Cerpen

Manusia Sederhana

Dia datang kepada saya dengan pakaian serba putih, bersarung putih, berpeci putih, dan mengenakan pakaian lengan panjang putih hanya tasnya saja yang berwarna kecoklatan  yang sepertinya sudah lama ia bawa, sore itu saya sedang minum secangkir kopi pahit buatan istriku sehabis pulang dari ladang untuk memanen umbi ketela rambat sepagi tadi, lelahku hari ini sepertinya sebuah berkah tersendiri karena aku merasakan sebuah kenikmatan damai yang tiada tara melihat ketela rambat sebesar lengan orang dewasa yang aku peneni bersama istri dan kedua mertuaku, oh ya anak sulungku Bahar juga ikut dalam kemeriahan panen setelah kami menunggu hampir tujuh bulan lamanya.

Tamu itu datang mengucapkan salam dan yang kulihat pertama kali adalah mimik mukanya seperti sedang memendam masalah yang serius, aku mempersilahkan dia untuk duduk di kursi rotan tua setelah kujawab salamnya, aku meminta istriku untuk membuatkan secangkir teh manis ketika dia menolak untuk minum kopi pahit seperti aku.

“Apa gerangan yang membuat saudara datang kesini?” sapaku pelan setelah ku seruput kopi tumbukan hasil tanaman pekarangan di kampung kami, selain berladang orang-orang dikampung kami menanam kopi berjenis arabika untuk menambah hasil rumah tangga dan kami sekeluarga yang tidak menanam ini cukup senang untuk membeli pada tetanga kami itu  karena prinsip kami adalah ketika kita membeli barang kemasan maka uang tersebut akan lari ke Jakarta namun bila kami membeli dari hasil tetangga maka uang tersebut hanya berlari di sekita kampung,  itu artinya secara ekonomi kami akan kuat selain menjaga keharmonisan betetangga dengan jalan saling peduli adalah hal yang penting.

Istriku datang membawa secangkir teh manis dan sepiring umbi ketela rambat berjenis sumbawa yang terkenal putih, pulen dan manis kemudian kupersilahkan tamu tersebut untuk menikmatinya dengan segala kegembiraan atas  rizky yang telah Tuhan berikan pada hari ini, sesaat setelah sang tamu tersebut minum tehnya dia berkata pelan, “ Perkenalkan, nama saya Karman pak, saya berasal dari daerah Banten dan datang kesini jauh-jauh bermaksud untuk berguru kepada Kyai Slamet yang saya kenal dakwahnya melalui media-media, saya cocok dengan alur pemikiran beliau dan bagaimana beliau mempu untuk membuat analog-analog dengan sangat logis, untuk itulah saya sowan kepada bapak agar dipertemukan dengan Kyai Slamet dan mohon izin untuk nyantri kepada beliau”,  laki-laki tamu itu mantap mengutarakan maksud kedatangannya.

Sejenak aku terpekur dalam lamunan sesaat, kemudian tanpa basa-basi aku tersenyum kepada lelaki tamu tersebut, “ Kisanak, apakah maksud kisanak untuk mondok kepada Kyai Slamet sudah merupakan niat yang kokoh?, dan apakah kisanak yakin nantinya Kyai Slamet akan menerima kisanak menjadi santrinya?, perlu diketahui bahwa belajar agama dengan Kyai Slamet tidak harus langsung menjadi satrinya, langsung dan tidak langsung itu apa bedanya?, belajarlah dari buku-buku yang telah Kyai Slamet tulis, nikmati pidato-pidato beliau melaui media elektronik maupun online, kunjungi websitenya, masuklah dalam simpul-simpul masyarakat yang khusus membahas tentang sepak terjangnya, itulah beberapa cara dari sekian cara  yang bisa kisanak lakukan, Kyai Slamet adalah manusia yang aneh, beliau tidak suka untuk duduk mengaji kitab-demi kitab dan menghadapi santri, beliau lebih suka untuk mengudari kerumitan dalam beragama, agama adalah sesuatu yang mudah namun saat ini sudah dipersulit dengan teks-teks formalistik yang malah sudah terlanjur disucikan padahal kesucian itu adalah milik wahyu dan bukan hasil pemikiran manusia yang  bercampur dengan segala kepentingan politis pada zamannya”.

“ Pulanglah kembali ke Banten, temui keluargamu dan nikmatilah hidup bahagia bersama mereka, beragama adalah berbuat kebaikan dan kebajikan, amalkan apa yang sudah kamu pelajari, jangan menyalahkan madzhab satu dengan yang lain karena saling menyalahkan adalah cara syetan untuk mencerai-berai kita, dahulu Al-Ghazali sebelum menulis Ihya’ ‘Ulumudin yang sangat terkenal itu juga karena menghadapi situasi dan kondisi yang serba sulit di zamannya, orang-orang salaing menyalahkan dan bahkan saling mengkafirkan, ini adalah kondisi yang sangat berbahaya, berbahaya untuk agama, iman maupun kondisi masyarakat saat itu juga, dalam sebuah pidatonya Al-Ghazali mengajak untuk bersatu kembali dengan mengucapkan ‘ Barang siapa telah bersyahadat dengan syahadat yang sama itu adalah saudara seiman kita, haram bagi kita untuk membunuh maupun menghina kehormatannya” kembalilah kepada ajaran ini.

Sejenak kulihat lelaki tamu itu termenung dengan sedikit wajah kecewa namun aku melihat ada sedikit sinar  di wajahnya yang terang penuh kegembiraan, perlahan-lahan tangannya mengambil sebuah umbi sumbawa hasil panenan kami yang putih, pulen dan manis untuk kemudian dinikmatinya, ah..sore ini adalah salah satu sore terindah yang pernah aku miliki. ( Tegelinang 2018)

Continue reading “Manusia Sederhana”

Iklan
Cerpen

Cinta Itu Telah Bersemi

Bunga mawar warna-warni di halaman belakang saat ini sudah mekar semua hanya terlihat beberapa saja yang masih kuncup, seperti kebiasaan masyarakat disini bagi mereka halaman rumah adalah sebuah ladang penghasilan musiman yang harus dimanfaatkan semaksimal mungkin  seperti menanam sayur-sayuran dengan cara polibek maupun menanan pohon mawar beraneka, dulu orang-orang lebih menyukai untuk membuat kolam ikan sebagai upaya memanfaatkan pekarangan namun semenjak kekeringan melanda kebiasan ini mulai ditinggalkan dan mereka lebih senang menanam mawar dimana Karman mengenalkan cara budidaya tanaman ini dan bagaimana masyarakat bisa menjualnya dengan harga cukup memadai di kota.

Pagi ini akan terlihat banyak penduduk keluar dari rumahnya untuk memetik mawar, itu pasti kata Karman kepada Inge orang kota yang bosan dengan lingkungannya dan berniat untuk mengisi liburan dengan cara menikmati kehidupan desa, tinggal di wilayah sepi dan hari ini Inge menjadi salah seorang pengunjung desa dimana Karman tinggal.

Terlihat beberapa orang tua sudah mulai berjalan melewati halaman rumah Karman, dengan menggendong wadah dari rajutan bambu terlihat wajah mereka yang sumringah, matahari sudah sedikit menampakkan wajahnya bersamaan dengan hawa dingin pegunungan yang masih kurasakan , terdengar lantang suara-suara kokok ayam jantan yang masih bersahutan tatkala terlihat serombongan ibu-ibu muda dengan pakaian sederhana saling bercanda melewati rumah tempatku tinggal, aku bergegas masuk kedalam rumah untuk mengambil kameraku yang akan ku gunakan untuk mendokumentasikan kegiatan kampung ini nantinya, jarum jam tepat menunjukkan pukul 07.00 saat aku dan Karman mulai berjalan menuju ladang-ladang mawar penduduk, aku merasakan keindahan dalam hatiku kini seperti saat cuaca panas kemudian mendapatkan air dingin dan kau guyurkan ke kepalamu, itulah perasaanku pagi ini.

Sudah 1 minggu aku tinggal bersama mereka dan sepertinya aku sudah dianggap seperti saudara sendiri, misalnya  saat aku berjalan dan berpapasan dengan penduduk kampung ini maka mereka akan menyapa aku dengan senyum yang tulus bahkan mereka tak segan untuk mengajak berjabat tangan, suatu malam aku merenung dengan tema siapa aku sebenarnya?, karena sepertinya aku sangat mengenal kampung ini, para penduduknya, dan tentunya kepada Karman, orang yang berjasa terhadap petualanganku, seolah-olah aku pernah mengenal sesosok Karman ini namun diriku lupa kapan dan dimana, perlahan aku menitikkan air mata karena besok adalah hari terakhirku untuk menikmati segala keindahan yang tak kudapatkan di kota, yang terberat adalah meninggalkan Karman, sungguh tidak aku pungkiri bahwa aku telah jatuh hati padanya dan cinta ini tidak memerlukan alasan, aku sepertinya rela untuk menjadi orang desa yang menikmati kotornya tanah persawahan, aku rela setiap pagi kakiku basah oleh embun pagi dan bahkan dinginnya angin pegunungan justeru membuat aku semakin sehat, namun satu yang harus aku tahu bahwa Karman sudah beristri, haruskah aku terus terang untuk mengatakan kepada istrinya bahwa aku mencintai suaminya? Ataukah aku harus mengatakan kepada Karman tentang perasaan ini dan secara diam-diam menjalin hubungan percintaan?.

Malam itu aku masih dalam perasaan kegalauan hingga hampir pagi menjelang dan mataku sepertinya tidak merelakan tubuhku ini untuk  istirahat barang sejenak, wajah sederhana Karman benar-benar telah menghipnotisku namun hati kecilku tidak bisa membiarkan  aku untuk merusak rumah tangga orang lain, aku keluar dari kamarku dan bermaksud untuk menikmati pemandangan gemintang dini hari  ketika kulihat Karman sudah berada di luar rumah untuk menjalankan rutinitas tahajudnya, seperti ada yang mendorong aku terisak dan berlari memeluk tubuh kekarnya seraya berkata “Kang, malam ini adalah malam terkhir dimana aku tinggal di kampung ini, terima kasih untuk semua ilmu yang telah diberikan dan esok aku akan pergi untuk meninggalkan kampung yang mulai aku cintai ini, begitu banyak perasaan yang tidak bisa aku ungkapkan namun sepertinya dahulu kala aku pernah disini, di tanah ini dan hal terberat dalam diriku adalah berpisah denganmu, entah sampai kapan aku bisa menyimpan dan memendam kerinduan ini, ternyata hidup tidak harus selalu berbicara tentang materi karena kecukupan  dalam kesederhanaan itu lebih penting dan itulah yang aku rasakan kali ini” Inge terbata-bata menyatakan perasaan pada Karman sedangkan Karman hanya berekspresi dalam ketidak tahuan setelah itu dari kejauhan terdengar adzan subuh telah berkumandang. ( tegelinang 2018 )

Continue reading “Cinta Itu Telah Bersemi”

Cerpen

Pesan Dari Lelaki Pengembara

Dialah lelaki pengembara itu, sesosok pria setengah baya yang dalam kesehariannya selalu memakai  baju  sederhana namun kelihatan bersih dan jika kita mau melihat lebih dalam maka pada  sinar wajahnya akan kita temukan kesejukan yang menyiratkan kedewasaan dan penuh asih selain kharismatik, jenggotnya yang sedikit tebal hitam keperakan tidak dibiarkan tumbuh tak beraturan namun selalu tertata rapi berpadu padan dengan kumis tipisnya yang mulai memutih ditelan usia.

Sejak masa remaja lelaki itu dikenal senang mendatangi majlis-majlis ilmu untuk menajamkan sisi spiritualnya namun dia akan  lebih banyak terlihat diam dan mengamati setiap argumen dari para peserta  dimana acara syawir tersebut selalu digelar oleh pemimpin majlis setelah dibacakannya dibacakannya fasal demi fasal guna menemukan referensi kebenaran menurut pendapat para cendekia, tidak sedikit yang bergunjing tentang lelaki pengembara itu, bahkan sebagian meragukan ilmu hidup yang dimilikinya karena dia berbicara dengan diam dan tidak pernah menampakkan kecakapnnya apalagi aktif dalam perdebatan-perdebatan yang penuh dengan hujjah dan dalil.

Banyak orang yang kenal dengannya mungkin karena kecintaannya kepada ilmu dan seringnya dia berpindah dari satu tempat ke tempat lain untuk menambah pengetahuan namun demikian sebagian orang tidak banyak yang mengetahui kehidupan pribadinya karena sepertinya lelaki itu adalah seseorang yang berjiwa tertutup walau keramah-tamahannya nampak dalam setiap senyuman kala bersua dengan orang lain, tidak peduli dia anak-anak atau orang tua maka lelaki itu dengan tidak terpaksa akan selalu membuka bibirnya untuk memberikan sebuah senyuman yang ikhlas.

Masa mudanya sengaja dihabiskan dalam Riyadloh tanpa canda tawa dan kesenangan-kesenangan duniawi lainnya, adalah pendapat pribadinya tentang memandang kesenangan dunia bukan hanya tentang mengejar mimpi kesuksesan materiil belaka maupun menikmati sendau gurau dalam suka cita masa pubertas remaja tapi menikmati dunia dengan cara mengasah kemampuan spiritual akan memberikan efek kepada sebuah pencapaian sukses dalam sisi lain dan tentu saja sebuah kesenangan yang tidak akan pernah dirasakan oleh mereka para pencari dunia.

Lelaki pengembara itu kini sudah memiliki keluarga kecil dan menetap disebuah dusun yang asri dimana disana akan kamu dapati pada siang harinya capung-capung beterbangan diatas persawahan nan hijau diiringi suara gemercik air sungai dan sesekali akan kamu dengar lenguhan kerbau disamping kokok ayam jantan dan nyanyian sepasang kutilang pada pohon-pohon kedondong yang dedaunannya mulai ranggas dimakan ulat-ulat sutera sebesar kelingkingmu, pada sore hari kamu bisa merasakan nyanyian Garengpung yang menandakan musim kemarau di wilayah itu karena Tongkeret hijau menandakan datangnya musim hujan, pada malam harinya dalam balutan dingin angin buritan kerlipan cahaya kunang-kunang akan mengganti menghiasi persawahan diiringi suara kodok yang bersahut-sahutan.

Kebiasaan lelaki itu untuk selalu mendengarkan berlanjut hingga kini setelah dia berkeluarga dan mempunyai seorang puteri, berhembus rumor bahwa jika lelaki bekas pengembara itu mau berbicara maka seolah kata-katanya itu berbisa dan akan menusuk siapa saja yang mencoba mengajaknya berargumen, bahkan ada lagi yang mengatakan  bahwa jika dia membentak orang maka orang yang berada dihadapannya akan menjadai kaku dan berkemungkinan bisa mati mendadak untuk itulah lelaki itu memilih diam dan tidak ingin banyak cakap.

Sebenarnya banyaknya lelaki itu diam daripada berbicara adalah untuk menghindarkan dari sifat Mujadalah atau mengajak berdebat yang sebenarnya hanya merupakan sebuah kesia-siaan disamping hanya mendatangkan permusuhan, ilmu agama itu dipelajari untuk diamalkan dan bukan untuk dibuat bahan perdebatan, kata shohih bisa menjadi maudhu’ dihadapan seorang ahli apalagi dhoíf yang biasa dijadikan oleh sebagian orang untuk menghalalkan dalil pada keinginan baik lelakunya walau baik itu belum tentu diajarkan, diam merupakan sebuah perilaku menjaga agar ibadah lebih fokus dan tentu saja istiqomah. Apakah mereka tidak mengerti bahwa diam itu lebih baik, diam itu emas, dan diam itu menyelamatkan kita  dari hal-hal yang tentu saja tidak berguna atau laghou? dan bahwa berbicara dan berargumen itu hanya diperkenankan ketika kita harus mengungkapkan sebuah kebenaran belaka dan bukan untuk memaksakan kebenaran menurut keyakinan kita , karena kebenaran di dunia ini masih bersifat dinamis bukan absolut atau mutlak.

Saat aku pada suatu ketika ber silaturrahmi kepada lelaki pengembara itu ku lihat wajahnya yang tenang dan kurasakan sebuah kekuatan pengendalian emosi tingkat tinggi yang jelas terbaca dari tingkah laku dan pembicaraannya, “Hal yang paling penting didunia ini adalah menemukan dan mengenali Tuhan semesta alam kemudian kita meyakini dan menyembahNYA dengan keikhlasan dan kepasrahan, ilmu agama itu dipelajari untuk diamalkan bukan untuk  membodohi orang lain dengan kita banyak menghafal dan mengutip dalil apalagi untuk mencapai sebuah keinginan duniawi yang semu” ucapnya kala itu. Aku pulang dan merenungi perkataan lelaki itu, dalam keheningan malam aku menemukan kebenaran ucapannya namun aku masih sulit untuk mengaplikasikan dalam kehidupanku yang mana aku setiap harinya selalu berhadapan dengan banyak manusia yang bermacam-macam karakternya. ( tegelinang 2018 )

Continue reading “Pesan Dari Lelaki Pengembara”

Cerpen

Kota Logam Dalam Jingga Senja

 

Kami duduk dalam satu deret kursi panjang bus yang menuju kota Solo , gerah cuaca siang itu membuatku tidak begitu memperhatikan wajah-wajah para penumpang kepanasan dalam sesaknya aroma kecut bercampur wangi wangi menyengat yang  datang dari ibu-ibu berdandan sedikit menor yang  sepertinya baru pulang dari kantor. Aku sendiri terlalu sibuk untuk menjaga kursiku agar tidak ada orang lain yang mencoba untuk merebunya dariku dengan alasan apapun.

Terdengar alunan tembang Sewu kuto dari 2 remaja dekil ber senjatakan gitar kecil murahan ketika bus yang kami tumpangi berhenti di trafic light pertama, sebuah lagu dari kang Didi Kempot yang sedang booming dan entah kenapa lagu dengan iringan sederhana itu mampu membiusku dan melemparkan perasaan emosionalku akan banyak kenangan di kota logam hingga tidak terasa bibirku bergumam menirukan lirik demi lirik hingga selesai.

Ku lemparkan pandanganku ke arah sebelah kiri saat bus yang menuju kota Solo ini berjalan pelan meninggalkan trafic light kota Yogyakarta terlihat pemandangan pertokoan memenuhi sepanjang jalan hingga  sepertinya aku tidak melihat perkampungan namun mata hanya disuguhi orang-orang yang konsumeristik disini, hatiku sedikit berdebar saat mataku berhenti pada sosok gadis muda berjilbab putih yang duduk dekat jendela , ada perasaan kenal, dekat dan entah apalagi namun semua itu hanya sekejap tersirat, sedikit ku beranikan diri untuk cukup lama memandang gadis kuning langsat berkacamata berjilbab putih dan pakaian putih “sepertinya seorang dokter” kataku dalam hati, artinya jika dia seorang dokter pastilah bukan teman yang pernah dekat denganku dulu, aku semakin penasaran kini.

Dia adalah gadis periang kelas 2 SMK di sebuah sekolah kejuruan kota logam tempatku melanjutkan sekolah, sebuah kota kecil dengan pemandangan desa masih asri namun penduduknya punya kesiapan yang luar biasa, hamparan rel kereta api dengan stasiun pemberhentian menambah indah suasana tatkala sore hari kami bermain bersama untuk menikmati jingga senja seraya melihat capung-capung kembali ke rumahnya, sementara segerombolan burung emprit akan engaku nikmati bermain di bawah sinar kuning keperakan sebelum akhirnya masuk ke dalam pohon beringin yang tumbuh dipinggir stasiun dan beristirah penuh hingga esok tiba.

Parmi itu adalah namamu, sebuah kata sederhana yang membangkitkan cinta mendalam di kota logam, saat dulu kita saling sapa ketika bertemu di pematang sawah barat desa kau berdiri sendiri yang kemudian  keluar kamat dari bibirku   “Apa yang kamu cari Nona? “, kamu menjawab bahwa keindahan senja dengan sinar jingga dan keperakan adalah salah satu kepuasan yang seharusnya dinikmati, bukan seharusnya ditinggal menonton televisi, atau menyibukkan diri dengan hal-hal duniawi, lihatlah kebesaranNYA dihamparkan dan ada sebuah kebanggaan yang tidak bisa dilukiskan manakala kita bisa menikmatinya, itulah kalimat demi kalimat yang keluar dari mulutmu pada perjumpaan pertama kita.

Setelah hari itu biasanya kita akan mengabiskan senja bersama-sama kecuali bila musih hujan tiba dan benih-benih cinta tumbuh diantara kita sebab kita punya banyak persepsi yang sama terutama dalam menikmati hidup, keberadaanmu sungguh sesuatu yang amat berarti bagiku dan bahkan senja tanpamu hanya menyiratkan luka mendalam yang menggores,  menusuk dan menimbulkan air mata kesedihan, tanpamu sepertinya dunia begitu asing dan sepi.

Sebuah takdir telah menghepaskan dirimu dan diriku setelah itu, engkau melanjutkan study di kota Gudeg Yogyakarta sementara aku meneruskan kegemaranku menulis puisi-puisi tentangmu dan sepertinya aku telah menjadi seorang pujangga, kita terputus komunikasi secara total karena takdir begitu kejam merenggutmu dariku, hingga siang ini aku menemukan gadis yang duduk di bangku panjang sebuah bus yang menuju ke kota Solo, namun apakah itu dirimu Parmi, masihkah parasmu cantik seperti dulu?, kuberanikan diri untuk berdehem kecil agar sang gadis menengokan wajahnya,  namun sepertinya dia sedang asyik masyuk menikmati pemandangan area persawangan yang terhampar menghijau nyaman untuk dilihat dan  sungguh pemandangan yang indah dan menenteramkan.

Mata yang indah dalam balutan kaca mata putih sedikit tersibak setelah jilbab yang melambai terkena hempasan angin jendela bus turun ke bahu dan pada saat yang sama tatapan kami saling bertemu, saat itu seolah suasana dalam bus yang penuh sesak penumpang terhenti diam oleh alunan kidung hati yang menyapa dalam kegaguan ucapan “parmi, engkaukah itu? “, sang gadis mengerutkan dahinya yang menandakan ada yang salah dengan kata-kataku, “Maaf mas, apakah sampyan menyapa saya? Jika ya, nama saya bukan Parmi melainkan Inge”, sontak degup jantungku seperti berlari lebih kencang hingga membuat wajahku sedikit memerah karena rasa malu, “Maaf mbak, saya kira embak adalah teman saya dulu, sekali lagi saya mohon maaf, aku melanjutkan kalimat terbataku, saat itu aku merasa semua mata yang ada dalam bus memandangku sebagai seorang lelaki penggoda wanita yang mempunyai trik untuk mendekati mangsa, dalam gundahku aku menggeser posisi dudukku supaya perasaan bersalahku hilang, dan kulihat gadis bernama Inge tadi sedikit tersenyum melihat tingkahku, “santai mas, aku dah biasa kok disangka  teman si anu si itu oleh beberapa lelaki yang menjumpaiku, saya juga heran apakah karena wajahku yang pasaran atau mereka memang mengatakan seperti itu sekedar ingin kenal denganku? , dan sepertinya Parmi adalah sesosok perempuan yang begitu mendalam masuk ke relung hati mas ya? , maaf jika ada kemiripan dengan saya”, kalimat demi kalimat yang enteng di ucapkan dengan enteng oleh gadis itu membuatku semakin bingung dalam rasa malu dan entah tiba-tiba aku berharap secepatnya bus berhenti sampai di kota logam dan aku akan segera turun untuk menghindarinya namun laju bus sepertinya tidak sekokoh bodinya, aku pura-pura tidur dan memimpikan senja nanti sore akan bersua dengan Parmi di simpang jalan kecil persawahan tempat dulu kami pertama kali bertemu untuk kemudian kami menikmati senja bersama-sama. ( 2018 )

Continue reading “Kota Logam Dalam Jingga Senja”

Cerpen

Ku Tunggu Kau Di Purnama

Usianya saat ini sudah 60 tahun lebih namun fisiknya tidak kalah dengan perempuan-perempuan umur 50 tahunan, semangatnya masih seperti mereka yang paruh baya, energik, lincah, dan masih mempunyai harapan hidup tinggi itulah Parmi sesosok perempuan sebatang kara yang tinggal di rumah tua namun terlihat rapi, dan bersih di sana-sini.

Dulu saat masih remaja Parmi adalah Lakon dari hampir semua permainan kampung seperti gobak sodor, kasti, benthik, jek-jekan, lompat tali, dan bahkan bola bekel serta tentunya permainan favorit para gadis yaitu engklek dikuasai penuh, suatu kali ibu saya pernah menceritakan tentang sesosok Parmi yang selalu bermain dengan hati dan kesungguhan, seperti menghayati permainan yang ia lakoni, tidak seperti kebanyakan teman-temannya yang menikmati permainan dengan cara  merka seperti  tertawa , bersendau gurau, bahkan akan saling mengejek , namun tidak dengan Parmi.

Akhir-akhir ini Parmi terlihat seperti gelisah dalam menjalani harinya, beberapa malam ini  dia kepergok sedang duduk diatas batu tua yang mencongol  di halaman rumah Inge sepulang dari masjid  sembari  melamun memandang langit , halaman rumah yang kini sudah tidak luas lagi, sebuah halaman tempat dihabiskannya  masa kecilnya bersama teman-temannya dengan penuh keriangan yang mana waktu itu  bulan  penuh bersinar menerangi semsta raya dan akan terdengar syahdu anak-anak  menyenandungkan lagu-lagu tradisionil, tak terasa air matanya luruh pelan menetes di pipi keriputnya melihat masa kekinian yang berubah begitu cepat, keriangan canda-tawa bocah yang berlarian tidak lagi terdengar bahkan anak-anak masa kini sudah tidak bisa menikmati purnama layaknya jamannya dulu, sepertinya mereka saat ini disibukan  dengan menonton sinetron atau menikmati sandiwara politik negeri dan sebagian lebih asyik melihat serial  layar bollywood di televisi, oh ya..Parmi juga melihat anak-anak kecil itu bermain telepone genggam pembelian orangtuanya.

Ada yang salah dengan zaman bisiknya kepada dirinya sendiri, “sebuah kenikmatan masa lalu telah dicuri , tapi oleh siapa? , siapa yang berani mencuri indahnya purnama dengan segala keceriaan gelak tawa bocah?”, pikiran hampa dalam balutan kerinduan inilah yang menyebabkan Parmi beberapa malam ini duduk diatas batu tua di halaman rumah Inge tempat dimana dia dan kawan-kawannya dulu riuh menyatu dalam kegembiraan malam purnama.

Parmi tahu halaman yang dulu luas dengan tumbuhan pohon-pohon jambu telampok itu kini telah berubah semakin mengecil dan sempit seiring dengan semakin dewasanya anak-anak Inge yang kemudian mendirikan rumah untuk membina keluarganya,  namun mengapa batu tua yang mencongol itu tidak ikut di bongkar sehingga masa lalunya juga akan  hilang dibawa  bersamanya?, Parmi ragu tentang hal itu memang merupakan sebuah kehendak takdir, dimana Tuhan sengaja membiarkan setiap kenangan masa kecilnya akan tumbuh kembali bersama dengan setiap datangya purnama selepas isya’ di halaman rumah Inge, ya..Tuhan memang maha rahasia dan kebenaran menurut versi Parmi hanyalah berupa angan-angan dan penerkaan belaka selebihnya kebenaran yang utuh itu masih tersimpan di langit.

Parmi bertekad melalui  hatinya yang paling dalam bahwa bila setiap purnama tiba dirinya akan selalu menanti kawan-kawannya masa kecilnya  disini, di halaman rumah Inge , Parmi ingin merubah keadaan yang menurutnya kini hampa dan penuh kekosongan itu bisa kembali lagi sehingga kampung dimana ia dilahirkan  yang kini dinilainya  semakin  sibuk mengurusi masalah  dunia nantinya bisa menjadi sebuah kampung yang utuh, kampung yang menghargai fenomena alam dan tidak melewatkan begitu saja dengan terbuai bujukan aklan-iklan televisi, ia akan tetap  menanti hingga anak-anak itu tertawa dalam kegembiraan dan  keceriaan  disini , dimana sebuah persatuan dan kegotong royongan terbangun melalui sebuah permainan, ya..permainan yang mengasyikkan di bawah terangnya bulan yang purnama. ( tegelinang 2018 )

Continue reading “Ku Tunggu Kau Di Purnama”

Cerpen

Wajahmu Di Sepertiga Malam

Menurutku waktu itu adalah sebuah malam yang terindah yang pernah  ada dalam hidupku, setiap sepertiga malam terakhir aku akan selalu  membisiki dirimu melalui pagar gedek tua tempat engkau tinggal dimana dirimu sedang  istirah setelah lelah seharian untuk mengajar anak-anak kampung  yang menurutmu sangat melelahkan namun asyik untuk dijalani, bukan upah yang engkau cari namun lebih kepada belajar mengenal karakter bocah dengan berbagai perangai yang dimilikinya itulah dunia termurni yang selalu kau temui, dalam mengajar engkau mendapatkan 2 ilmu sekaligus yaitu ilmu untuk mendidik anak selain  mendapatkan banyak kesempatan untuk menambah wawasan karena kadangkala ilmu itu datang saat engkau mengajar dan bukan saat engkau belajar itulah 2 keuntungan yang selama ini memberikan motivasi terhadap dirimu untuk bertahan dan masuk dalam dunia kanak-kanak yang selalu ceria dipenuhi sendau gurau seperti hakekatnya dunia ini.

Penduduk kampung tidak pernah tahu tentang menghargai para pendidik kecuali dengan cara mereka sendiri yaitu mereka akan bersikap hormat dan cenderung mendengarkan suaramu, kebanyakan dari mereka memang enggan untuk menyisihkan  sedikit hartanya untuk diberikan kepada para pendidik non formal, namun hal ini tidaklah membuat semangatmu surut justeru dengan tidak mendapatkan honor engkau telah mendapatkan kepuasan tersendiri , uang bukanlah satu-satunya untuk dimiliki namun kepercayaan orang kampung lebih dari segalanya dan uang bisa datang dari mana saja.

Dalam buaian dingin angin pagi kami berjalan beriringan menuju langgar kecil ditemani planet  merah yang selalu menyapa di semenanjung ufuk timur selain  rasi bintang gubuk penceng yang seolah selalu tersenyum pada manusia yang memperhatikan dirinya, kebanyakan orang yang belajar astronomi  di sekolahan akan mengenali setiap rasi bintang namun kami berdua yakin hanya segelintir orang saja yang selalu menjumpai rasi bintang gubuk penceng ini, mereka hanya paham dan mengenali lewat buku-buku pelajaran, rasi yang istimewa karena muncul setiap waktu tahajud tiba.

Seusai menjalankan sholat malam dalam keheningan kamu akan memilih untuk  membaca Al-Qurán dengan suara lirih sehingga orang yang berada di balik sekat langgar kecil itupun tidak akan mendengar suaramu, hanya mendengar semacam gumaman kecil namun indah didengarkan  sementara itu aku akan menghabiskan sisa waktu menuju subuh dengan wirid kesukaanku yantu sholawat jibril.

Bukan tanpa alasan aku dan Parmi melaksanakan tahajud berjamaáh walau kami menyadari bahwa kami bukan pasangan suami istri namun ibadah ini kami lakukan karena cinta pada Allah semata, bukan karena kami ingin berpacaran atau berbuat mesum di tempat suci bernama langgar, kami cukup tahu aturan untuk tidak saling menyentuh walau cinta kami ini sudah terdengar di seluruh penjuru kampung , kami akan selalu menjaga marwah kami sendiri untuk tidak jatuh kepada lembah dosa hanya karena menuruti nafsu belaka, kami menjaga kemurnian cinta dengan selalu menyandingkannya dihadapan Tuhan semesta alam.

Teringat dengan cerita seorang ulama’ besar dari Turki  bernama Jalaludin Arrumi yang begitu agung namun kemudian merasa kerdil setelah mendapatkan pertanyaan sederhana penuh mistik dari sang pengelana Syamsuddin At-tabrizi yaitu “Riyadloh dan Cinta”, pertanyaan yang kemudian membuat beliau  bergelut dalam ilmu kesufian dan mejadikannya orang yang sangat besar dan berjasa dalam ilmu tasawuf, itulah salah satu tujuan kami melaksanakan sholat malam, kami ingin masuk kedalam dunia penuh kasih, cinta , dan keperihatinan untuk menuju kepada cahaya maha cahaya, terbuai dalam alunan irama suka cita Tuhan, dan itu belum kami rasakan apalagi kami temukan.

Kisah kami di sepertiga malam memang menghadirkan makna yang mendalam, walau akhirnya Parmi kekasihku telah mendapatkan tambatan hatinya namun kehendak takdir ini tidak pernah menyurutkan niat kami untuk selalu menyelami makna cinta yang luas, kisah yang selalu aku baca setiap hendak tidur tiba sembari membayangkan keberadaanmu kini ada dimana. ( tegelinang 2018 )

Continue reading “Wajahmu Di Sepertiga Malam”

Cerpen

Pada Surau Tua

Seperti dalam sebuah keterasingan, itulah kata yang tepat untuk menggambarkan perasaan Karman malam saat ini , sebuah malam dimana malam hari ini adalah malam yang bertepatan dengan malam 12 tahun silam saat Parmi berusaha untuk menemuinya di sebuah surau tua yang sudah cukup lapuk namun beribadah di dalamnya sangatlah nyaman dan penuh kekhusukan, Parmi menemuinya bukanlah tanpa sebab dan alasan karena biasanya Parmi akan berusaha menghindari pertemuan di tempat terbuka dengan Karman karena ia tahu orang tuanya melarang keras untuk menjalin hubungan khusus dengan pria sederhana nan miskin ini.

Cinta tidak pernah memilih karena dialah yang mengarahkan kemana sebuah hati akan berlabuh itulah yang terjadi pada diri Parmi, dan keyakinan pada sebuah kesucian  perasaan inilah Parmi selalu memendam kerinduan yang mendalam yang terbungkus begitu rapi sehingga kedua orangtuanya tidak pernah mengetahui bahwa yang terpilih di hatinya adalah seorang Karman yang cacat ekonomi di mata kedua orangtuanya.

Malam itu adalah sebuah moment yang sangat penting bagi Karman, setelah melaksanakan sholat isya’ secara berjamaah dia berdoa dengan segala kesungguhan hati dan hampir-hampir menitikkan air mata karena sepertinya dia sudah tahu apa isi pembicaraan yang nantinya bakal dilaluinya, sebuah perasaan yang akan  hilang, kekesalan terhadap sebuah takdir, cacian dan umpatan terhadap hidup dan nasibnya..ya..sepertinya itulah yang bakal terjadi.

Parmi datang sekitar pukul 20.30 setelah surau sepi dari aktifitas peribadahan warga kampung dan Karman masih terlihat menelaah kitab kuning kesukaannya, Parmi tahu Karman hanya membuang kegundahannya saja dan bukan bermaksud untuk belajar kitab kuning , “ assalamu’alaikum akang” Parmi mengucapkan salam sebelum masuk ke dalam surau untuk selanjutnya duduk disamping Karman yang segera menutup kitab dengan kedua tangannya, “ Wa’alaikumussalam waraahmatullahi wabarakatuh Neng” terdengar jawaban salam yang diucapkan lirih penuh makna, “ Kang, akang pasti sudah tahu maksud Neng menemui akang malam hari disini, bukan maksud Neng untuk membuat luka ataupun sesuatu yang tidak baik untuk akang , namun hal ini memang harus Neng ungkapkan agar semuanya tidak berlarut-larut dan kita tahu apa yang mesti kita lakukan selanjutnya”, Parmi membuka percakapan yang hanya di jawab dengan dehem kecil yang mengandung sedikit kekecewaan dari Karman, “ Neng memohon sebuah keputusan dari akang yang pasti akan Neng lakukan demi cinta dan sayang Neng kepada akang walaupun harus ada yang Neng pertaruhkan nantinya, kang..orangtua Neng menghendaki agar Neng cepat menikah dan kemarin malam rumah Neng kedatangan tamu yang ternyata maksud kedatangan mereka adalah untuk melamar Neng, namun karena hati Neng yang telah berlabuh di hati akang maka Neng akan menerima semua jawaban dari akang, entah sebuah jawaban agar neng menikah dengan lelaki pilihan orangtua atau Neng harus mengikuti kemana akang akan membawa neng untuk membina keluarga kecil walau tanpa restu kedua orangtua Neng” , Parmi mengakhiri ungkapan perasaanya dengan mata yang berkaca-kaca.

Sebuah pilihan sulit buat Karman waktu itu, jika dia merelakan kekasihnya untuk bersanding dengan pria lain maka sama saja dia tidak menghormati ketulusan cinta Parmi selama ini, namun jika dia nekat mengajak Parmi untuk kawin lari tanpa restu kedua orangtua Parmi maka itu sama saja dengan menghadang doa buruk dari orang tua yang seharusnya ia hormati, Karman tertegun sesaat sebelum akhirnya membuka suaranya, “ Neng, akang tahu kualitas cinta Neng itu karena allah, dan Neng juga tahu bahwa akang sangat menyayangi Neng karena allah juga, namun bukan berarti kita harus egois mengarahkan takdir hidup menurut kehendak kita, akang minta dalam 3 hari ini kita bermunajat istokharah kepada allah untuk diberikan jalan terbaik, jika allah mengizinkan akang untuk bersanding dengan Neng maka pintu hati kedua orangtua Neng pasti terbuka buat akang, namun jika takdir berkehendak kita tidak bisa menyatu di dunia ini sesungguhnya akang akan mencari Neng di surga kelak dan tidak akan peduli dengan para bidadari yang telah dijanjikan karena bagi akang bidadari surga itu adalah Neng sendiri”, Karman terlihat sedikit sesak ketika menyampaikan kata-kata tersebut, “ 3 hari  lagi kita akan betemu di surau tua ini pada jam yang sama dengan membawa hasil istikharah kita” , lanjut Karman.

Takdir memang aneh ataukah kejam? ,  pada hari yang telah disepakati oleh Karman dan Parmi untuk bertemu,  keduanya membawa petunjuk yang mengharuskan keduanya berpisah dan akhirnya kisah itu bergulir dengan digelarnya pesta pernikahan Parmi dengan lelaki pilihan kedua orangtuanya, namun Karman tidak pernah berkeluh kesah dengan kejadian ini, rasa sakit yang dirasakan karena cinta telah dirubahnya dengan kegigihan bekerja dan saat ini adalah 12 tahun silam dimana Karman kembali di damparkan di tempat yang sama yaitu surau tua penuh kenangan.

Karman menghela nafas sambil berbaring dalam keterasingan yang asyik masyuk, sebuah perasaan yang sulit diungkapkan seperti dirinya sedang membuka sebuah kotak usang yang di dalamnya didapati mainan masa kecil yang sudah lama hilang namun masih terlihat cantik dan bagus untuk dimainkan itulah perasaannya kini, perlahan karman bangkit dan berjalan menuju ke luar dari surau tua itu dan  di dapatinya langit sangat cerah dengan hiasan sedikit gemintang karena bulan begitu penuh bersinar,  ia melangkah pelan pulang ke rumah dengan perasaan tenang dimana keluarga kecilnya telah menanti,  sambil memandang rembulan Karman berucap, “ Di surga kelak aku akan tetap mencarimu bidadariku, bukan disini ” , karena di kehidupan dunia ini ada 2 bidadari yang harus aku bahagiakan yaitu keluarga kecilku , seperti halnya engkau juga telah mempunyai keluarga yang harus kamu bahagiakan. ( tegelinang 2018 )

Continue reading “Pada Surau Tua”