Kumpulan RT

Kita boleh berbicara tentang politik kelas tinggi maupun menganalisa keadaan ekonomi bangsa ini yang konon katanya sedang terpuruk, biasanya saat sekerumunan orang pada duduk dalam satu majlis yang namanya eRTe mereka akan asyik dalam dunia analitik pragmatis.

Namun jangan lupa bahwa kumpulan eRTe bukanlah kumpulan yang berkewajiban untuk menjustis dengan menyalahkan orang-orang yang duduk diatas sana dengan segala kebijakan yang sulit dimengerti oleh orang desa seperti saya, hanya karena di rumah saya ada televisi 14 inch dan setiap harinya menyuguhkan berbagai berita yang terkadang sulit saya pahami namun dari situ semua mengalir dan membuat saya ( selain teman-teman saya tentunya) menjadi orang yang konon pandai untuk memilih yang benar maupun membuang muka untuk hal-hal yang kotor.

Perbincangan tentang gejolak di kota-kota besar malam itu menjadi topik yang sangat penting sekali di kumpulan eRTe dan bahkan sepertinya lebih penting dari acara gugur gunung minggu besok.

Sampai di rumah malam itu sekitar pukul 23.00 WIB dan sembari saya leyeh-leyeh di kursi rotan butut pikiran saya melayang kembali membayangkan kehebohan kumpulan eRTe tadi.

Saya berfikir “Seberapa penting kita mesti mencampuri urusan orang-orang dalam kotak berwarna itu?” dan saya tidak punya jawabannya kecuali bahwa tetangga-tetangga saya sekarang sudah bisa berpolitik dan ahli menganalisa keadaan yang terjadi di perkotaan daripada mereka semangat membangun kerukunan bergotong-royong.

Analisa saya bukanlah tanpa fakta, kecenderungan membangun kegotong-royongan dan persatuan sepertinya sedikit luntur dengan kecenderungan beberapa orang lebih suka membayar denda ketimbang ikut berpartisipasi kerja bakti,  dan anehnya merekalah yang paling mendominir bercerita tentang situasi politik kota-kota besar sembari paling gemar meminta bantuan ke Pemerintah bila mempunyai hajat bersama, menurut saya sikap meminta kepada siapapun ( walau ke Pemerintah) merupakan sikap yang kurang mandiri dan bahkan menjauhkan jiwa derma kita, karena tangan dibawah itu lebih hina daripada tangan diatas. (tegelinang 2016)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s