INGE

Tanah Longsor

Namanya Inge, janda 65 tahunan yang sudah senang sakit-sakitan namun kadang terlalu bersemangat menghadapi hidup. Sosok yang sudah jarang aku temui akhir-akhir ini, sebenarnya Inge tinggal dengan seorang cucunya yang masih kelas Enam EsDe dan sebentar lagi akan merasakan kelas tujuh, saat ditanya “mau ngelanjutin kemana?” cita-citanya sich masuk EsEmPe favorite di kota ini yang sekarang sudah sedikit sombong untuk menerima orang-orang dari desa yang cenderung kumuh walau secara nilai dan prestasinya tidak kalah dengan orang-orang kota, menjadi orang kota asyiknya hanya satu yaitu belajar harus di Bimbel terkenal dimana sang tutor atau guru bisa diajak diskusi dan curhat tentunya sedangkan di sekolahan mereka dihadapkan pada pencapaian prestasi, lainnya tidak. Tapi hebatnya adalah mereka yang belajar di Bimbel-bimbel ini selalu mendapat rangking di kelasnya, mungkin karena kurikulum Bimbel lebih canggih dari sekolahan formal. Inge mempunyai seorang anak perempuan yang masih bekerja sebagai TKW atau Tenaga Kerja Wanita di negeri sebelah, konon katanya sich menjadi babu pada majikan yang loyal disamping sangat kaya, walau kenyataan secara bulanan emaknya sicucu ini masih jarang mengirim wesel uang kepadanya sebagai bentuk tanggung jawab atas anaknya yang dititpkan kepadanya, namun Inge tidak pernah mengeluh dan menyerah dalam hidup, segala upaya akan ia usahakan untuk menghidupi keluarga kecil ini walau beban cukup berat harus ia tebus dan bayar seperti sedikit sakit-sakitan atau encoknya kumat, tapi halitu selalu dilakoninya dengan senyuman.oh ya, saya belum cerita tentang menantunya atau bapaknya si cucu dari Inge, menantunya ini dulu konon seorang kuli bangunan dari provinsi seberang yang sedang mengerjakan proyek jembatan sungai samping Dusunya yang rusak akibat diterjang banjir bandang 15 tahun silam tentu mereka datang atas permintaan dari sub kontraktor yang memenangkan tender dari pemerintah itu dan tentu saja dengan kelompoknya di sebuah CV Anu. Tapi sejarah kadang berlaku kejam ketika si cucu baru berumur 2 tahun, sang menantu ini harus boyong pindah untuk mengikuti CV Anu tadi keluar jawa mengerjakan mega proyek Entah sebagai konsekwensinya dan panggilan hidup tentunya namun sampai si Tole sudah hampir lulus EsDe si Bapak tak kunjung pulang untuk melihat buah cintanya ini dan seakan membiarkan Ibunya dan si nenek untuk merawat dan membesarkan karunia dari percintaannya, ironis memang. Inge patut bersukur karena ketika pemerintah membagikan Bantuan Langsung Sementara Masyarakat (BLSM) dirinya berhasil masuk data dan mendapatkan ‘Bebungah Rp.300.000,00 untuk sekali ambil yang dijelaskan bantuan sebesar itu adalah akumulasi dari tiap 2 Bulan dan ia akan menerima selama 3 tahap atau sama dengan 6 Bulan mendapatkan Bantuan langsung tersebut. Malam sebelum esoknya ia harus ke Kantor Pos untuk mengambil haknya yang telah Pemerintah berikan kepadanya ia didatangi oleh Bapak RT setempat yang membawa Linmas Dusun anak buahnya, singkat cerita Inge harus merelakan Rp.50.000,00 untuk tiap pengambilan BLSM untuk dikumpulkan di RT setempat yang konon akan diberikan kepada yang berhak menerima namun belum mendapatkan jatahnya. Inge tentu saja merasa sedikit keberatan dengan kebijakan Bapak RT yang di nilai sefihak dan mendadak pemberitahuannya, ” Lho pak RT khan tahu bahwa ini hak saya dan sebenarnya untuk saat ini saya sangat butuh uang tersebut dan apakah kebijakan Bapak ini sudah di musyawarahkan oleh pihak-pihak sang penerima dan mereka yang akan mendapatkan secuil potongan tersebut?”, kalimat itu mengalir begitu saja dari mulut Inge. Sepertinya Bapak RT kita ini sudah menyiapkan strategi untuk menjawab pertanyaan yang mungkin muncul, dengan cukup tajam Bapak RT berkata “Bu Inge, sampyan mendapatkan ini khan secara cuma-cuma dan bahwa masih banyak warga yang tidak komanan di kampung kita ini, sepertinya ndak salah saya membuat kebijakan tersebut demi kebersamaan kita”. Inge masih sedikit getir menyela ucapan Pak RT tadi ” Bukankah pemerintah masih menerima data yang di ajukan dari tingkat bawah dan bagaimana jika bulan depan yang mendapatkan secuil ini mendapatkan haknya secara penuh?”. Tampa basa-basi bapak RT langsung memotong kalimat Inge tadi, ” Sebenarnya mau ndak sih ibu Inge ini memberikan sedikit hak ibu untuk mereka?”. Kalimat ini sudah menyudutkan Inge dan terpaksa ia harus merelakan. Pagi itu suasana cerah sekali setelah semalam hujan cukup deras mengguyur kampung itu dan dengan senyum lebar inge menyambut kedatangan hari itu dengan gembira walau nantinya ia harus rela menyerahkan sebagian kecil haknya untuk orang lain. (tegelinang 2013)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s