Cerpen

Pesan Dari Lelaki Pengembara

Dialah lelaki pengembara itu, sesosok pria setengah baya yang dalam kesehariannya selalu memakai  baju  sederhana namun kelihatan bersih dan jika kita mau melihat lebih dalam maka pada  sinar wajahnya akan kita temukan kesejukan yang menyiratkan kedewasaan dan penuh asih selain kharismatik, jenggotnya yang sedikit tebal hitam keperakan tidak dibiarkan tumbuh tak beraturan namun selalu tertata rapi berpadu padan dengan kumis tipisnya yang mulai memutih ditelan usia.

Sejak masa remaja lelaki itu dikenal senang mendatangi majlis-majlis ilmu untuk menajamkan sisi spiritualnya namun dia akan  lebih banyak terlihat diam dan mengamati setiap argumen dari para peserta  dimana acara syawir tersebut selalu digelar oleh pemimpin majlis setelah dibacakannya dibacakannya fasal demi fasal guna menemukan referensi kebenaran menurut pendapat para cendekia, tidak sedikit yang bergunjing tentang lelaki pengembara itu, bahkan sebagian meragukan ilmu hidup yang dimilikinya karena dia berbicara dengan diam dan tidak pernah menampakkan kecakapnnya apalagi aktif dalam perdebatan-perdebatan yang penuh dengan hujjah dan dalil.

Banyak orang yang kenal dengannya mungkin karena kecintaannya kepada ilmu dan seringnya dia berpindah dari satu tempat ke tempat lain untuk menambah pengetahuan namun demikian sebagian orang tidak banyak yang mengetahui kehidupan pribadinya karena sepertinya lelaki itu adalah seseorang yang berjiwa tertutup walau keramah-tamahannya nampak dalam setiap senyuman kala bersua dengan orang lain, tidak peduli dia anak-anak atau orang tua maka lelaki itu dengan tidak terpaksa akan selalu membuka bibirnya untuk memberikan sebuah senyuman yang ikhlas.

Masa mudanya sengaja dihabiskan dalam Riyadloh tanpa canda tawa dan kesenangan-kesenangan duniawi lainnya, adalah pendapat pribadinya tentang memandang kesenangan dunia bukan hanya tentang mengejar mimpi kesuksesan materiil belaka maupun menikmati sendau gurau dalam suka cita masa pubertas remaja tapi menikmati dunia dengan cara mengasah kemampuan spiritual akan memberikan efek kepada sebuah pencapaian sukses dalam sisi lain dan tentu saja sebuah kesenangan yang tidak akan pernah dirasakan oleh mereka para pencari dunia.

Lelaki pengembara itu kini sudah memiliki keluarga kecil dan menetap disebuah dusun yang asri dimana disana akan kamu dapati pada siang harinya capung-capung beterbangan diatas persawahan nan hijau diiringi suara gemercik air sungai dan sesekali akan kamu dengar lenguhan kerbau disamping kokok ayam jantan dan nyanyian sepasang kutilang pada pohon-pohon kedondong yang dedaunannya mulai ranggas dimakan ulat-ulat sutera sebesar kelingkingmu, pada sore hari kamu bisa merasakan nyanyian Garengpung yang menandakan musim kemarau di wilayah itu karena Tongkeret hijau menandakan datangnya musim hujan, pada malam harinya dalam balutan dingin angin buritan kerlipan cahaya kunang-kunang akan mengganti menghiasi persawahan diiringi suara kodok yang bersahut-sahutan.

Kebiasaan lelaki itu untuk selalu mendengarkan berlanjut hingga kini setelah dia berkeluarga dan mempunyai seorang puteri, berhembus rumor bahwa jika lelaki bekas pengembara itu mau berbicara maka seolah kata-katanya itu berbisa dan akan menusuk siapa saja yang mencoba mengajaknya berargumen, bahkan ada lagi yang mengatakan  bahwa jika dia membentak orang maka orang yang berada dihadapannya akan menjadai kaku dan berkemungkinan bisa mati mendadak untuk itulah lelaki itu memilih diam dan tidak ingin banyak cakap.

Sebenarnya banyaknya lelaki itu diam daripada berbicara adalah untuk menghindarkan dari sifat Mujadalah atau mengajak berdebat yang sebenarnya hanya merupakan sebuah kesia-siaan disamping hanya mendatangkan permusuhan, ilmu agama itu dipelajari untuk diamalkan dan bukan untuk dibuat bahan perdebatan, kata shohih bisa menjadi maudhu’ dihadapan seorang ahli apalagi dhoíf yang biasa dijadikan oleh sebagian orang untuk menghalalkan dalil pada keinginan baik lelakunya walau baik itu belum tentu diajarkan, diam merupakan sebuah perilaku menjaga agar ibadah lebih fokus dan tentu saja istiqomah. Apakah mereka tidak mengerti bahwa diam itu lebih baik, diam itu emas, dan diam itu menyelamatkan kita  dari hal-hal yang tentu saja tidak berguna atau laghou? dan bahwa berbicara dan berargumen itu hanya diperkenankan ketika kita harus mengungkapkan sebuah kebenaran belaka dan bukan untuk memaksakan kebenaran menurut keyakinan kita , karena kebenaran di dunia ini masih bersifat dinamis bukan absolut atau mutlak.

Saat aku pada suatu ketika ber silaturrahmi kepada lelaki pengembara itu ku lihat wajahnya yang tenang dan kurasakan sebuah kekuatan pengendalian emosi tingkat tinggi yang jelas terbaca dari tingkah laku dan pembicaraannya, “Hal yang paling penting didunia ini adalah menemukan dan mengenali Tuhan semesta alam kemudian kita meyakini dan menyembahNYA dengan keikhlasan dan kepasrahan, ilmu agama itu dipelajari untuk diamalkan bukan untuk  membodohi orang lain dengan kita banyak menghafal dan mengutip dalil apalagi untuk mencapai sebuah keinginan duniawi yang semu” ucapnya kala itu. Aku pulang dan merenungi perkataan lelaki itu, dalam keheningan malam aku menemukan kebenaran ucapannya namun aku masih sulit untuk mengaplikasikan dalam kehidupanku yang mana aku setiap harinya selalu berhadapan dengan banyak manusia yang bermacam-macam karakternya. ( tegelinang 2018 )

Continue reading “Pesan Dari Lelaki Pengembara”

Iklan
Cerpen

Kota Logam Dalam Jingga Senja

 

Kami duduk dalam satu deret kursi panjang bus yang menuju kota Solo , gerah cuaca siang itu membuatku tidak begitu memperhatikan wajah-wajah para penumpang kepanasan dalam sesaknya aroma kecut bercampur wangi wangi menyengat yang  datang dari ibu-ibu berdandan sedikit menor yang  sepertinya baru pulang dari kantor. Aku sendiri terlalu sibuk untuk menjaga kursiku agar tidak ada orang lain yang mencoba untuk merebunya dariku dengan alasan apapun.

Terdengar alunan tembang Sewu kuto dari 2 remaja dekil ber senjatakan gitar kecil murahan ketika bus yang kami tumpangi berhenti di trafic light pertama, sebuah lagu dari kang Didi Kempot yang sedang booming dan entah kenapa lagu dengan iringan sederhana itu mampu membiusku dan melemparkan perasaan emosionalku akan banyak kenangan di kota logam hingga tidak terasa bibirku bergumam menirukan lirik demi lirik hingga selesai.

Ku lemparkan pandanganku ke arah sebelah kiri saat bus yang menuju kota Solo ini berjalan pelan meninggalkan trafic light kota Yogyakarta terlihat pemandangan pertokoan memenuhi sepanjang jalan hingga  sepertinya aku tidak melihat perkampungan namun mata hanya disuguhi orang-orang yang konsumeristik disini, hatiku sedikit berdebar saat mataku berhenti pada sosok gadis muda berjilbab putih yang duduk dekat jendela , ada perasaan kenal, dekat dan entah apalagi namun semua itu hanya sekejap tersirat, sedikit ku beranikan diri untuk cukup lama memandang gadis kuning langsat berkacamata berjilbab putih dan pakaian putih “sepertinya seorang dokter” kataku dalam hati, artinya jika dia seorang dokter pastilah bukan teman yang pernah dekat denganku dulu, aku semakin penasaran kini.

Dia adalah gadis periang kelas 2 SMK di sebuah sekolah kejuruan kota logam tempatku melanjutkan sekolah, sebuah kota kecil dengan pemandangan desa masih asri namun penduduknya punya kesiapan yang luar biasa, hamparan rel kereta api dengan stasiun pemberhentian menambah indah suasana tatkala sore hari kami bermain bersama untuk menikmati jingga senja seraya melihat capung-capung kembali ke rumahnya, sementara segerombolan burung emprit akan engaku nikmati bermain di bawah sinar kuning keperakan sebelum akhirnya masuk ke dalam pohon beringin yang tumbuh dipinggir stasiun dan beristirah penuh hingga esok tiba.

Parmi itu adalah namamu, sebuah kata sederhana yang membangkitkan cinta mendalam di kota logam, saat dulu kita saling sapa ketika bertemu di pematang sawah barat desa kau berdiri sendiri yang kemudian  keluar kamat dari bibirku   “Apa yang kamu cari Nona? “, kamu menjawab bahwa keindahan senja dengan sinar jingga dan keperakan adalah salah satu kepuasan yang seharusnya dinikmati, bukan seharusnya ditinggal menonton televisi, atau menyibukkan diri dengan hal-hal duniawi, lihatlah kebesaranNYA dihamparkan dan ada sebuah kebanggaan yang tidak bisa dilukiskan manakala kita bisa menikmatinya, itulah kalimat demi kalimat yang keluar dari mulutmu pada perjumpaan pertama kita.

Setelah hari itu biasanya kita akan mengabiskan senja bersama-sama kecuali bila musih hujan tiba dan benih-benih cinta tumbuh diantara kita sebab kita punya banyak persepsi yang sama terutama dalam menikmati hidup, keberadaanmu sungguh sesuatu yang amat berarti bagiku dan bahkan senja tanpamu hanya menyiratkan luka mendalam yang menggores,  menusuk dan menimbulkan air mata kesedihan, tanpamu sepertinya dunia begitu asing dan sepi.

Sebuah takdir telah menghepaskan dirimu dan diriku setelah itu, engkau melanjutkan study di kota Gudeg Yogyakarta sementara aku meneruskan kegemaranku menulis puisi-puisi tentangmu dan sepertinya aku telah menjadi seorang pujangga, kita terputus komunikasi secara total karena takdir begitu kejam merenggutmu dariku, hingga siang ini aku menemukan gadis yang duduk di bangku panjang sebuah bus yang menuju ke kota Solo, namun apakah itu dirimu Parmi, masihkah parasmu cantik seperti dulu?, kuberanikan diri untuk berdehem kecil agar sang gadis menengokan wajahnya,  namun sepertinya dia sedang asyik masyuk menikmati pemandangan area persawangan yang terhampar menghijau nyaman untuk dilihat dan  sungguh pemandangan yang indah dan menenteramkan.

Mata yang indah dalam balutan kaca mata putih sedikit tersibak setelah jilbab yang melambai terkena hempasan angin jendela bus turun ke bahu dan pada saat yang sama tatapan kami saling bertemu, saat itu seolah suasana dalam bus yang penuh sesak penumpang terhenti diam oleh alunan kidung hati yang menyapa dalam kegaguan ucapan “parmi, engkaukah itu? “, sang gadis mengerutkan dahinya yang menandakan ada yang salah dengan kata-kataku, “Maaf mas, apakah sampyan menyapa saya? Jika ya, nama saya bukan Parmi melainkan Inge”, sontak degup jantungku seperti berlari lebih kencang hingga membuat wajahku sedikit memerah karena rasa malu, “Maaf mbak, saya kira embak adalah teman saya dulu, sekali lagi saya mohon maaf, aku melanjutkan kalimat terbataku, saat itu aku merasa semua mata yang ada dalam bus memandangku sebagai seorang lelaki penggoda wanita yang mempunyai trik untuk mendekati mangsa, dalam gundahku aku menggeser posisi dudukku supaya perasaan bersalahku hilang, dan kulihat gadis bernama Inge tadi sedikit tersenyum melihat tingkahku, “santai mas, aku dah biasa kok disangka  teman si anu si itu oleh beberapa lelaki yang menjumpaiku, saya juga heran apakah karena wajahku yang pasaran atau mereka memang mengatakan seperti itu sekedar ingin kenal denganku? , dan sepertinya Parmi adalah sesosok perempuan yang begitu mendalam masuk ke relung hati mas ya? , maaf jika ada kemiripan dengan saya”, kalimat demi kalimat yang enteng di ucapkan dengan enteng oleh gadis itu membuatku semakin bingung dalam rasa malu dan entah tiba-tiba aku berharap secepatnya bus berhenti sampai di kota logam dan aku akan segera turun untuk menghindarinya namun laju bus sepertinya tidak sekokoh bodinya, aku pura-pura tidur dan memimpikan senja nanti sore akan bersua dengan Parmi di simpang jalan kecil persawahan tempat dulu kami pertama kali bertemu untuk kemudian kami menikmati senja bersama-sama. ( 2018 )

Continue reading “Kota Logam Dalam Jingga Senja”

Cerpen

Ku Tunggu Kau Di Purnama

Usianya saat ini sudah 60 tahun lebih namun fisiknya tidak kalah dengan perempuan-perempuan umur 50 tahunan, semangatnya masih seperti mereka yang paruh baya, energik, lincah, dan masih mempunyai harapan hidup tinggi itulah Parmi sesosok perempuan sebatang kara yang tinggal di rumah tua namun terlihat rapi, dan bersih di sana-sini.

Dulu saat masih remaja Parmi adalah Lakon dari hampir semua permainan kampung seperti gobak sodor, kasti, benthik, jek-jekan, lompat tali, dan bahkan bola bekel serta tentunya permainan favorit para gadis yaitu engklek dikuasai penuh, suatu kali ibu saya pernah menceritakan tentang sesosok Parmi yang selalu bermain dengan hati dan kesungguhan, seperti menghayati permainan yang ia lakoni, tidak seperti kebanyakan teman-temannya yang menikmati permainan dengan cara  merka seperti  tertawa , bersendau gurau, bahkan akan saling mengejek , namun tidak dengan Parmi.

Akhir-akhir ini Parmi terlihat seperti gelisah dalam menjalani harinya, beberapa malam ini  dia kepergok sedang duduk diatas batu tua yang mencongol  di halaman rumah Inge sepulang dari masjid  sembari  melamun memandang langit , halaman rumah yang kini sudah tidak luas lagi, sebuah halaman tempat dihabiskannya  masa kecilnya bersama teman-temannya dengan penuh keriangan yang mana waktu itu  bulan  penuh bersinar menerangi semsta raya dan akan terdengar syahdu anak-anak  menyenandungkan lagu-lagu tradisionil, tak terasa air matanya luruh pelan menetes di pipi keriputnya melihat masa kekinian yang berubah begitu cepat, keriangan canda-tawa bocah yang berlarian tidak lagi terdengar bahkan anak-anak masa kini sudah tidak bisa menikmati purnama layaknya jamannya dulu, sepertinya mereka saat ini disibukan  dengan menonton sinetron atau menikmati sandiwara politik negeri dan sebagian lebih asyik melihat serial  layar bollywood di televisi, oh ya..Parmi juga melihat anak-anak kecil itu bermain telepone genggam pembelian orangtuanya.

Ada yang salah dengan zaman bisiknya kepada dirinya sendiri, “sebuah kenikmatan masa lalu telah dicuri , tapi oleh siapa? , siapa yang berani mencuri indahnya purnama dengan segala keceriaan gelak tawa bocah?”, pikiran hampa dalam balutan kerinduan inilah yang menyebabkan Parmi beberapa malam ini duduk diatas batu tua di halaman rumah Inge tempat dimana dia dan kawan-kawannya dulu riuh menyatu dalam kegembiraan malam purnama.

Parmi tahu halaman yang dulu luas dengan tumbuhan pohon-pohon jambu telampok itu kini telah berubah semakin mengecil dan sempit seiring dengan semakin dewasanya anak-anak Inge yang kemudian mendirikan rumah untuk membina keluarganya,  namun mengapa batu tua yang mencongol itu tidak ikut di bongkar sehingga masa lalunya juga akan  hilang dibawa  bersamanya?, Parmi ragu tentang hal itu memang merupakan sebuah kehendak takdir, dimana Tuhan sengaja membiarkan setiap kenangan masa kecilnya akan tumbuh kembali bersama dengan setiap datangya purnama selepas isya’ di halaman rumah Inge, ya..Tuhan memang maha rahasia dan kebenaran menurut versi Parmi hanyalah berupa angan-angan dan penerkaan belaka selebihnya kebenaran yang utuh itu masih tersimpan di langit.

Parmi bertekad melalui  hatinya yang paling dalam bahwa bila setiap purnama tiba dirinya akan selalu menanti kawan-kawannya masa kecilnya  disini, di halaman rumah Inge , Parmi ingin merubah keadaan yang menurutnya kini hampa dan penuh kekosongan itu bisa kembali lagi sehingga kampung dimana ia dilahirkan  yang kini dinilainya  semakin  sibuk mengurusi masalah  dunia nantinya bisa menjadi sebuah kampung yang utuh, kampung yang menghargai fenomena alam dan tidak melewatkan begitu saja dengan terbuai bujukan aklan-iklan televisi, ia akan tetap  menanti hingga anak-anak itu tertawa dalam kegembiraan dan  keceriaan  disini , dimana sebuah persatuan dan kegotong royongan terbangun melalui sebuah permainan, ya..permainan yang mengasyikkan di bawah terangnya bulan yang purnama. ( tegelinang 2018 )

Continue reading “Ku Tunggu Kau Di Purnama”

Cerpen

Wajahmu Di Sepertiga Malam

Menurutku waktu itu adalah sebuah malam yang terindah yang pernah  ada dalam hidupku, setiap sepertiga malam terakhir aku akan selalu  membisiki dirimu melalui pagar gedek tua tempat engkau tinggal dimana dirimu sedang  istirah setelah lelah seharian untuk mengajar anak-anak kampung  yang menurutmu sangat melelahkan namun asyik untuk dijalani, bukan upah yang engkau cari namun lebih kepada belajar mengenal karakter bocah dengan berbagai perangai yang dimilikinya itulah dunia termurni yang selalu kau temui, dalam mengajar engkau mendapatkan 2 ilmu sekaligus yaitu ilmu untuk mendidik anak selain  mendapatkan banyak kesempatan untuk menambah wawasan karena kadangkala ilmu itu datang saat engkau mengajar dan bukan saat engkau belajar itulah 2 keuntungan yang selama ini memberikan motivasi terhadap dirimu untuk bertahan dan masuk dalam dunia kanak-kanak yang selalu ceria dipenuhi sendau gurau seperti hakekatnya dunia ini.

Penduduk kampung tidak pernah tahu tentang menghargai para pendidik kecuali dengan cara mereka sendiri yaitu mereka akan bersikap hormat dan cenderung mendengarkan suaramu, kebanyakan dari mereka memang enggan untuk menyisihkan  sedikit hartanya untuk diberikan kepada para pendidik non formal, namun hal ini tidaklah membuat semangatmu surut justeru dengan tidak mendapatkan honor engkau telah mendapatkan kepuasan tersendiri , uang bukanlah satu-satunya untuk dimiliki namun kepercayaan orang kampung lebih dari segalanya dan uang bisa datang dari mana saja.

Dalam buaian dingin angin pagi kami berjalan beriringan menuju langgar kecil ditemani planet  merah yang selalu menyapa di semenanjung ufuk timur selain  rasi bintang gubuk penceng yang seolah selalu tersenyum pada manusia yang memperhatikan dirinya, kebanyakan orang yang belajar astronomi  di sekolahan akan mengenali setiap rasi bintang namun kami berdua yakin hanya segelintir orang saja yang selalu menjumpai rasi bintang gubuk penceng ini, mereka hanya paham dan mengenali lewat buku-buku pelajaran, rasi yang istimewa karena muncul setiap waktu tahajud tiba.

Seusai menjalankan sholat malam dalam keheningan kamu akan memilih untuk  membaca Al-Qurán dengan suara lirih sehingga orang yang berada di balik sekat langgar kecil itupun tidak akan mendengar suaramu, hanya mendengar semacam gumaman kecil namun indah didengarkan  sementara itu aku akan menghabiskan sisa waktu menuju subuh dengan wirid kesukaanku yantu sholawat jibril.

Bukan tanpa alasan aku dan Parmi melaksanakan tahajud berjamaáh walau kami menyadari bahwa kami bukan pasangan suami istri namun ibadah ini kami lakukan karena cinta pada Allah semata, bukan karena kami ingin berpacaran atau berbuat mesum di tempat suci bernama langgar, kami cukup tahu aturan untuk tidak saling menyentuh walau cinta kami ini sudah terdengar di seluruh penjuru kampung , kami akan selalu menjaga marwah kami sendiri untuk tidak jatuh kepada lembah dosa hanya karena menuruti nafsu belaka, kami menjaga kemurnian cinta dengan selalu menyandingkannya dihadapan Tuhan semesta alam.

Teringat dengan cerita seorang ulama’ besar dari Turki  bernama Jalaludin Arrumi yang begitu agung namun kemudian merasa kerdil setelah mendapatkan pertanyaan sederhana penuh mistik dari sang pengelana Syamsuddin At-tabrizi yaitu “Riyadloh dan Cinta”, pertanyaan yang kemudian membuat beliau  bergelut dalam ilmu kesufian dan mejadikannya orang yang sangat besar dan berjasa dalam ilmu tasawuf, itulah salah satu tujuan kami melaksanakan sholat malam, kami ingin masuk kedalam dunia penuh kasih, cinta , dan keperihatinan untuk menuju kepada cahaya maha cahaya, terbuai dalam alunan irama suka cita Tuhan, dan itu belum kami rasakan apalagi kami temukan.

Kisah kami di sepertiga malam memang menghadirkan makna yang mendalam, walau akhirnya Parmi kekasihku telah mendapatkan tambatan hatinya namun kehendak takdir ini tidak pernah menyurutkan niat kami untuk selalu menyelami makna cinta yang luas, kisah yang selalu aku baca setiap hendak tidur tiba sembari membayangkan keberadaanmu kini ada dimana. ( tegelinang 2018 )

Continue reading “Wajahmu Di Sepertiga Malam”

Cerpen

Pada Surau Tua

Seperti dalam sebuah keterasingan, itulah kata yang tepat untuk menggambarkan perasaan Karman malam saat ini , sebuah malam dimana malam hari ini adalah malam yang bertepatan dengan malam 12 tahun silam saat Parmi berusaha untuk menemuinya di sebuah surau tua yang sudah cukup lapuk namun beribadah di dalamnya sangatlah nyaman dan penuh kekhusukan, Parmi menemuinya bukanlah tanpa sebab dan alasan karena biasanya Parmi akan berusaha menghindari pertemuan di tempat terbuka dengan Karman karena ia tahu orang tuanya melarang keras untuk menjalin hubungan khusus dengan pria sederhana nan miskin ini.

Cinta tidak pernah memilih karena dialah yang mengarahkan kemana sebuah hati akan berlabuh itulah yang terjadi pada diri Parmi, dan keyakinan pada sebuah kesucian  perasaan inilah Parmi selalu memendam kerinduan yang mendalam yang terbungkus begitu rapi sehingga kedua orangtuanya tidak pernah mengetahui bahwa yang terpilih di hatinya adalah seorang Karman yang cacat ekonomi di mata kedua orangtuanya.

Malam itu adalah sebuah moment yang sangat penting bagi Karman, setelah melaksanakan sholat isya’ secara berjamaah dia berdoa dengan segala kesungguhan hati dan hampir-hampir menitikkan air mata karena sepertinya dia sudah tahu apa isi pembicaraan yang nantinya bakal dilaluinya, sebuah perasaan yang akan  hilang, kekesalan terhadap sebuah takdir, cacian dan umpatan terhadap hidup dan nasibnya..ya..sepertinya itulah yang bakal terjadi.

Parmi datang sekitar pukul 20.30 setelah surau sepi dari aktifitas peribadahan warga kampung dan Karman masih terlihat menelaah kitab kuning kesukaannya, Parmi tahu Karman hanya membuang kegundahannya saja dan bukan bermaksud untuk belajar kitab kuning , “ assalamu’alaikum akang” Parmi mengucapkan salam sebelum masuk ke dalam surau untuk selanjutnya duduk disamping Karman yang segera menutup kitab dengan kedua tangannya, “ Wa’alaikumussalam waraahmatullahi wabarakatuh Neng” terdengar jawaban salam yang diucapkan lirih penuh makna, “ Kang, akang pasti sudah tahu maksud Neng menemui akang malam hari disini, bukan maksud Neng untuk membuat luka ataupun sesuatu yang tidak baik untuk akang , namun hal ini memang harus Neng ungkapkan agar semuanya tidak berlarut-larut dan kita tahu apa yang mesti kita lakukan selanjutnya”, Parmi membuka percakapan yang hanya di jawab dengan dehem kecil yang mengandung sedikit kekecewaan dari Karman, “ Neng memohon sebuah keputusan dari akang yang pasti akan Neng lakukan demi cinta dan sayang Neng kepada akang walaupun harus ada yang Neng pertaruhkan nantinya, kang..orangtua Neng menghendaki agar Neng cepat menikah dan kemarin malam rumah Neng kedatangan tamu yang ternyata maksud kedatangan mereka adalah untuk melamar Neng, namun karena hati Neng yang telah berlabuh di hati akang maka Neng akan menerima semua jawaban dari akang, entah sebuah jawaban agar neng menikah dengan lelaki pilihan orangtua atau Neng harus mengikuti kemana akang akan membawa neng untuk membina keluarga kecil walau tanpa restu kedua orangtua Neng” , Parmi mengakhiri ungkapan perasaanya dengan mata yang berkaca-kaca.

Sebuah pilihan sulit buat Karman waktu itu, jika dia merelakan kekasihnya untuk bersanding dengan pria lain maka sama saja dia tidak menghormati ketulusan cinta Parmi selama ini, namun jika dia nekat mengajak Parmi untuk kawin lari tanpa restu kedua orangtua Parmi maka itu sama saja dengan menghadang doa buruk dari orang tua yang seharusnya ia hormati, Karman tertegun sesaat sebelum akhirnya membuka suaranya, “ Neng, akang tahu kualitas cinta Neng itu karena allah, dan Neng juga tahu bahwa akang sangat menyayangi Neng karena allah juga, namun bukan berarti kita harus egois mengarahkan takdir hidup menurut kehendak kita, akang minta dalam 3 hari ini kita bermunajat istokharah kepada allah untuk diberikan jalan terbaik, jika allah mengizinkan akang untuk bersanding dengan Neng maka pintu hati kedua orangtua Neng pasti terbuka buat akang, namun jika takdir berkehendak kita tidak bisa menyatu di dunia ini sesungguhnya akang akan mencari Neng di surga kelak dan tidak akan peduli dengan para bidadari yang telah dijanjikan karena bagi akang bidadari surga itu adalah Neng sendiri”, Karman terlihat sedikit sesak ketika menyampaikan kata-kata tersebut, “ 3 hari  lagi kita akan betemu di surau tua ini pada jam yang sama dengan membawa hasil istikharah kita” , lanjut Karman.

Takdir memang aneh ataukah kejam? ,  pada hari yang telah disepakati oleh Karman dan Parmi untuk bertemu,  keduanya membawa petunjuk yang mengharuskan keduanya berpisah dan akhirnya kisah itu bergulir dengan digelarnya pesta pernikahan Parmi dengan lelaki pilihan kedua orangtuanya, namun Karman tidak pernah berkeluh kesah dengan kejadian ini, rasa sakit yang dirasakan karena cinta telah dirubahnya dengan kegigihan bekerja dan saat ini adalah 12 tahun silam dimana Karman kembali di damparkan di tempat yang sama yaitu surau tua penuh kenangan.

Karman menghela nafas sambil berbaring dalam keterasingan yang asyik masyuk, sebuah perasaan yang sulit diungkapkan seperti dirinya sedang membuka sebuah kotak usang yang di dalamnya didapati mainan masa kecil yang sudah lama hilang namun masih terlihat cantik dan bagus untuk dimainkan itulah perasaannya kini, perlahan karman bangkit dan berjalan menuju ke luar dari surau tua itu dan  di dapatinya langit sangat cerah dengan hiasan sedikit gemintang karena bulan begitu penuh bersinar,  ia melangkah pelan pulang ke rumah dengan perasaan tenang dimana keluarga kecilnya telah menanti,  sambil memandang rembulan Karman berucap, “ Di surga kelak aku akan tetap mencarimu bidadariku, bukan disini ” , karena di kehidupan dunia ini ada 2 bidadari yang harus aku bahagiakan yaitu keluarga kecilku , seperti halnya engkau juga telah mempunyai keluarga yang harus kamu bahagiakan. ( tegelinang 2018 )

Continue reading “Pada Surau Tua”

Cerpen

SERULINGKU

Karman terus berjalan di tengah teriknya panas matahari yang menyengat ubun-ubunnya seakan matahari adalah sahabat dan teman setianya di setiap siang, sambil membawa sebuah keranjang seruling hasil karyanya dia singgah di perkampungan yang dilewati siang itu. Sesosok yang aku kagumi, itulah kalimat paling dalam setiap kali aku melihat lelaki tua itu singgah di kampungku. Dulunya Karman adalah seniman Kobro Siswo sebuah kesenian tradisionil yang cukup terkenal era 60an sampai 90an namun sekarang sudah kurang dikenal walau dibeberapa perkampungan masih ada yang melestarikannya. Karman selalu terampil membawakan lagu-lagu yang mengajak kepada keceriaan disamping pesan-pesan moral keagamaan lewat indah tiupan seruling setiap kali kobro siswo tampil menghibur masyarakat pada setiap akhir pekan masa itu namun sekarang tinggal kenangan saja.Sambil membuka bungkusan makan siangnya sebelum anak-anak kampung datang untuk mendengar kelihaiannya memainkan alat musik tiup itu sejenak Karman istirahat dibawah pohon trembesi tua yang berada tepat di pinggir kampungku, anak-anak kampung memang senang dengan sosok Karman yang ramah kepada siapapun, entah karena anak-anak itu ingin sekedar mendengar atau malah belajar namun ada satu atau dua dari mereka akan membeli hasil karya Karman tersebut dan Karman tidak akan pelit untuk mengajarkan apapun yang dia bisa karena dengan mengajarkan berarti dia telah memperoleh dua keuntungan, yang pertama anak-anak akan tertarik untuk memiliki kemudian terjadi proses negoisasi dan yang kedua dia merasa bahwa dengan mengajarkan ilmu meniup seruling berarti dia telah mewariskan budaya yang selama ini dia miliki dan tentu saja hal itu menjadikan hatinya merasa lega dan bangga. Istrinya hanyalah seorang pedagang gorengan yang bersedia keliling kampung untuk membantu ekonomi rumah tangganya yang pas-pasan karena Karman telah dikaruniai 3 orang anak yang kesemuanya laki-laki, yang paling besar hanya lulus SLTP dan sekarang ikut pamannya menjadi buruh bangunan di kampung-kampung sedangkan kedua adiknya masih berstatus pelajar di SD Negeri di kampungnya. Entah kenapa Karman selalu bangga dengan hasil usahanya itu yang secara ekonomi sangat pas-pasan dan kalau menilik secara kemakmuran materi mungkin Karman adalah salah satu dari sekian perumah tangga yang cukup jauh dari kesan layak, namun satu hal yang aku kagumi dari sosok Karman ini, beliau tidak pernah mengeluh walau kadang sedang dalam kekurangan, sebuah manusia langka di zaman modern ini. Kebanyakan aku menjumpai banyak keluh kesah dalam sebuah masyarakat miskin, apalagi menyangkut kecukupan hajat hidupnya dan Karman adalah pengecualian. Suatu ketika beliau bercerita kepadaku di sela-sela istirahatnya ” Saya bukan orang baik, namun saya hanya mencoba menjadi baik dan semuanya saya awali dengan penerimaan dan lapang dada dalam hidup, apa sich yang sebenarnya mereka cari? bukankah hidup itu hanya untuk menorehkan sebuah cerita yang harus direkam dan dituturkan kepada anak-cucu kita kelak?” dan saya tidak ingin ada cerita miring tentang saya yang menodai saya menjadi manusia”. Aku cukup kaget dengan tesis Karman tentang pandangan hidup ini, aku banyak melihat di televisi bahwa ketika ada kenaikan bahan bakar, bahan pangan mereka yang notabene ekonominya di atas rata-rata pada teriak dan merasa di anak tirikan dan beberapa pejabat negara juga PNS pasti akan segera menyusul kenaikan gaji mereka tapi sifat semacam itu tidak aku dapati dalam diri Karman.(bersambung)

Continue reading “SERULINGKU”

Cerpen

INGE

Namanya Inge, janda 65 tahunan yang sudah senang sakit-sakitan namun kadang terlalu bersemangat menghadapi hidup. Sosok yang sudah jarang aku temui akhir-akhir ini, sebenarnya Inge tinggal dengan seorang cucunya yang masih kelas Enam EsDe dan sebentar lagi akan merasakan kelas tujuh, saat ditanya “mau ngelanjutin kemana?” cita-citanya sich masuk EsEmPe favorite di kota ini yang sekarang sudah sedikit sombong untuk menerima orang-orang dari desa yang cenderung kumuh walau secara nilai dan prestasinya tidak kalah dengan orang-orang kota, menjadi orang kota asyiknya hanya satu yaitu belajar harus di Bimbel terkenal dimana sang tutor atau guru bisa diajak diskusi dan curhat tentunya sedangkan di sekolahan mereka dihadapkan pada pencapaian prestasi, lainnya tidak.

Tapi hebatnya adalah mereka yang belajar di Bimbel-bimbel ini selalu mendapat rangking di kelasnya, mungkin karena kurikulum Bimbel lebih canggih dari sekolahan formal. Inge mempunyai seorang anak perempuan yang masih bekerja sebagai TKW atau Tenaga Kerja Wanita di negeri sebelah, konon katanya sich menjadi babu pada majikan yang loyal disamping sangat kaya, walau kenyataan secara bulanan emaknya sicucu ini masih jarang mengirim wesel uang kepadanya sebagai bentuk tanggung jawab atas anaknya yang dititpkan kepadanya, namun Inge tidak pernah mengeluh dan menyerah dalam hidup, segala upaya akan ia usahakan untuk menghidupi keluarga kecil ini walau beban cukup berat harus ia tebus dan bayar seperti sedikit sakit-sakitan atau encoknya kumat, tapi hal itu selalu dilakoninya dengan senyuman.

Sekarang saya akan menceritakan tentang menantunya atau bapaknya si cucu dari Inge, menantunya ini dulu konon seorang kuli bangunan dari provinsi seberang yang sedang mengerjakan proyek jembatan sungai samping Dusunya yang rusak akibat diterjang banjir bandang 15 tahun silam tentu mereka datang atas permintaan dari sub kontraktor yang memenangkan tender dari pemerintah itu dan tentu saja dengan kelompoknya di sebuah CV Anu. Tapi sejarah kadang berlaku kejam ketika si cucu baru berumur 2 tahun, sang menantu ini harus boyong pindah untuk mengikuti CV Anu tadi keluar jawa mengerjakan mega proyek Entah sebagai konsekwensinya dan panggilan hidup tentunya namun sampai si Tole sudah hampir lulus EsDe si Bapak tak kunjung pulang untuk melihat buah cintanya ini dan seakan membiarkan Ibunya dan si nenek untuk merawat dan membesarkan karunia dari percintaannya, ironis memang. Inge patut bersukur karena ketika pemerintah membagikan Bantuan Langsung Sementara Masyarakat (BLSM) dirinya berhasil masuk data dan mendapatkan ‘Bebungah Rp.300.000,00 untuk sekali ambil yang dijelaskan bantuan sebesar itu adalah akumulasi dari tiap 2 Bulan dan ia akan menerima selama 3 tahap atau sama dengan 6 Bulan mendapatkan Bantuan langsung tersebut.

Malam sebelum esoknya ia harus ke Kantor Pos untuk mengambil haknya yang telah Pemerintah berikan kepadanya ia didatangi oleh Bapak RT setempat yang membawa Linmas Dusun anak buahnya, singkat cerita Inge harus merelakan Rp.50.000,00 untuk tiap pengambilan BLSM untuk dikumpulkan di RT setempat yang konon akan diberikan kepada yang berhak menerima namun belum mendapatkan jatahnya. Inge tentu saja merasa sedikit keberatan dengan kebijakan Bapak RT yang di nilai sefihak dan mendadak pemberitahuannya, ” Lho pak RT khan tahu bahwa ini hak saya dan sebenarnya untuk saat ini saya sangat butuh uang tersebut dan apakah kebijakan Bapak ini sudah di musyawarahkan oleh pihak-pihak sang penerima dan mereka yang akan mendapatkan secuil potongan tersebut?”, kalimat itu mengalir begitu saja dari mulut Inge. Sepertinya Bapak RT kita ini sudah menyiapkan strategi untuk menjawab pertanyaan yang mungkin muncul, dengan cukup tajam Bapak RT berkata “Bu Inge, sampyan mendapatkan ini khan secara cuma-cuma dan bahwa masih banyak warga yang tidak komanan di kampung kita ini, sepertinya ndak salah saya membuat kebijakan tersebut demi kebersamaan kita”.

Inge masih sedikit getir menyela ucapan Pak RT tadi ” Bukankah pemerintah masih menerima data yang di ajukan dari tingkat bawah dan bagaimana jika bulan depan yang mendapatkan secuil ini mendapatkan haknya secara penuh?”. Tampa basa-basi bapak RT langsung memotong kalimat Inge tadi, ” Sebenarnya mau ndak sih ibu Inge ini memberikan sedikit hak ibu untuk mereka?”. Kalimat ini sudah menyudutkan Inge dan terpaksa ia harus merelakan. Pagi itu suasana cerah sekali setelah semalam hujan cukup deras mengguyur kampung itu dan dengan senyum lebar inge menyambut kedatangan hari itu dengan gembira walau nantinya ia harus rela menyerahkan sebagian kecil haknya untuk orang lain. (tegelinang 2013)

Continue reading “INGE”