KEGELISAHAN RAMADHAN

Seperti tahun-tahun lalu, setiap akan memasuki bulan suci Ramadhan hati ini selalu tak karuan dirasa, disamping ada kegembiraan yang meluap-luap namun terkontaminasi juga dengan sedikit perasaan getir yang menyelinap dan menjalar memasuki sanubari. Sebuah perasaan yang amat kuat meronta dan membuat gelisah sehingga tidak jarang sampai membuat aku terpekur sendiri di malam-malam yang smakin sunyi, menjerit dan memohon adalah kebiasaanku dikala menghadapi hal semacam ini namun diriku cenderung lalai tatkala mendapatkan sebuah pemberian yang bisa memalingkan hati dari rasa kecil dan tidak berdaya. Terkadang Tuhan memang aneh, sepertinya ada saja sebuah teka-teki yang harus dipecahkan agar aku semakin memahami kekerdilanku dahadapnNYA dan menjadikan Keluasan dan KeagunganNYA nampak sangat tak terbatas. Bukan karena aku memang terlahir sebagai orang yang miskin materi dan mengagumi segala pesona kanan-kiriku yang memang wah, aku sudah tidak gumun dengan gemebyar kemewahan dan fasilitas juga pangkat seseorang, semua telah cukup lama aku pahami bahwa manusia yang menumpuk hartanya atau bermewah-mewah dalam foya hanya akan menemui keterpencilan jiwa, kesenangan sesaat yang harus di bayar mahal oleh sebuah ketergantungan, jika sebagian nikmat mereka itu di cabut atau katakanlah mereka itu mendapatkan musibah yang menjadikan perekonomiannya pailit maka kebanyakan aku menemukan jiwa mereka yang tidak lebih besar daripada bulir padi. aku pernah belajar tentang sebuah teori kemelekatan dunia dan bahwa jika manusia sudah mencintai sedemikian rupa dan melahirkan kemelekatan maka mereka hanya menemukan kekosongan karena rasa bahagia dan gembira itu tidak abadi atau dengan kata lain hanya mampir sesaat. Ramadhan dan Puasa adalah salah satu penyadaran tertinggi yang diberikan kepada manusia, bagaimana sebuah perilaku kehidupan dirubah dan di charger selama 29-30 ( 1 Bulan) lamanya. Inilah yang membuat perasaanku tadi menjadi gelisah namun dipenuhi kegembiraan. Ada sebuah hal yang cukup menyenangkan dan banyak kita petik hikmahnya pada setiap Ramadhan walaupun kecenderungan banyak umat islam melupakan setelahnya yaitu fakta bahwa ada sebuah ajaran agung untuk saling berinteraksi dan memahamim lingkungan dimana engkau berada, kepedulian sosial sangat mendominir dalam Ramadhan dengan cara banyak-banyak memberi sedekah sehingga Tuhan sampai membuat Tantangan dengan mengatakan bahwa barang siapa bersedekah di bulan suci ini niscaya akan dilipat gandakan pahalanya, tetapi kebanyakan yang aku jumpai di banyak kalangan masyarakat bahwa sedekah mereka hanya mengharapkan imbalan belaka dari Tuhan dan mereka belum cukup memahami akan sebuah ajaran dan bahwa tantangan itu harus mereka laksanakan walau bukan di bulan suci Ramadhan. Manusia merupakan makhluk yang paling sempurna karena itu Tuhan harus memberikan pengertian kesempurnaan itu melalui berbagai cara dan saya yakin agama apa saja selalu mengajarkan teori kesempurnaan Tuhan dan konsep betapa pentingnya kepedulian sosial itu. Tuhan memang maha Misterius dengan konsepnya namun sebagai manusia berakal aku selalu mencoba bersyukur bahwa Tuhan akan selalu mengetuk hatiku dan mengingatkanku kembali setiap Bulan Ramadhan akan aku masuki, inilah kegelisahan dan rasa bahagiaku ” Marhaban Yaa Ramadhan “.(tegelinang 2013/1434 H)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s