ANAK-ANAK SEMESTA

anak

CILIK

ithma

justin bMembicarakan tentang manusia takkan terlepas daripada eksistensi mereka di dunia ini, namun memang masih menjadi suatu misteri bahwa sebenarnya manusia itu siapa. Seorang ahli keagamaan akan memberikan banyak hujjah bahwa manusia itu sebuah kehendak dan keberadaan mereka mesti di topang dengan ritual sakral suatu perkawinan. Namun disisi lain banyak pendapat mengenai hal ini terutama dari kaum materiialisme bahwa keberadaan manusia itu melewati sebuah proses panjang kehidupan yang bernama evolusi dan pendapat ini juga bukan cuma isapan jempol belaka, ada pembuktian secara ilmiyah dan sampai sekarangpun banyak ditemukan situs-situs tentang perjalanan kehidupan menjadi manusia. Lalu kita bertanya, mana yang benar? lagi-lagi memang kita harus bersikap profesional dalam masalah ini, kita tidak boleh menyalahkan argumen para cendekia agama maupun pelaku sains. Saya pernah membaca bukunya Dr Maurice Bouchaile dari Perancis yang berpendapat bahwa skenario Tuhan lewat big bang adalah sebuah kebenaran, artinya adalah bahwa Tuhan juga harus mempunyai alasan yang rasional untuk menciptakan sebuah kehidupan, walaupun akhirnya Tuhan merumuskan tahapan-tahapannya melalui kitab suci yang di bawa oleh sang pencerah utusanNYA. Khalil Ghibran melalui puisi-puisinya yang konon sudah mendekati frase tingkat kitab suci perjanjian lama menggambarkan dengan apik tentang keberadaan anak-anak di dunia ini, bahwa “Anak-anakmu bukanlah anak-anakmu, mereka adalah putera-puteri kehidupan yang rindu akan dirinya sendiri, kau yang melahirkannya tapi bukan darimu, kau bisa merumahkan raga-raganya tapi bukan jiwanya sebab jiwa mereka adalah milik masa depan yang tidak dapat kau sambangi sekalipun dalam impian….dan seterusnya. Kita mencoba menggali sebuah makna dari sang penyair Lebanon ini betapa seorang anak memang kadang terasa bisa kita sulit membentuknya, padahal secara rasional bahwa mereka ada pada kita sejak masih dikandungan namun mengapa ketika mereka sudah beranjak dewasa kadang kita kesulitan untuk membentuknya. Hal ini memang tidak bisa kita pungkiri bersama bahwa penciptaan itu bukan sekedar jasmani namun penciptaan rohani memegang peranan yang sangat besar. Secara jasmani bolehlah kita berkiblat pada teori evolusi namun keberadaan Tuhan tentu saja ada disini. Proses penciptaan selama 6 hari ( Enam periode) juga menggambarkan bahwa kehidupan itu selalu berevolusi. Lalu apakah pemikiran-pemikiran kita terhadap masa depan dunia bisa mengakibatkan kemandegan berevolusi? yang terpenting adalah marilah kita bersama-sama membentuk jiwa-jiwa bersih melalui saringan agama dan tanamkan pada anak-anak kita walau sebenarnya mereka adalah anak-anak kehidupan yang melalui tanggung jawab kita. (tegelinang 5/2013)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s