AKU BUKAN PECUNDANG

IMG_20150809_112304Karman merasa teraniaya ketika beberapa orang pemuda dan juga kepala suku mendatanginya malam itu, Karman memang bukan warga asli di kampung itu namun toh dia telah membeli rumah dan pekarangan nya dari salah seorang warga kampung dengan cara yang benar, tidak ngapusi dan bahkan dia memberi sedikit sedekah kepada tetangga sekitar karena merasa dirinya diterima dengan baik di kampung itu. Namun ternyata ada hal yang kurang warga kampung sukai darinya, entah karena iri atau memang itu semacam hukum adat yang berlaku, Karman sebenarnya belum menikah namun karena faktor wajah dan karirnya yang lumayan membuat dia dengan mudah mencari cinta walaupun Karman bukan tipe play boy dalam arti sesungguhnya, dia adalah sang pemuja cinta dan kesetiaan, Namun malam itu dia merasa apes dan jengkel setengah mati dengan beberapa warga kampung yang seakan sengaja memprovokasi lainnya untuk tidak peduli bahkan membenci dirinya. Seakan-akan harga dirinya malam itu diinjak-injak sepatu yang sangat luar biasa besarnya dan Karman hanya bisa pasrah mendengar banyak cercaan pertanyaan yang mendera dan menyudutkannya seakan dia adalah maling atau pecundang yang tertangkap kemudian patut untuk di justic tanpa diberi kesempatan untuk membela diri, “ini miring dan tidak mendidik” bisiknya dalam hati.
Kejadiannya kira-kira pukul tujuh malam ketika Karman dan kekasihnya sedang asyik berduaan dikamar dan tidak mengunci pintu depan, kemudian datanglah empat pemuda yang langsung menyelonong masuk tanpa kulanuwun maupun permisi kepada sang empunya rumah yaitu Karman, tentu saja insiden ini membuat gelagap Karman yang waktu itu tidak mengenakkan sehelai benangpun di tubuhnya begitu juga dengan si pujaan hati.
Selepas itu datang tetua adat kampung dan beberapa lainnya yang langsung memvonis Karman dan sang kekasih yang kemudian mereka berdua dipaksa menandatangani sebuah surat yang tak pernah dia baca dulu karena ketakutan yang amat sangat, padahal isi surat tersebut merupakan pengusiran Karman dan pujaannya dari kampung itu.
Karman yang karena ketakutan dan rasa berdosa hanya pasrah saja tanpa bermaksud membela diri maupun melaporkan kejadian yang merugikannya ke kepolisian karena sebenarnya dia masih sayang kepada warga kampung yang notabene telah menjadi tetangganya walau baru beberapa bulan saja, Karman menyadari kesalahannya, memang bukan sesuatu yang patut dia membawa kekasihnya kerumah sedangkan hubungan mereka belum sampai kepada pernikahan resmi. Harga yang harus Karman bayar merupakan pil pahit yang jelas-jelas dipaksa untuk ditelan dan dirasakan mencabik-cabik ususnya yang kemudian meninggalkan aroma tidak sedap dan warna hitam kecokelatan. Beberapa gelintir pemuda membahas tentang pengusiran secara halus itu dengan kata lain ada beberapa pemuda yang menyadari penghilangan hak seseorang yang hak itu merupakan hak yang sah secara hukum, beberapa pemuda itu menyayangkan sikap arogan dari para tetua kampung dan beberapa teman mereka namun nasi telah menjadi bubur. Diantara pembahasan kecil tentang insiden Karman tersebut adalah bunyi surat pernyataan yang dibuat oleh tetua kampung yang menyebutkan: Karman dan kekasihnya tidak boleh menempati rumah tersebut sebelum mereka berdua menikah secara resmi, padahal rumah itu adalah rumahnya sendiri mengapa Karman harus dihadapkan kepada pilihan sulit yaitu menikah dulu baru bisa menempati rumah tersebut. Secara administrasi bukti bahwa Karman telah menjadi warga juga sudah diproses dikelurahan dan kecamatan di mana dia akan tinggal, lalu mengapa hanya sebab bercinta dengan kekasih yang didasari suka sama suka menyebabkan dia harus mencari rumah sementara untuk dia tinggali? Karman hanya bisa pasrah, malam itu juga dia dan kekasihnya meninggalkan rumah dan barang-barang didalamnya yang tak bisa ia bawa malam itu. Entah kapan dia bisa menempatinya kembali sementara waktu biarkan dia berfikir dalam ketenangan dan rasa dosa akibat dari perbuatannya. (tegelinang 2013)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s