan adalah pilkada, entah dengan nada menyanjung, menghina, menghasut dan bahkan bumbu-bumbu sedap kampanye di lumurkan untuk mencari simpati.

Saya adalah warga Indonesia dan keindonesiaan itu saya tunjukkan dengan gembira menyambut pesta rakyat ini, saya tidak mempedulikan omongan miring tentang si anu..omongan menyanjung tentang si anu…yang penting adalah saya menggunakan hak saya untuk mencari pemimpin yang tentu saja ideal menurut saya.

Sepertinya ada yang memanfaatkan pesta ini untuk kepentingan tertentu, misalnya..untuk menumpahkan sederet minuman yang sudah diisikan dalam gelas, menghabiskan menu-menu masakan khas yang terlihat enak, berkenalan dengan mereka yang baru dijumpainya, dan entah..saya kira masih banyak lagi motif mereka datang dan meramaikan pesta ini.

Tanpa disadari sebenarnya pesta ini cepat atau lambat pasti akan berakhir, namun saya melihat ada beberapa tamu yang tidak ingin pesta usai, ada bapak-bapak yang mencoba menyembunyikan beberapa perlengkapan, ada ibu-ibu yang masih kerasa di sofa, banyak anak muda yang enggan beranjak dari keasyikannya, sepertinya mereka lupa bahwa mereka harus pulang ke rumah dengan cerita indah di pesta.

Saya tidak banyak mengenal tamu disini, namun dari raut mereka saya bisa membaca ada beberapa tamu yang saling sindir perihal baju yang dipakai tamu lain, bahkan ada yang terus terang mengatakan tidak menyukai jenis makanan atau aksesoris yang dipakai di pesta ini.

Sepertinya saya harus mesem dengan tingkah genit para tamu, saya sendiri tidak makan banyak dan bahkan cenderung menikmati menu yang paling sederhana.

Melihat kondisi yang sudah semakin malam dan beberapa tamu sudah terlihat mabuk dan membanting kursi saya beranjak pulang dengan harapan besok pagi mereka melupakan malam ini dan kembali beraktifitas normal layaknya orang Indonesia yang mempunyai jiwa Bhineka Tunggal Ika. (tegelinang 2017 )

Tak Berkategori

Kumpulan RT

Kita boleh berbicara tentang politik kelas tinggi maupun menganalisa keadaan ekonomi bangsa ini yang konon katanya sedang terpuruk, biasanya saat sekerumunan orang pada duduk dalam satu majlis yang namanya eRTe mereka akan asyik dalam dunia analitik pragmatis.

Namun jangan lupa bahwa kumpulan eRTe bukanlah kumpulan yang berkewajiban untuk menjustis dengan menyalahkan orang-orang yang duduk diatas sana dengan segala kebijakan yang sulit dimengerti oleh orang desa seperti saya, hanya karena di rumah saya ada televisi 14 inch dan setiap harinya menyuguhkan berbagai berita yang terkadang sulit saya pahami namun dari situ semua mengalir dan membuat saya ( selain teman-teman saya tentunya) menjadi orang yang konon pandai untuk memilih yang benar maupun membuang muka untuk hal-hal yang kotor.

Perbincangan tentang gejolak di kota-kota besar malam itu menjadi topik yang sangat penting sekali di kumpulan eRTe dan bahkan sepertinya lebih penting dari acara gugur gunung minggu besok.

Sampai di rumah malam itu sekitar pukul 23.00 WIB dan sembari saya leyeh-leyeh di kursi rotan butut pikiran saya melayang kembali membayangkan kehebohan kumpulan eRTe tadi.

Saya berfikir “Seberapa penting kita mesti mencampuri urusan orang-orang dalam kotak berwarna itu?” dan saya tidak punya jawabannya kecuali bahwa tetangga-tetangga saya sekarang sudah bisa berpolitik dan ahli menganalisa keadaan yang terjadi di perkotaan daripada mereka semangat membangun kerukunan bergotong-royong.

Analisa saya bukanlah tanpa fakta, kecenderungan membangun kegotong-royongan dan persatuan sepertinya sedikit luntur dengan kecenderungan beberapa orang lebih suka membayar denda ketimbang ikut berpartisipasi kerja bakti,  dan anehnya merekalah yang paling mendominir bercerita tentang situasi politik kota-kota besar sembari paling gemar meminta bantuan ke Pemerintah bila mempunyai hajat bersama, menurut saya sikap meminta kepada siapapun ( walau ke Pemerintah) merupakan sikap yang kurang mandiri dan bahkan menjauhkan jiwa derma kita, karena tangan dibawah itu lebih hina daripada tangan diatas. (tegelinang 2016)

Esay

Tradisi Nglencer

Patutlah kita bersyukur kepada Tuhan untuk takdir kita dalam hidup ini menjadi orang Jawa. Konon orang jawa adalah termasuk umat yang istimewa dalam qodlo dan qodarnya, bagaimana tidak? pada setiap laku dan lelakunya manusia jawa ada terkadung sebuah nilai spiritual yang amat sangat tinggi, dimana mungkin kurang bisa didapatkan pada lelaku manusia di belahan dunia manapun termasuk di Arab sana yang notabene adalah tanah kelahiran budaya islam. Apalagi budaya jawa adalah budaya yang amat fleksibel untuk bisa di kawinkan dan di impelementasikan dalam budaya islam yang sangat agung itu, misalnya budaya jawa sangat mengenal rasa malu, menjunjung tinggi nilai sopan santun dan andap asor juga cenderung menjaga hubungan kekerabatan atau silaturrahmi, itu hanya sekelumit perilaku orang jawa dalam menjaga tradisi dan kebudayaannya dan masih banyak lagi tentunya jika ingin kita telusuri lagi. Berbicara menjaga hubungan kekerabatan tentunya tidak akan terlepas dari pesan Rosul SAW yang menekankan begitu pentingnya menjaga dan melestarikan lelaku ini sehingga beliau berpesan bahwa jika manusia ingin di lancarkan rezekinya, salah satunya adalah dengan melakukan budaya silaturrahmi ini. Ada sebuah rahasia besar didalam silaturrahmi dimana orang lain akan menjadi dianggap saudara dan menimbulkan sebuah kepercayaan di samping menjauhkan perasaan benci antar manusia. saya teringat ketika Nabi Muhammad bersilaturrahmi kepada penduduk Thoif waktu itu dan tanggapan dari masyarakatnya sangat ingkar dan Beliau hanya mendapatkan seorang pengikut yaitu Adas, namun karena sebuah perintah dari Tuhan untuk tetap bersilaturrahmi dan berdakwah maka Nabi Muhammad pun tidak lantaran menyerah dan putus asa walau lemparan kotoran dan batu Beliau terima dari penduduk Thoif saat itu dan walaupun hanya satu orang yang mau mendengar panggilan Beliau. Sudah menjadi tradisi turun temurun pada masyarakat Jawa setiap kali masuk Bulan syawal atau Iedul Fitri pastilah moment tersebut di gunakan untuk berkunjung ke sanak famili, saudara, handai taulan, Guru maupun ke teman-temannya. Setelah masyarakat jawa selesai menjalani ritual puasa sebulan penuh dan merasakan tingkat spiritualnya bertambah maka yang datang adalah perasaan bahagia dan suka cita yang kemudian menghadirkan keinginan untuk membagi kebahagiaan tersebut dengan orang lain, inilah awal mula tradisi Nglencer di jawa timur atau Ujung sebutan yang akrab di telinga orang jawa tengah. Masyarakat jawa akan dengan suka rela mendatangi kerabat, saudara, handai taulan maupun guru juga teman dekatnya dalam silaturrahmi Nglencer ini walaupun perjalanan yang di tempuh untuk sampai ke lokasi memerlukan waktu yang lama maupun medan yang cukup sulit. Saya teringat waktu masih kecil dahulu, saya sering diajak orang tua untuk berkunjung ke sanak famili keluarga saya yang cukup kjauh dan harus menempuh perjalanan kaki salama 2-3 jam namun waktu itu sungguh saya dapat merasakan sebuah perasaan yang amat sangat penuh suka cita. Ketika kita berbicara tentang Nglencer atau Ujung kedalam konteks kekinian tentulah pada masing-masing tempat akan kita dapati perbedaan yang amat mencolok, semisal kita memandang budaya perkotaan dalam impelementasi Nglencer tersebut di bandingkan dengan masyarakat yang masih di pedesaan. Mungkin masing-masing individu akan menemukan dan merasakan semangat silaturrahmi Nglencer pada level yang berbeda dan jika kita bandingkan zaman sekarang dengan zaman 60-70an maka tentulah jurang itu sudah kita lihat amat dalam dan lebar. Namun yang terpenting adalah sebuah pesan besar yang harus kita sikapi bahwa menyambung persaudaraan adalah sebuah keniscayaan yang harus tetap kita jaga dan tentunya kita lestarikan karena hanya dengan semangat persaudaraan tersebut, Islam akan utuh dalam sebuah kekuatan besar dan perpecahan didalamnya bisa kita minimalisir . (tegelinang 2013)