Esay

Terasing

Karman melangkah pulang ke rumah dengan sedikit gontai bersama banyak pikiran memenuhi rongga-rongga otaknya, dia tidak habis mengerti mengenai keadaan lingkungannya yang dalam pandangannya terasa  mulai berubah tidak seperti zaman remaja bahkan zaman kecilnya dulu, perubahan secara  radikal yang sepertinya terhitung semenjak masyarakat disekitarnya senang akan mengkonsumsi kotak berwarna di atas meja yang menyajikan aneka menu berita, tentang kriminalitas, HAM, pelecehan seksual, atau bahkan menonton para penggosip murahan yang acapkali mereka bumbuhi dengan merendahkan harga diri lainnya, tentang aib yang diumbar, dan tentu saja politik!.

Seharian tadi Karman sudah memenuhi kewajibannya sebagai seorang imam , pemimpin  sebuah keluarga kecil yang dirasakannya bahagia, dengan kata lain keringatnya hari ini adalah bukti tanggung jawab yang ia pikul selaku seorang ayah dari kedua puteri cantiknya serta sebagai seorang suami teladan dari seorang istri yang selalu setia menunggui suaminya pulang tanpa pernah terucap omelan sedikitpun, sifat itulah yang membuat Karman dulu mencintainya sepenuh hati, bekerja sebagai kuli bangunan yang kata orang-orang sukses adalah sebuah pekerjaan yang  tidak akan pernah memberikan  kemapanan, namun justeru Karman mempunyai banyak waktu untuk berfikir tentang keadaan sekitar melalui pengamatan sederhana, melihat banyak hal dari sudut pandang lain dan mengikuti lahirnya  sebuah perubahan kecil  yang lambat laun telah menjadi sebuah tradisi dan budaya dalam kampungnya, atau bahkan dengan gamblang ia telah menyaksikan tentang semangat masyarakat yang sudah mulai kendor tergerus tren urbanisasi dan keserakahan diri sebagai pemuja materialisme, sebuah semangat keberagaman dan kegotong royongan yang kini hampir menjadi sebuah cerita indah, miris! .

Sebenarnya tidak banyak orang seperti Karman yang memanfaatkan malam sebagai obyek perenungan, berteman dengan rokok lintingan terbuat dari tembakau murahan dan kopi hitam sedikit manis, jika pun  istrinya sedang ada kelebihan uang belanja maka dengan setia dia akan membuatkan sekedar pisang goreng atau bakwan gandum sebagai teman si kopi dan si lintingan, kadang kala ada satu dua teman sebaya di kampungnya datang untuk sekedar  mengobrol , menemani hingga larut malam, kesederhanaan hidup serta kejujuran berucaplah yang membuat temannya kerap mendatangi untuk berbagi cerita.

Kemelaratan tidak bisa dihindari karena ia adalah peran yang harus dimainkan meskipun banyak orang menyangkalnya, entah karena Karman menyukai peran itu atau karena ia dan keluarganya tidak pernah berada dalam kondisi ekonomi mapan menurut para tetanggannya yang membuatnya nampak melarat dengan masih menghuni sebuah rumah sederhana terbuat dari gedek bambu tanpa kursi-kursi di dalamnya serta temaram lampu neon 10 watt yang selalu menemani terang malam-malam panjangnya.

Dalam 2 bulan terakhir ini seorang Karman yang biasanya nampak rajin mengikuti berbagai kegiatan kampung tiba-tiba menjadi pribadi yang tertutup, jarang bergaul, dan seperti punya perangai untuk menghindari setiap keramaian yang ada di kampungnya, kasak-kusuk para tetangga terdengar dari beberapa sudut kampung sepinya, membicarakan sebuah perubahan drastic pada diri Karman, santer terdengar Karman sekarang sudah punya jalan yang berbeda dengan para tetangganya, bahkan isu miring dari nyinyiran terbusuk yang sempat terdengar adalah Karman menutup dirinya karena sudah bergaul dengan jaringan radikal, Karman sendiri tidak pernah menggubrisnya bahkan sifat murah senyumnya tetap dapat dinikmati oleh warga kampung kecuali Karman memang saat ini menutup segala akses aktifitasnya kepada penduduk kampung dimana ia dan keluarganya tinggal.

Bukan karena mengikuti radikalisme, Karman paham betul tentang arti fundamentalis, radikal, aliran kanan, maupun kiri, namun kesengajaan dalam menjaga pergaulan lebih disebabkan karena factor bahaya riya’, pamer, dan doktrin sekulerisme di kampungnya, Karman tidak habis piker tentang perubahan pola pikir dari para tokoh garda depan dikampungnya yang sering disebut kyai itu kini sudah menggampangkan klaim kebenaran, mengkafiran terhadap sesama, maupun bujukan-bujukan untuk masuk kedalam politik praktis, pengamatan sementara Karman tertuju pada kotak berwarna diatas meja bernama televisi yang saat ini sudah begitu masif berpengaruh sekali terhadap nalar abstrak bernama iman, selain televisi kecurigaan Karman jatuh pada para politisi yang sekarang mulai turun hingga kampung-kampung untuk mendulang suara, kecurigaan ini bukan tanpa alasan karena pengaruh dari janji manisnya sudah terasa, Karman melihat bendera-bendera parpol mulai berkibar di sana-sini menghias hijaunya jalan asri dengan pagar pohon perdu dikampungya, pengajian ibu-ibu diwarnai dengan mengarahkan kepada gambar parpol tertentu, kumpulan pemuda sedikit banyak membahas tentang siapa caleg yang pantas mendapat dulangan suara dari mereka, dan bahkan pada khotbah di masjid yang suci tempat Tuhan berumah pun terselip ucapan murahan tentang kebenaran parpol tertentu dan menyesatkan parpol lainnya dari bibir manis sang khotib.

Menurut Karman ini sungguh kejadian luar biasa, dimana mereka yang dulu bersuara bahwa agama adalah pemersatu, agama adalah segala nilai keindahan?, yang ada sekarang adalah agama sebagai alat untuk mengolok-olok golongan tertentu, ini sebuah kebiadaban yang harus dilawan walau harga diri sebagai taruhan suara batin Karman terdengar tegas dan penuh kepiluan, inilah alasan Karman saat ini mengasingkan diri dari kerumunan orang banyak, Karman hanya ingin jeritan suara pedihnya didengarkan,  bukan .., Karman bukan membenci parpol, Karman tidak anti caleg namun tempat dan waktunya harus jelas, jangan ketika dakwah bendera dibawa, jangan ketika ngobrol sehabis wiridan dimasjid warna baju dibahas, jangan ketika pengajian ibu-ibu nama caleg ditawarkan, bermain kok tidak elegan!, Karman menghela nafas panjang sembari melinting rokok tembakau murahannya seraya berfikir bagaimana masyarakat kampungnya tidak terlalu dalam terjerumus kepada pemikiran politik praktis yang ujung-ujungnya adalah saling membenci, seperti menaburkan bibit-bibit perbedaan yang akhirnya membuahkan klaim kebenaran dan saling menjatuhkan satu dengan yang lain, Karman bingung harus berbuat apa dan bagaimana, tidak terasa waktu hampir pukul 03.00 dini hari saat dilihatnya tembakaunya mulai menipis setelah itu ia merebahkan tubuhnya di bentangan tikar pandannya yang mulai terlihat lusuh. ( tegelinang 2018 )

Continue reading “Terasing”

Iklan
Esay

Belajar Dari Orang Mati

Tahun ini aku berniat untuk mendedikasikan separuh waktuku untuk mengunjungi beberapa pengikutku yang ada di beberapa kota kecamatan, bukan karena yang lain melainkan karena  mereka menghendaki untuk bertemu denganku lantaran ada beberapa masalah yang akan didiskusikan denganku.

Mungkin sudah terlalu lama aku berdiam diri dalam kesunyian,  hampir 15 tahun mengasingkan diri dari kerumunan manusia, semenjak pikiranku terguncang dengan berbagai permasalahan yang timbul di sekelilingku, terutama masalah keduniawian dan selebihnya pengakuan akan  martabat manusia yang sepertinya tidak pernah terpuaskan, identitas kosong  yang  membuai jiwa.  Mereka berlomba untuk mendapatkan tempat dihati manusia lain, saling sindir dan nyinyir demi untuk mendapatkan kepercayaan semu, banyak diantara mereka saling menjegal, memanipulasi keadaan, mempertontonkan harta, dan bahkan saling memperkosa hak-hak orang lain agar mendapatkan restu dari yang bernama kelas sosial.

Tahun ini aku telah berniat untuk mendedikasikan separuh waktuku untuk mengunjungi beberapa pengikutku  sekedar melihat perkembangan zaman setelah 15 tahun aku tinggalkan, para pengikutku itu sendiri hanya  terdiri dari perumahtangga sederhana yang sering mendapatkan celaan dan sindiran dari mereka yang  merasa dirinya kaya, dulu sebelum pengasingan ini aku jalani  banyak hal memang membuatku gundah, membuat aku termenung, berfikir akan tujuan sebenarnya hidup, syahdan aku bertekat untuk menjauhi dunia manusia dalam pengembaraan spiritualku.

Kecamatan Flamboyan adalah tujuan pertamaku dalam misi ini dimana aku menemui Sutjai yang saat ini sudah menduda sekitar 5 tahun silam lantaran istrinya meninggal karena serangan kangker rahim ( serviks ), Lee adalah putera satu satunya dari keluarga ini yang sekarang berumur sekitar 30 tahun yang bekerja sebagai buruh bangunan dengan gaji pas pasan untuk mencukupi hidup mereka berdua sedangkan Sutjai sahabat yang sekaligus  pengikutku masih seperti dulu yaitu hidup dari mencari kayu bakar di pinggir hutan kecil untuk menyambung hidup keluarganya, sebuah keluarga miskin yang dengan senang hati menjalani takdirnya.

Saat aku datang Sutjai tampak sumringah dengan senyum tulus yang tersungging dari bibirnya, kami bersalaman sebelum akhirnya Sutjai mempersilahkan aku duduk di tikar butut penuh sulaman disana sini dan membuatkan secangkir kopi pahit untukku, suaranya masih terdengar jelas tanpa ada beban dalam hatinya tatkala dia berbicara kepadaku, “Silahkan diminum Yasa, masih suka kopi pahit bukan? ” nadanya ramah penuh gairah.

Kami terlelap dalam perbincangan arah mata angin, dimulai dari barat terus berlari ke timur dan tahu-tahu sudah muncul si selatan, tiba-tiba  perbincangan kami malah sudah berada diutara dan akhirnya menukik ke barat lagi, obrolan yang tidak berbobot namun penuh makna keakraban, tanpa tendensi dan hanya kami yang tahu endingya ada dimana, itulah mengapa kami menyebut perbincangan ini sebagai jenis perbincangan arah mata angin, obrolan tanpa tuan.

Pada akhirnya aku harus menceritakan perjalanan sunyiku yang aku harapkan masih bisa memberikan motivasi untuk Sutjai , paling tidak pengalamanku menyatu dengan alam akan memberikannya gambaran baru agar menjadi menjadi sudut pandang lain terhadap hidupnya dan bahkan kehidupannya, “Yasa, berilah satu patah dua patah kata untuk aku dan anakku” pintanya,  “Apalagi yang harus ku katakan kepadamu setelah kusampaikan tentang ketidakkekalan? “jawabku. “Belajarlah dari orang yang telah mati” aku melanjutkan, “lihatlah mereka seonggok daging yang tidak berguna dan cenderung untuk dihindari, seperti sabda Nabi kita bahwa kematian adalah sebuah pintu dimana segala sesuatu yang hidup akan memasukinya”.

Benar, bahwa orang yang telah mati akan meninggalkan segalanya, kekayaan, keangkuhan, derajat, pangkat, jabatan dan yang ditinggalkannya hanyalah harga diri sewaktu hidup , dan yang paling berguna tidak lain kecuali amal perbuatan baik yang telah diperbuat olehnya sewaktu masih di dunia. Orang yang mati tidak bisa mengurus dirinya sendiri, bau busuknya akan mengganggu lingkungan untuk itulah dia dikubur atau mungkin di kremasi , orang yang mati tidak bisa meminta apapun  kepada siapapun dan punya tanggungan yang tidak dapat diselesaikan olehnya, belajarlah dari ketidak berdayaannya.

Seperti halnya orang yang mati, itulah kita sebenarnya, dihadapan Tuhan sang penguasa alam kita hanyalah seonggok daging tanpa harga jika bukan karena ketaatan kita, kita akan dibuang dan bahkan dipanggang ke dalam tempat paling hina, jangan pernah takut menjadi miskin harta karena miskin harta adalah jalan hidup yang mesti ditempuh, jadilah orang yang kaya hatinya dengan mudah tergerak untuk menolong sesama, keangkuhan dan kesombongan dibumi hanya membuat kita unggul sementara di hadapan manusia sedangkan setelah memasuki gerbang kematian semua menjadi sia-sia dan miskin disana adalah miskin yang sebenar-benarnya setelah itu tidak ada selain penyesalan yang tidak mungkin ditebusnya kembali.

Aku pulang setelah menghabiskan satu gelas kopi pahit pemberian Sutjai untuk melanjutkan perjalanan ke beberapa pengikutku lagi sekedar untuk melihat perubahan 15 tahun terakhir ini, dari kejauhan aku melihat Sutjai menangis tersedu di pojok ruangan rumah bambunya. ( tegelinang 2018 )

Continue reading “Belajar Dari Orang Mati”

Esay

Mereka Yang Tamak

Aku bertemu dengannya kemarin sore di suatu senja yang indah di persawahan selatan desa saat aku mencoba kembali untuk mengenang masa kecilku dulu, menapaki pematang sawah yang mulai menciut dengan iringan  indah suara gemericik air jernih selokan yang kini semakin menyempit di tebas keserakahan manusia yang konon katanya memperjuangkan hak-hak sejengkal tanahnya tanpa berfikir untuk berbagi dengan kearifan lokal.

Wajahnya mulai sedikit tirus setelah hampir 20 tahun kami tidak bersua namun tatapan matanya masih tajam seperti dulu, setajam pemikirannya yang tidak pernah menyiratkan ketuaan fisiknya, ah..Yasa namanya, sebuah nama yang dulu kami takuti karena keberanian untuk adu fisik jika hatinya tidak berkenan dalam sebuah permainan masa kanak.

Kami bertemu dalam ketidaksengajaan saat aku mencoba untuk mengenang masa kecilku yang beberapa waktu ini  kurindukan , seperti sebuah benda yang hilang dan angan bergerak untuk mencoba mencarinya kembali, mengutak-atik kotak usang antik bernama masa yang menelan umur kami namun ingatan keriangan itu masih segar dalam ingatanku seperti baru terjadi beberapa waktu lalu saja.

Yasa kawanku bercerita dengan antusias tentang hidupnya kini, 2 anak gadisnya telah dinikahkan dan hidup bahagia dengan suami suaminya yang bekerja mapan sebagai pegawai negeri seperti yang dicita-citakannya dulu, mereka telah mempunyai rumah cukup bagus dan saat ini sedang menunggu kelahiran putera-puterinya yang tentunya membuat Yasa semakin bangga dengan keadaannya.

Satu hal yang berbeda dari Yasa kawanku itu kini, yaitu pemikirannya yang muncul dan cukup menggetarkan perasaanku, “Joe,  apa yang sudah kamu pelajari selama ini tentang hubungan manusia dan alam sekitanya” tanya Yasa kepada ku, “Manusia adalah alam itu sendiri yang mencoba berbuat tamak dengan sesama, selain membuat kerusakan di sana-sini” jawabku datar.

Kawanku itu manggut-manggut mendengar jawabanku seraya menimpali dengan argumen lirih dan terdengar sumbang “ Manusia itu hakekatnya memang merusak alam yang artinya dia menjalankan perannya dengan bagus, seperti seorang aktor  yang memang harus luwes untuk memerankan apa yang dikehendaki sang sutradaranya, sedangkan ketamakan adalah laksana baju zirah yang dibuat untuk membuat takut dengan menggetarkan hati orang lain agar dia terjaga dari ketamakan manusia lain”, imbuhnya.

Perbincangan kami makin asyik manakala senja semakin memerahkan langit diufuk barat sehingga warna orange tua yang terpadu dengan perak menjadikan langit seperti taman impian bermain semua orang, tentu saja hal ini mejadikan perasaan mendalam bagi mereka sang pengagum senja, duduk bersila dipematang sawah dengan hamparan warna kuning emas karena padi sebentar lagi dipanen.

“Pernahkah kamu melihat  bahwa kita semakin kehilangan kekayaan yang  sebenarnya?” Yasa memberatkan nadanya yang menandakan bahwa pertanyaan tersebut tidak butuh jawaban, ya..ketamakan adalah faktor perusak yang maha dahsyat , namun hal tersebut malah menjadi sebuah kebanggan yang hampir diidamkan oleh banyak orang, lihatlah Joe..dulu kita bermain disini bersama teman-teman kita, berlarian melalui pematang  yang kemudian kita akan menceburkan diri di sunga kecil ini namun sekarang tengok, ini bukan sungai kecil namun lebih tepat di sebut selokan, ini ulah ketamakan!!! , Lanjut Yasa berapi-api. “Mereka tidak pernah berfikir jika musim hujan tiba, dengan debit yang tidak bisa ditahan oleh lebar dan dalamnya sungai kecil ini, apa yang akan terjadi??? Kerusakan!.

Memang benar apa yang kawanku itu ucapkan, kerusakan alam yang akan  berimbas kepada manusia itu sendiri bisa jadi dimulai dari ketamakan mereka akan alamnya, teretorial yang berlebihan!. Aku pulang  kerumah dengan perasaan gundah, membayangkan beberapa spesies masa kecilku yang kini telah hilang dan tidak pernah kutemukan, apakah ini sebuah  pertanda akan adanya ancaman kerusakan lebih besar yang mengintip dibalik lembutnya sang  waktu?, Gundahku mungkin tidak beralaskan, namun paling tidak aku harus mencari cara untuk menyelamatkan hidupku sendiri, mungkin  bisa dimulai dari memusuhi tamak. ( tege linang 2018 ) Continue reading “Mereka Yang Tamak”

Esay

Lelaki Peziarah Malam

Lelaki itu dengan cekatan mengambil jaket imitasi berwarna cokelat tua berumur yang tergantung di paku tiang rumahnya, seperti pada hari-hari sebelumya setiap malam rabu sekitar pukul 21.00 WIB dia akan melaksanakan tirakat dan keprihatinan atas hidup dengan mengunjungi makam-makam para hukama’ dengan maksud jiwanya akan tersandar pada petuah-petuah para ulama’ tersebut yang sampai sekarang masih segar tertulis di lembaran-lembaran catatan bahtsul masail.

Banyak orang beranggapan bahwa lelaku yang dijalaninya itu hanya mendatangkan  kepercumaan saja, mubadzir, musyrik, bidáh, tidak bermanfaat dan bahkan malah memadhoroti hidupnya, “lha wong pingin mulyo kok malah zaroh, mbok yo golek kerjo sik bener, mbengi ge turu” orang pingin mencapai kemuliaan kok malah berziarah, seharusnya cari kerja yang betul dan waktu malam itu hendaknya digunakan untuk istirahat tidur” itulah beberapa pendapat masukan dari tetangga kanan kiri.

Lelaki itu adalah orang yang sederhana dengan hanya mempunyai beberapa lembar kain baju dan dua sarung kotak-kotak yang sudah kumal, pekerjaan setiap harinya membantu para tetangga yang membutuhkan tenaganya seperti membersihkan rerumputan yang mulai mengotori lingkungan rumahnya, mencarikan makanan kambing, atau bahkan kadang-kadang dia dengan suka rela akan membersihkan sampah-sampah yang mengotori jalan kampungnya, banyak orang beranggapan otaknya sedikit miring karena perangai hariannya cenderung pendiam dan bahkan dalam pekerjaannya dia tidak pernah mematok harga tenaga seperti kebanyakan profesi professional.

Lelaki itu sebenarnya mempunyai isteri yang sabar dan satu puteri kecil umur sekitar 2 tahun, semenjak kecil hidupnya tergolong pas-pasan dan bahkan cenderung kekurangan namun menurut banyak cerita dari tetangga sekitar lelaki itu tidak pernah mengeluh dan bahka akan banyak menebar senyuman tatkala berpapasan dengan warga dan itu yang disayangkan oleh sebagian tetangganya, orang sebaik itu kok belum dapat pekerjaan tetap, belum bisa mengubah nasibnya, dan malah menziarahi batu-batu saksi bisu pemakaman para ulama’, apakah dengan tindakan seperti itu diharapkan mampu mengubah nasibnya ? atau jangan-jangan sang lelaki malah menganut faham fatalisme? .

Sore ini saya memberanikan diri sowan kepada lelaki berjaket cokelat tua yang warna aslinya hampir pudar dan hobby ziarah tersebut, saya diajak masuk dengan senyuman terbuka tanpa beban, saya duduk di kursi tua beranyamkan penjalin, isterinya yang berdandan sederhana segera menghidangkan 2 cangkir kopi manis sebelum kami banyak ngobrol, sedangkan saat itu saya mendengan tangisan manja dari buah hati mereka yang ditinggal ibunya membawakan kami minum, segera setelah ibunya selesai tangisan manja itu tidak terdengar lagi.

Namanya Karjo, orang yang tidak berpendidikan secara formal namun sekitar 15 tahun mengenyam pendidikan di sebuah pesantren salafy di lereng Merapi, kesederhanaan adalah tujuan hidupnya dia tidak bermaksud maupun bercita-cita menjadi kaya ataupun sukses materiil seperti yang orang kebanyakan lakukan dan itu adalah keputusan yang di amini oleh isterinya, ziarah merupakan persembahan malam yang mana dia merasa khusuk mendoakan banyak orang terutama kedua orang tuanya serta guru-gurunya, dia tidak punya niat untuk mencari harta dengan lelaku ziarah yang rutin dilakukannya karena arti ziarah terlalu sempit jika dihubungkan dengan kebutuhan hidup, baginya ziarah malam adalah hadiah terindah yang di berikan Tuhan kepadanya untuk selalu mengingat kematian dan doa tulus dikala orang-orang terbuai menonton televise maupun tidur awal agar keesokan harinya bisa sehat bekerja.

“Dunia bukan tujuan utama, nikmat materiil tidak akan pernah melegakan dahaga akan keduniaan, dunia tidak akan pernah cukup untuk dicari maupun memenuhi perut kita, ziarah adalah pandangan lain tentang arti sebuah ketidak kekalan, ketidak berdayaan manusia, keterbatasan pengetahuan makhluk maupun sempitnya akal pikiran, ziarah memberikan ruang dan waktu kepada jiwa-jiwa yang hidup dari kematian dunia, itulah intisari dari lelaku” Karjo sedikit terbata-bata merampungkan kalimatnya.

( tegelinang 2018 )

siluet-orang-laki-baca-al-quran

Esay

Rindu , Cinta, Dan Kesunyian

Manusia adalah sebuah makhluk yang terkodrat memiliki banyak kemampuan dalam mengekspresikan berbagai jenis perasaan emosional serta memiliki perasaan yang mendalam kepada semesta dan serta kepada berbagai makhluk yang tercipta di alam ini.

Perasaan cinta yang mendalam dalam kalbu manusia di sebut kasih murni yang sulit tersentuh oleh akal pikirannya sendiri, dengan cinta manusia bisa menjelma menjadi dewa yang sangat mulia namun dengan cinta juga manusia akan terhempas kepada rasa gila yang tak akan pernah berhenti, sebuah penderitaan tiada akhir.

Mengiringi cinta  adalah rasa rindu dendam dimana perasaan ini lebih cenderung kepada sifat penyendiri dan menggantung di semesta sendu-sedan yang terbungkus air mata suka-duka.

Rasa rindu itu seperti seorang pencuri yang menyelinap,  manakala dia mempunyai sebuah kesempatan yang bahkan kesempatan tersebut sering melupakan waktu, apakah pagi hari, siang, semenanjung sore, ataukah malam hari dia akan tetap beraksi dan membabat habis segala kesibukan untuk mengistirahkan rasa itu jauh ke ujung kesunyian untuk kemudian menyerap habis serotonin yang ada di seluruh tubuh sehingga jiwanya menjadi segundah ketenangan itu sendiri.

Cinta itu perasaan yang meminta untuk diungkapkan kepada semua warga semesta, namun rindu lebih condong masuk kepada aurora kesunyian yang berwarna – warni, bagi insan yang dimabuk cinta maka ia akan bertingkah untuk mengekspresikan perasaan tersebut agar diketahui oleh sekelilingnya atau dia akan menjelma menjadi detektif yang menyibukka dirinya mengorek keterangan selengkap-lengkapnya tentang dia yang dicintainya.

Pertanyaan yang menarik adalah, dimanakah hubungan yang menggravitasi antara Cinta, Rindu, dan Kesunyian?, apakah cinta hanya diperbolehkan kepada satu lawan jenis? Dan bagaimana jika kita merindu kepada 1 hingga 3 seseorang yang bakal kita cintai, dan apakah ruang kesunyian tempat bersarang rindu tidak goyah bahkan penuh oleh duri-duri cinta yang kita ciptakan sendiri?..

Bagaimanapun cinta akan tetap menjadi misteri sebagaimana kisah klasik Rama-Shinta dan hubungan gelap setelah Rahwana yang berhasil menculik shinta bahkan tanpa Rahma tahu sebenarnya.

Namun kekuatan cinta tetap akan mengobarkan peperangan dan membabat habis ruang sepi rindu setiap insan yang dibutakan oleh cinta..karena ini adalah tenunan takdir yang mengkaini kehidupan manusia sampai dunia ini hancur kelak. ( tegelinang 2018 ) Continue reading “Rindu , Cinta, Dan Kesunyian”

Esay

Go Back To The Door is Gobak Sodor

Orang jawa biasa menyebutnya dengan Gobak Sodor yaitu sebuah permainan tradisionil yang menguji mental serta kelincahan sang pemain dan dimainkan dihalaman rumah minimal oleh 4 orang untuk 1 grup artinya dalam permainan ini kita butuh 8 orang pemain.

Caranya sangat sederhana, buatlah 4 kotak bujursangkar yang tersambung satu dengan yang lain dengan dimensi 5 m² untuk tiap bujur sangkar ( buat garis yang kentara lebih baik dengan tambahan gamping agar garis tetap awet.

Perwakilan dari grup ( biasanya ketua ) harus melakukan hom pimp ah untuk menentukan siapa yang akan jaga garis atau yang bermain terlebih dahulu ( ingat, yang kalah harus jaga garis ya..).

Setelah proses hom pim pah selesai maka permainan bisa dimulai yaitu untuk sang penjaga garis awal ( pintu ) ada orang pertama, di garis tengah 1 orang lagi, di garis ke dua ( bagian yang membelah 4 bujur sangkar ) ada 1 penjaga lagi, dan terakhir penjaga yang ada di garis paling atas sendiri.

Nah..para penjaga garis sudah siap artinya sekarang kita bermain ya.. 4 pemain pemenang hom pim pah harum masuk ke bujur sangkar dengan tanpa tersentuh oleh para penjaga garis hingga bisa kembali ke titik start lagi, ini memerlukan trick khusus yaitu bagaimana tim harus bekerjasama mengelabuhi para penjaga gawang agar tidak bisa menyentuk ke empat pemain, trick dan kerjasama harus diiringi dengan kelincahan serta kadang-kadang perlu ungkapan-ungkapan untuk mengelabuhi penjaga garis. Continue reading “Go Back To The Door is Gobak Sodor”

Esay

Tradisi Nglencer

Patutlah kita bersyukur kepada Tuhan untuk takdir kita dalam hidup ini menjadi orang Jawa. Konon orang jawa adalah termasuk umat yang istimewa dalam qodlo dan qodarnya, bagaimana tidak? pada setiap laku dan lelakunya manusia jawa ada terkadung sebuah nilai spiritual yang amat sangat tinggi, dimana mungkin kurang bisa didapatkan pada lelaku manusia di belahan dunia manapun termasuk di Arab sana yang notabene adalah tanah kelahiran budaya islam. Apalagi budaya jawa adalah budaya yang amat fleksibel untuk bisa di kawinkan dan di impelementasikan dalam budaya islam yang sangat agung itu, misalnya budaya jawa sangat mengenal rasa malu, menjunjung tinggi nilai sopan santun dan andap asor juga cenderung menjaga hubungan kekerabatan atau silaturrahmi, itu hanya sekelumit perilaku orang jawa dalam menjaga tradisi dan kebudayaannya dan masih banyak lagi tentunya jika ingin kita telusuri lagi.

Berbicara menjaga hubungan kekerabatan tentunya tidak akan terlepas dari pesan Rosul SAW yang menekankan begitu pentingnya menjaga dan melestarikan lelaku ini sehingga beliau berpesan bahwa jika manusia ingin di lancarkan rezekinya, salah satunya adalah dengan melakukan budaya silaturrahmi ini. Ada sebuah rahasia besar didalam silaturrahmi dimana orang lain akan menjadi dianggap saudara dan menimbulkan sebuah kepercayaan di samping menjauhkan perasaan benci antar manusia. saya teringat ketika Nabi Muhammad bersilaturrahmi kepada penduduk Thoif waktu itu dan tanggapan dari masyarakatnya sangat ingkar dan Beliau hanya mendapatkan seorang pengikut yaitu Adas, namun karena sebuah perintah dari Tuhan untuk tetap bersilaturrahmi dan berdakwah maka Nabi Muhammad pun tidak lantaran menyerah dan putus asa walau lemparan kotoran dan batu Beliau terima dari penduduk Thoif saat itu dan walaupun hanya satu orang yang mau mendengar panggilan Beliau.

Sudah menjadi tradisi turun temurun pada masyarakat Jawa setiap kali masuk Bulan syawal atau Iedul Fitri pastilah moment tersebut di gunakan untuk berkunjung ke sanak famili, saudara, handai taulan, Guru maupun ke teman-temannya. Setelah masyarakat jawa selesai menjalani ritual puasa sebulan penuh dan merasakan tingkat spiritualnya bertambah maka yang datang adalah perasaan bahagia dan suka cita yang kemudian menghadirkan keinginan untuk membagi kebahagiaan tersebut dengan orang lain, inilah awal mula tradisi Nglencer di jawa timur atau Ujung sebutan yang akrab di telinga orang jawa tengah. Masyarakat jawa akan dengan suka rela mendatangi kerabat, saudara, handai taulan maupun guru juga teman dekatnya dalam silaturrahmi Nglencer ini walaupun perjalanan yang di tempuh untuk sampai ke lokasi memerlukan waktu yang lama maupun medan yang cukup sulit.

Saya teringat waktu masih kecil dahulu, saya sering diajak orang tua untuk berkunjung ke sanak famili keluarga saya yang cukup kjauh dan harus menempuh perjalanan kaki salama 2-3 jam namun waktu itu sungguh saya dapat merasakan sebuah perasaan yang amat sangat penuh suka cita. Ketika kita berbicara tentang Nglencer atau Ujung kedalam konteks kekinian tentulah pada masing-masing tempat akan kita dapati perbedaan yang amat mencolok, semisal kita memandang budaya perkotaan dalam impelementasi Nglencer tersebut di bandingkan dengan masyarakat yang masih di pedesaan.

Mungkin masing-masing individu akan menemukan dan merasakan semangat silaturrahmi Nglencer pada level yang berbeda dan jika kita bandingkan zaman sekarang dengan zaman 60-70an maka tentulah jurang itu sudah kita lihat amat dalam dan lebar. Namun yang terpenting adalah sebuah pesan besar yang harus kita sikapi bahwa menyambung persaudaraan adalah sebuah keniscayaan yang harus tetap kita jaga dan tentunya kita lestarikan karena hanya dengan semangat persaudaraan tersebut, Islam akan utuh dalam sebuah kekuatan besar dan perpecahan didalamnya bisa kita minimalisir . (tegelinang 2013)

Continue reading “Tradisi Nglencer”