Tak Berkategori

Pesta rakyat

Dimana-mana yang dibicarakan adalah pilkada, entah dengan nada menyanjung, menghina, menghasut dan bahkan bumbu-bumbu sedap kampanye di lumurkan untuk mencari simpati.

Saya adalah warga Indonesia dan keindonesiaan itu saya tunjukkan dengan gembira menyambut pesta rakyat ini, saya tidak mempedulikan omongan miring tentang si anu..omongan menyanjung tentang si anu…yang penting adalah saya menggunakan hak saya untuk mencari pemimpin yang tentu saja ideal menurut saya.

Sepertinya ada yang memanfaatkan pesta ini untuk kepentingan tertentu, misalnya..untuk menumpahkan sederet minuman yang sudah diisikan dalam gelas, menghabiskan menu-menu masakan khas yang terlihat enak, berkenalan dengan mereka yang baru dijumpainya, dan entah..saya kira masih banyak lagi motif mereka datang dan meramaikan pesta ini.

Tanpa disadari sebenarnya pesta ini cepat atau lambat pasti akan berakhir, namun saya melihat ada beberapa tamu yang tidak ingin pesta usai, ada bapak-bapak yang mencoba menyembunyikan beberapa perlengkapan, ada ibu-ibu yang masih kerasa di sofa, banyak anak muda yang enggan beranjak dari keasyikannya, sepertinya mereka lupa bahwa mereka harus pulang ke rumah dengan cerita indah di pesta.

Saya tidak banyak mengenal tamu disini, namun dari raut mereka saya bisa membaca ada beberapa tamu yang saling sindir perihal baju yang dipakai tamu lain, bahkan ada yang terus terang mengatakan tidak menyukai jenis makanan atau aksesoris yang dipakai di pesta ini.

Sepertinya saya harus mesem dengan tingkah genit para tamu, saya sendiri tidak makan banyak dan bahkan cenderung menikmati menu yang paling sederhana.

Melihat kondisi yang sudah semakin malam dan beberapa tamu sudah terlihat mabuk dan membanting kursi saya beranjak pulang dengan harapan besok pagi mereka melupakan malam ini dan kembali beraktifitas normal layaknya orang Indonesia yang mempunyai jiwa Bhineka Tunggal Ika. (tegelinang 2017 )

Tak Berkategori

Kumpulan RT

Kita boleh berbicara tentang politik kelas tinggi maupun menganalisa keadaan ekonomi bangsa ini yang konon katanya sedang terpuruk, biasanya saat sekerumunan orang pada duduk dalam satu majlis yang namanya eRTe mereka akan asyik dalam dunia analitik pragmatis.

Namun jangan lupa bahwa kumpulan eRTe bukanlah kumpulan yang berkewajiban untuk menjustis dengan menyalahkan orang-orang yang duduk diatas sana dengan segala kebijakan yang sulit dimengerti oleh orang desa seperti saya, hanya karena di rumah saya ada televisi 14 inch dan setiap harinya menyuguhkan berbagai berita yang terkadang sulit saya pahami namun dari situ semua mengalir dan membuat saya ( selain teman-teman saya tentunya) menjadi orang yang konon pandai untuk memilih yang benar maupun membuang muka untuk hal-hal yang kotor.

Perbincangan tentang gejolak di kota-kota besar malam itu menjadi topik yang sangat penting sekali di kumpulan eRTe dan bahkan sepertinya lebih penting dari acara gugur gunung minggu besok.

Sampai di rumah malam itu sekitar pukul 23.00 WIB dan sembari saya leyeh-leyeh di kursi rotan butut pikiran saya melayang kembali membayangkan kehebohan kumpulan eRTe tadi.

Saya berfikir “Seberapa penting kita mesti mencampuri urusan orang-orang dalam kotak berwarna itu?” dan saya tidak punya jawabannya kecuali bahwa tetangga-tetangga saya sekarang sudah bisa berpolitik dan ahli menganalisa keadaan yang terjadi di perkotaan daripada mereka semangat membangun kerukunan bergotong-royong.

Analisa saya bukanlah tanpa fakta, kecenderungan membangun kegotong-royongan dan persatuan sepertinya sedikit luntur dengan kecenderungan beberapa orang lebih suka membayar denda ketimbang ikut berpartisipasi kerja bakti,  dan anehnya merekalah yang paling mendominir bercerita tentang situasi politik kota-kota besar sembari paling gemar meminta bantuan ke Pemerintah bila mempunyai hajat bersama, menurut saya sikap meminta kepada siapapun ( walau ke Pemerintah) merupakan sikap yang kurang mandiri dan bahkan menjauhkan jiwa derma kita, karena tangan dibawah itu lebih hina daripada tangan diatas. (tegelinang 2016)

Esay

Tradisi Nglencer

Patutlah kita bersyukur kepada Tuhan untuk takdir kita dalam hidup ini menjadi orang Jawa. Konon orang jawa adalah termasuk umat yang istimewa dalam qodlo dan qodarnya, bagaimana tidak? pada setiap laku dan lelakunya manusia jawa ada terkadung sebuah nilai spiritual yang amat sangat tinggi, dimana mungkin kurang bisa didapatkan pada lelaku manusia di belahan dunia manapun termasuk di Arab sana yang notabene adalah tanah kelahiran budaya islam. Apalagi budaya jawa adalah budaya yang amat fleksibel untuk bisa di kawinkan dan di impelementasikan dalam budaya islam yang sangat agung itu, misalnya budaya jawa sangat mengenal rasa malu, menjunjung tinggi nilai sopan santun dan andap asor juga cenderung menjaga hubungan kekerabatan atau silaturrahmi, itu hanya sekelumit perilaku orang jawa dalam menjaga tradisi dan kebudayaannya dan masih banyak lagi tentunya jika ingin kita telusuri lagi. Berbicara menjaga hubungan kekerabatan tentunya tidak akan terlepas dari pesan Rosul SAW yang menekankan begitu pentingnya menjaga dan melestarikan lelaku ini sehingga beliau berpesan bahwa jika manusia ingin di lancarkan rezekinya, salah satunya adalah dengan melakukan budaya silaturrahmi ini. Ada sebuah rahasia besar didalam silaturrahmi dimana orang lain akan menjadi dianggap saudara dan menimbulkan sebuah kepercayaan di samping menjauhkan perasaan benci antar manusia. saya teringat ketika Nabi Muhammad bersilaturrahmi kepada penduduk Thoif waktu itu dan tanggapan dari masyarakatnya sangat ingkar dan Beliau hanya mendapatkan seorang pengikut yaitu Adas, namun karena sebuah perintah dari Tuhan untuk tetap bersilaturrahmi dan berdakwah maka Nabi Muhammad pun tidak lantaran menyerah dan putus asa walau lemparan kotoran dan batu Beliau terima dari penduduk Thoif saat itu dan walaupun hanya satu orang yang mau mendengar panggilan Beliau. Sudah menjadi tradisi turun temurun pada masyarakat Jawa setiap kali masuk Bulan syawal atau Iedul Fitri pastilah moment tersebut di gunakan untuk berkunjung ke sanak famili, saudara, handai taulan, Guru maupun ke teman-temannya. Setelah masyarakat jawa selesai menjalani ritual puasa sebulan penuh dan merasakan tingkat spiritualnya bertambah maka yang datang adalah perasaan bahagia dan suka cita yang kemudian menghadirkan keinginan untuk membagi kebahagiaan tersebut dengan orang lain, inilah awal mula tradisi Nglencer di jawa timur atau Ujung sebutan yang akrab di telinga orang jawa tengah. Masyarakat jawa akan dengan suka rela mendatangi kerabat, saudara, handai taulan maupun guru juga teman dekatnya dalam silaturrahmi Nglencer ini walaupun perjalanan yang di tempuh untuk sampai ke lokasi memerlukan waktu yang lama maupun medan yang cukup sulit. Saya teringat waktu masih kecil dahulu, saya sering diajak orang tua untuk berkunjung ke sanak famili keluarga saya yang cukup kjauh dan harus menempuh perjalanan kaki salama 2-3 jam namun waktu itu sungguh saya dapat merasakan sebuah perasaan yang amat sangat penuh suka cita. Ketika kita berbicara tentang Nglencer atau Ujung kedalam konteks kekinian tentulah pada masing-masing tempat akan kita dapati perbedaan yang amat mencolok, semisal kita memandang budaya perkotaan dalam impelementasi Nglencer tersebut di bandingkan dengan masyarakat yang masih di pedesaan. Mungkin masing-masing individu akan menemukan dan merasakan semangat silaturrahmi Nglencer pada level yang berbeda dan jika kita bandingkan zaman sekarang dengan zaman 60-70an maka tentulah jurang itu sudah kita lihat amat dalam dan lebar. Namun yang terpenting adalah sebuah pesan besar yang harus kita sikapi bahwa menyambung persaudaraan adalah sebuah keniscayaan yang harus tetap kita jaga dan tentunya kita lestarikan karena hanya dengan semangat persaudaraan tersebut, Islam akan utuh dalam sebuah kekuatan besar dan perpecahan didalamnya bisa kita minimalisir . (tegelinang 2013)

Cerpen

SERULINGKU

wid

Karman terus berjalan di tengah teriknya panas matahari yang menyengat ubun-ubunnya seakan matahari adalah sahabat dan teman setianya di setiap siang, sambil membawa sebuah keranjang seruling hasil karyanya dia singgah di perkampungan yang dilewati siang itu. Sesosok yang aku kagumi, itulah kalimat paling dalam setiap kali aku melihat lelaki tua itu singgah di kampungku. Dulunya Karman adalah seniman Kobro Siswo sebuah kesenian tradisionil yang cukup terkenal era 60an sampai 90an namun sekarang sudah kurang dikenal walau dibeberapa perkampungan masih ada yang melestarikannya. Karman selalu terampil membawakan lagu-lagu yang mengajak kepada keceriaan disamping pesan-pesan moral keagamaan lewat indah tiupan seruling setiap kali kobro siswo tampil menghibur masyarakat pada setiap akhir pekan masa itu namun sekarang tinggal kenangan saja.Sambil membuka bungkusan makan siangnya sebelum anak-anak kampung datang untuk mendengar kelihaiannya memainkan alat musik tiup itu sejenak Karman istirahat dibawah pohon trembesi tua yang berada tepat di pinggir kampungku, anak-anak kampung memang senang dengan sosok Karman yang ramah kepada siapapun, entah karena anak-anak itu ingin sekedar mendengar atau malah belajar namun ada satu atau dua dari mereka akan membeli hasil karya Karman tersebut dan Karman tidak akan pelit untuk mengajarkan apapun yang dia bisa karena dengan mengajarkan berarti dia telah memperoleh dua keuntungan, yang pertama anak-anak akan tertarik untuk memiliki kemudian terjadi proses negoisasi dan yang kedua dia merasa bahwa dengan mengajarkan ilmu meniup seruling berarti dia telah mewariskan budaya yang selama ini dia miliki dan tentu saja hal itu menjadikan hatinya merasa lega dan bangga. Istrinya hanyalah seorang pedagang gorengan yang bersedia keliling kampung untuk membantu ekonomi rumah tangganya yang pas-pasan karena Karman telah dikaruniai 3 orang anak yang kesemuanya laki-laki, yang paling besar hanya lulus SLTP dan sekarang ikut pamannya menjadi buruh bangunan di kampung-kampung sedangkan kedua adiknya masih berstatus pelajar di SD Negeri di kampungnya. Entah kenapa Karman selalu bangga dengan hasil usahanya itu yang secara ekonomi sangat pas-pasan dan kalau menilik secara kemakmuran materi mungkin Karman adalah salah satu dari sekian perumah tangga yang cukup jauh dari kesan layak, namun satu hal yang aku kagumi dari sosok Karman ini, beliau tidak pernah mengeluh walau kadang sedang dalam kekurangan, sebuah manusia langka di zaman modern ini. Kebanyakan aku menjumpai banyak keluh kesah dalam sebuah masyarakat miskin, apalagi menyangkut kecukupan hajat hidupnya dan Karman adalah pengecualian. Suatu ketika beliau bercerita kepadaku di sela-sela istirahatnya ” Saya bukan orang baik, namun saya hanya mencoba menjadi baik dan semuanya saya awali dengan penerimaan dan lapang dada dalam hidup, apa sich yang sebenarnya mereka cari? bukankah hidup itu hanya untuk menorehkan sebuah cerita yang harus direkam dan dituturkan kepada anak-cucu kita kelak?” dan saya tidak ingin ada cerita miring tentang saya yang menodai saya menjadi manusia”. Aku cukup kaget dengan tesis Karman tentang pandangan hidup ini, aku banyak melihat di televisi bahwa ketika ada kenaikan bahan bakar, bahan pangan mereka yang notabene ekonominya di atas rata-rata pada teriak dan merasa di anak tirikan dan beberapa pejabat negara juga PNS pasti akan segera menyusul kenaikan gaji mereka tapi sifat semacam itu tidak aku dapati dalam diri Karman.(bersambung)

Cerpen

INGE

Namanya Inge, janda 65 tahunan yang sudah senang sakit-sakitan namun kadang terlalu bersemangat menghadapi hidup. Sosok yang sudah jarang aku temui akhir-akhir ini, sebenarnya Inge tinggal dengan seorang cucunya yang masih kelas Enam EsDe dan sebentar lagi akan merasakan kelas tujuh, saat ditanya “mau ngelanjutin kemana?” cita-citanya sich masuk EsEmPe favorite di kota ini yang sekarang sudah sedikit sombong untuk menerima orang-orang dari desa yang cenderung kumuh walau secara nilai dan prestasinya tidak kalah dengan orang-orang kota, menjadi orang kota asyiknya hanya satu yaitu belajar harus di Bimbel terkenal dimana sang tutor atau guru bisa diajak diskusi dan curhat tentunya sedangkan di sekolahan mereka dihadapkan pada pencapaian prestasi, lainnya tidak. Tapi hebatnya adalah mereka yang belajar di Bimbel-bimbel ini selalu mendapat rangking di kelasnya, mungkin karena kurikulum Bimbel lebih canggih dari sekolahan formal. Inge mempunyai seorang anak perempuan yang masih bekerja sebagai TKW atau Tenaga Kerja Wanita di negeri sebelah, konon katanya sich menjadi babu pada majikan yang loyal disamping sangat kaya, walau kenyataan secara bulanan emaknya sicucu ini masih jarang mengirim wesel uang kepadanya sebagai bentuk tanggung jawab atas anaknya yang dititpkan kepadanya, namun Inge tidak pernah mengeluh dan menyerah dalam hidup, segala upaya akan ia usahakan untuk menghidupi keluarga kecil ini walau beban cukup berat harus ia tebus dan bayar seperti sedikit sakit-sakitan atau encoknya kumat, tapi halitu selalu dilakoninya dengan senyuman.oh ya, saya belum cerita tentang menantunya atau bapaknya si cucu dari Inge, menantunya ini dulu konon seorang kuli bangunan dari provinsi seberang yang sedang mengerjakan proyek jembatan sungai samping Dusunya yang rusak akibat diterjang banjir bandang 15 tahun silam tentu mereka datang atas permintaan dari sub kontraktor yang memenangkan tender dari pemerintah itu dan tentu saja dengan kelompoknya di sebuah CV Anu. Tapi sejarah kadang berlaku kejam ketika si cucu baru berumur 2 tahun, sang menantu ini harus boyong pindah untuk mengikuti CV Anu tadi keluar jawa mengerjakan mega proyek Entah sebagai konsekwensinya dan panggilan hidup tentunya namun sampai si Tole sudah hampir lulus EsDe si Bapak tak kunjung pulang untuk melihat buah cintanya ini dan seakan membiarkan Ibunya dan si nenek untuk merawat dan membesarkan karunia dari percintaannya, ironis memang. Inge patut bersukur karena ketika pemerintah membagikan Bantuan Langsung Sementara Masyarakat (BLSM) dirinya berhasil masuk data dan mendapatkan ‘Bebungah Rp.300.000,00 untuk sekali ambil yang dijelaskan bantuan sebesar itu adalah akumulasi dari tiap 2 Bulan dan ia akan menerima selama 3 tahap atau sama dengan 6 Bulan mendapatkan Bantuan langsung tersebut. Malam sebelum esoknya ia harus ke Kantor Pos untuk mengambil haknya yang telah Pemerintah berikan kepadanya ia didatangi oleh Bapak RT setempat yang membawa Linmas Dusun anak buahnya, singkat cerita Inge harus merelakan Rp.50.000,00 untuk tiap pengambilan BLSM untuk dikumpulkan di RT setempat yang konon akan diberikan kepada yang berhak menerima namun belum mendapatkan jatahnya. Inge tentu saja merasa sedikit keberatan dengan kebijakan Bapak RT yang di nilai sefihak dan mendadak pemberitahuannya, ” Lho pak RT khan tahu bahwa ini hak saya dan sebenarnya untuk saat ini saya sangat butuh uang tersebut dan apakah kebijakan Bapak ini sudah di musyawarahkan oleh pihak-pihak sang penerima dan mereka yang akan mendapatkan secuil potongan tersebut?”, kalimat itu mengalir begitu saja dari mulut Inge. Sepertinya Bapak RT kita ini sudah menyiapkan strategi untuk menjawab pertanyaan yang mungkin muncul, dengan cukup tajam Bapak RT berkata “Bu Inge, sampyan mendapatkan ini khan secara cuma-cuma dan bahwa masih banyak warga yang tidak komanan di kampung kita ini, sepertinya ndak salah saya membuat kebijakan tersebut demi kebersamaan kita”. Inge masih sedikit getir menyela ucapan Pak RT tadi ” Bukankah pemerintah masih menerima data yang di ajukan dari tingkat bawah dan bagaimana jika bulan depan yang mendapatkan secuil ini mendapatkan haknya secara penuh?”. Tampa basa-basi bapak RT langsung memotong kalimat Inge tadi, ” Sebenarnya mau ndak sih ibu Inge ini memberikan sedikit hak ibu untuk mereka?”. Kalimat ini sudah menyudutkan Inge dan terpaksa ia harus merelakan. Pagi itu suasana cerah sekali setelah semalam hujan cukup deras mengguyur kampung itu dan dengan senyum lebar inge menyambut kedatangan hari itu dengan gembira walau nantinya ia harus rela menyerahkan sebagian kecil haknya untuk orang lain. (tegelinang 2013)

Cerpen

AKU BUKAN PECUNDANG

IMG_20150809_112304Karman merasa teraniaya ketika beberapa orang pemuda dan juga kepala suku mendatanginya malam itu, Karman memang bukan warga asli di kampung itu namun toh dia telah membeli rumah dan pekarangan nya dari salah seorang warga kampung dengan cara yang benar, tidak ngapusi dan bahkan dia memberi sedikit sedekah kepada tetangga sekitar karena merasa dirinya diterima dengan baik di kampung itu. Namun ternyata ada hal yang kurang warga kampung sukai darinya, entah karena iri atau memang itu semacam hukum adat yang berlaku, Karman sebenarnya belum menikah namun karena faktor wajah dan karirnya yang lumayan membuat dia dengan mudah mencari cinta walaupun Karman bukan tipe play boy dalam arti sesungguhnya, dia adalah sang pemuja cinta dan kesetiaan, Namun malam itu dia merasa apes dan jengkel setengah mati dengan beberapa warga kampung yang seakan sengaja memprovokasi lainnya untuk tidak peduli bahkan membenci dirinya. Seakan-akan harga dirinya malam itu diinjak-injak sepatu yang sangat luar biasa besarnya dan Karman hanya bisa pasrah mendengar banyak cercaan pertanyaan yang mendera dan menyudutkannya seakan dia adalah maling atau pecundang yang tertangkap kemudian patut untuk di justic tanpa diberi kesempatan untuk membela diri, “ini miring dan tidak mendidik” bisiknya dalam hati.
Kejadiannya kira-kira pukul tujuh malam ketika Karman dan kekasihnya sedang asyik berduaan dikamar dan tidak mengunci pintu depan, kemudian datanglah empat pemuda yang langsung menyelonong masuk tanpa kulanuwun maupun permisi kepada sang empunya rumah yaitu Karman, tentu saja insiden ini membuat gelagap Karman yang waktu itu tidak mengenakkan sehelai benangpun di tubuhnya begitu juga dengan si pujaan hati.
Selepas itu datang tetua adat kampung dan beberapa lainnya yang langsung memvonis Karman dan sang kekasih yang kemudian mereka berdua dipaksa menandatangani sebuah surat yang tak pernah dia baca dulu karena ketakutan yang amat sangat, padahal isi surat tersebut merupakan pengusiran Karman dan pujaannya dari kampung itu.
Karman yang karena ketakutan dan rasa berdosa hanya pasrah saja tanpa bermaksud membela diri maupun melaporkan kejadian yang merugikannya ke kepolisian karena sebenarnya dia masih sayang kepada warga kampung yang notabene telah menjadi tetangganya walau baru beberapa bulan saja, Karman menyadari kesalahannya, memang bukan sesuatu yang patut dia membawa kekasihnya kerumah sedangkan hubungan mereka belum sampai kepada pernikahan resmi. Harga yang harus Karman bayar merupakan pil pahit yang jelas-jelas dipaksa untuk ditelan dan dirasakan mencabik-cabik ususnya yang kemudian meninggalkan aroma tidak sedap dan warna hitam kecokelatan. Beberapa gelintir pemuda membahas tentang pengusiran secara halus itu dengan kata lain ada beberapa pemuda yang menyadari penghilangan hak seseorang yang hak itu merupakan hak yang sah secara hukum, beberapa pemuda itu menyayangkan sikap arogan dari para tetua kampung dan beberapa teman mereka namun nasi telah menjadi bubur. Diantara pembahasan kecil tentang insiden Karman tersebut adalah bunyi surat pernyataan yang dibuat oleh tetua kampung yang menyebutkan: Karman dan kekasihnya tidak boleh menempati rumah tersebut sebelum mereka berdua menikah secara resmi, padahal rumah itu adalah rumahnya sendiri mengapa Karman harus dihadapkan kepada pilihan sulit yaitu menikah dulu baru bisa menempati rumah tersebut. Secara administrasi bukti bahwa Karman telah menjadi warga juga sudah diproses dikelurahan dan kecamatan di mana dia akan tinggal, lalu mengapa hanya sebab bercinta dengan kekasih yang didasari suka sama suka menyebabkan dia harus mencari rumah sementara untuk dia tinggali? Karman hanya bisa pasrah, malam itu juga dia dan kekasihnya meninggalkan rumah dan barang-barang didalamnya yang tak bisa ia bawa malam itu. Entah kapan dia bisa menempatinya kembali sementara waktu biarkan dia berfikir dalam ketenangan dan rasa dosa akibat dari perbuatannya. (tegelinang 2013)

Esay

THE PROBLEM IS WITH THE POOR

R.SholihinThe poor must be faced on some social issues, especially concerning daily life and human interaction to the general, how they should always accept decisions and policies made by the government, especially local or tribal chief that the policy even less favorable their position.This is less problematic in the notice and most of the poor was in silent voice at meetings involving their existence or even if there are able to issue its opinion, of course, this opinion will not be used or even put in a serious discussion. Recently as an observer of social and environmental issues I was invited to a meeting at the village level where the meeting is to discuss about a program of the government in the form of cash transfers to the public because the government raised fuel prices or compensation of fuel price hike the, turned out at the meeting was only attended by a few leaders of households that in fact not from the poor. The meeting discussed a number of issues about the delivery of cash assistance from the government that goes into all of the hamlet in my village, in this case probably because it was felt by the village head that help the less wear to the category of the poor and even those who are actually poor do not even get help compensate . In this case, as head of the hamlet had to be able to accommodate some of the elders of the opinion that everything can run a conducive and without any protest of the poor who do not or have not received the government assistance, but I’m very sorry this is why the poor are set out in the government’s subpoena recipient compensatory increase in fuel prices is not at the meeting and engage in a more disheartening is the unilateral decision of the head of the village to cut a few percent of the cash assistance the reason will be given to those who should receive similar assistance but do not get or do not get it. A little secret that readers should know that the poor are the beneficiaries get help in just 6 months and taken on three stages, each stage in the form of accumulation of 2 months which means they get the assistance for 3 X. In one decision they earn cash RP. 300,000.00, equivalent to USD 30, or they are specific they get help around USD 15 in one month. Actually help stimulant sebesaritu only been absent on the logic given the consequences of rising fuel prices are rising in line all food prices and the poor once again become victims of government policy. I then asked some questions to the head of the hamlet including “Have A village chief have data at the level of the poor Hamlet?, And whether cutting a few percent is able to solve problems and not even cause a few problems again?. Then the government would not also receive input from the public about the program that is to receive a new proposal on the receiver? , As the head of the village should be followed by a pro-active stance rather than solving the problems society by creating new problems. Assertion and guardianship forms are necessary and actually a word will be able to defuse social unrest if the words are exact and delivered with a vengeance than full guardianship wrapped in beauty and the fate of other people’s thinking. I did not have the right and not the capacity to decide the results and conclusions on the actions and policies of the meeting that night, but I hope that in the future the pamangku power at any level would want to hear the voice of the community and involve the bottom at each meeting to discuss their fate, the average people who are members of society are not well off financially. (tegelinang 2013)