BUDAYA HUMANISME MASYARAKAT JAWA

IMG_20150918_171611Sebagai masyarakat jawa terutama jawa tengah tentunya kita tidak asing lagi dengan sebuah kultur untuk menyambut bulan suci bernama Ramadhan, mengapa bulan ini disebut bulan suci dan siapa sajakah yang menyucikan bulan ini?. yang namanya Kultur atau budaya adalah sebuah produk dari olahan perjalanan akal budi manusia dalam memandang hal tertentu kemudian mengaktualisasisi ke dalam kehidupan real yang dimana masyarakatnya akan lebih mudah menerima dan menjalankan hasil olahan dari akal budi tersebut yang kemudian aktualisasi tersebut menjelma menjadi sebuah budaya. Berbicara mengenai budaya yang bersumber dari hasil olahan akal budi ini tentunya kita akan dihadapkan pada beberapa sudut pandang masyarakat atau golongan lain untuk mengklaim kebenaran dan atau kesesatannya namun ketika kita meletakkan konteks tersebut pada point of view ( sudut pandang) secara universal maka yang disebut dengan budaya yang baik adalah ketika tidak adanya sebuah pemaksaan dan nilai kerugian didalamnya tak terkecuali sebuah budaya untuk menyambut bulan Ramadhan di tanah jawa. Mungkin karena bulan Ramadhan sangat diyakini adalah bulan yang penuh berkah , karomah dan maghfiroh maka sebagai masyarakat yang juga meyakini akan adanya nilai sebuah kesucian di dalamnya kemudian mereka melahirkan sebuah budaya ritual untuk menyambut kedatangan bulan agung tersebut, sebut saja yang terjadi di daerah Magelang terutama Muntilan pasti akan dengan mudahnya menemukan Budaya Nyadran/Sadranan pada bulan Sya’ban, ketika kita menilik dari konteks islam maka kita pasti tidak akan menemukan sebuah dalilpun untuk mengesahkan budaya Sadranan tersebut kedalam ajaran islam, namun dalil untuk melegitimasinya adalah bahwa manusia itu di tuntut untuk berbuat baik/Birr terhadap orang tuanya dan salah satunya adalah mendoakan kebajikan kepada mereka. Lalu apa hubungannya perbuatan baik dan Ramadhan?, Seperti yang telah kita ketahui bahwa bulan Ramadhan adalah bulan yang suci maka untuk menyambut dan memasuki kesucian tersebut tentunya dibutuhkan hati yang suci diantaranya dengan sebuah cara yaitu kita mendoakan kerabat, saudara dan terlebih lagi orang tua kita. Saya masih ingat dulu ketika saya masih kecil acara sadranan tersebut pasti di gelar di area pemakaman namun sekarang kebanyakan saya menjumpai acara tersebut di laksanakan di area masjid walaupun masih banyak masyarakat menjalankan acara sadranan tersebut di makam-makam.Sebagai tindak lanjut pasca sadranan adalah dimana menjelang satu hari sebelum puasa Ramadhan di laksanakan terdapat sebuah kultur masyarakat tamanagung terutama dusun Bludru Desa Tamanagung sampai sekarang masih ada semacam ritual saling memaafkan antara anggota keluarga dan tetangganya hal ini dilakukan untuk lebih bisa menjalankan Puasa Ramadhan dengan penuh keikhlasan tanpa adanya kecemasan karena mendapati sebuah titik kecil hitam penghalang hubungan horisontalnya, ritual saling memaafkan tersebut biasanya digelar menjelang Padusan dan tepat hari Padusan atau mandi sunat memasuki tanggal satu Ramadhan, mereka akan meminta maaf dengan cara mengajak bersalaman ketika saling berpapasan di jalan maupun dengan rela bersilaturrahmi mendatangi rumah-rumahnya. Mari kita kembangkan dan lestarikan sebuah budaya tanpa harus mencederai agama kita sendiri walaupun tanpa ada dalil naqlinya karena kita sebenarnya telah diberi kekuatan untuk mengklaim Haq dan Bathil melalui pemberian Tuhan bernama akal karena saya yakin bahwa rasa saling menyalahkan hanya akan menjadikan perpecahan dan kehancuran disamping kita akan menjadi miskin budaya.(tegelinang 2013)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s