SERULINGKU

wid

Karman terus berjalan di tengah teriknya panas matahari yang menyengat ubun-ubunnya seakan matahari adalah sahabat dan teman setianya di setiap siang, sambil membawa sebuah keranjang seruling hasil karyanya dia singgah di perkampungan yang dilewati siang itu. Sesosok yang aku kagumi, itulah kalimat paling dalam setiap kali aku melihat lelaki tua itu singgah di kampungku. Dulunya Karman adalah seniman Kobro Siswo sebuah kesenian tradisionil yang cukup terkenal era 60an sampai 90an namun sekarang sudah kurang dikenal walau dibeberapa perkampungan masih ada yang melestarikannya. Karman selalu terampil membawakan lagu-lagu yang mengajak kepada keceriaan disamping pesan-pesan moral keagamaan lewat indah tiupan seruling setiap kali kobro siswo tampil menghibur masyarakat pada setiap akhir pekan masa itu namun sekarang tinggal kenangan saja.Sambil membuka bungkusan makan siangnya sebelum anak-anak kampung datang untuk mendengar kelihaiannya memainkan alat musik tiup itu sejenak Karman istirahat dibawah pohon trembesi tua yang berada tepat di pinggir kampungku, anak-anak kampung memang senang dengan sosok Karman yang ramah kepada siapapun, entah karena anak-anak itu ingin sekedar mendengar atau malah belajar namun ada satu atau dua dari mereka akan membeli hasil karya Karman tersebut dan Karman tidak akan pelit untuk mengajarkan apapun yang dia bisa karena dengan mengajarkan berarti dia telah memperoleh dua keuntungan, yang pertama anak-anak akan tertarik untuk memiliki kemudian terjadi proses negoisasi dan yang kedua dia merasa bahwa dengan mengajarkan ilmu meniup seruling berarti dia telah mewariskan budaya yang selama ini dia miliki dan tentu saja hal itu menjadikan hatinya merasa lega dan bangga. Istrinya hanyalah seorang pedagang gorengan yang bersedia keliling kampung untuk membantu ekonomi rumah tangganya yang pas-pasan karena Karman telah dikaruniai 3 orang anak yang kesemuanya laki-laki, yang paling besar hanya lulus SLTP dan sekarang ikut pamannya menjadi buruh bangunan di kampung-kampung sedangkan kedua adiknya masih berstatus pelajar di SD Negeri di kampungnya. Entah kenapa Karman selalu bangga dengan hasil usahanya itu yang secara ekonomi sangat pas-pasan dan kalau menilik secara kemakmuran materi mungkin Karman adalah salah satu dari sekian perumah tangga yang cukup jauh dari kesan layak, namun satu hal yang aku kagumi dari sosok Karman ini, beliau tidak pernah mengeluh walau kadang sedang dalam kekurangan, sebuah manusia langka di zaman modern ini. Kebanyakan aku menjumpai banyak keluh kesah dalam sebuah masyarakat miskin, apalagi menyangkut kecukupan hajat hidupnya dan Karman adalah pengecualian. Suatu ketika beliau bercerita kepadaku di sela-sela istirahatnya ” Saya bukan orang baik, namun saya hanya mencoba menjadi baik dan semuanya saya awali dengan penerimaan dan lapang dada dalam hidup, apa sich yang sebenarnya mereka cari? bukankah hidup itu hanya untuk menorehkan sebuah cerita yang harus direkam dan dituturkan kepada anak-cucu kita kelak?” dan saya tidak ingin ada cerita miring tentang saya yang menodai saya menjadi manusia”. Aku cukup kaget dengan tesis Karman tentang pandangan hidup ini, aku banyak melihat di televisi bahwa ketika ada kenaikan bahan bakar, bahan pangan mereka yang notabene ekonominya di atas rata-rata pada teriak dan merasa di anak tirikan dan beberapa pejabat negara juga PNS pasti akan segera menyusul kenaikan gaji mereka tapi sifat semacam itu tidak aku dapati dalam diri Karman.(bersambung)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s