Tak Berkategori

Pesta rakyat

Dimana-mana yang dibicarakan adalah pilkada, entah dengan nada menyanjung, menghina, menghasut dan bahkan bumbu-bumbu sedap kampanye di lumurkan untuk mencari simpati.

Saya adalah warga Indonesia dan keindonesiaan itu saya tunjukkan dengan gembira menyambut pesta rakyat ini, saya tidak mempedulikan omongan miring tentang si anu..omongan menyanjung tentang si anu…yang penting adalah saya menggunakan hak saya untuk mencari pemimpin yang tentu saja ideal menurut saya.

Sepertinya ada yang memanfaatkan pesta ini untuk kepentingan tertentu, misalnya..untuk menumpahkan sederet minuman yang sudah diisikan dalam gelas, menghabiskan menu-menu masakan khas yang terlihat enak, berkenalan dengan mereka yang baru dijumpainya, dan entah..saya kira masih banyak lagi motif mereka datang dan meramaikan pesta ini.

Tanpa disadari sebenarnya pesta ini cepat atau lambat pasti akan berakhir, namun saya melihat ada beberapa tamu yang tidak ingin pesta usai, ada bapak-bapak yang mencoba menyembunyikan beberapa perlengkapan, ada ibu-ibu yang masih kerasa di sofa, banyak anak muda yang enggan beranjak dari keasyikannya, sepertinya mereka lupa bahwa mereka harus pulang ke rumah dengan cerita indah di pesta.

Saya tidak banyak mengenal tamu disini, namun dari raut mereka saya bisa membaca ada beberapa tamu yang saling sindir perihal baju yang dipakai tamu lain, bahkan ada yang terus terang mengatakan tidak menyukai jenis makanan atau aksesoris yang dipakai di pesta ini.

Sepertinya saya harus mesem dengan tingkah genit para tamu, saya sendiri tidak makan banyak dan bahkan cenderung menikmati menu yang paling sederhana.

Melihat kondisi yang sudah semakin malam dan beberapa tamu sudah terlihat mabuk dan membanting kursi saya beranjak pulang dengan harapan besok pagi mereka melupakan malam ini dan kembali beraktifitas normal layaknya orang Indonesia yang mempunyai jiwa Bhineka Tunggal Ika. (tegelinang 2017 )

Iklan
Tak Berkategori

Kumpulan RT

Kita boleh berbicara tentang politik kelas tinggi maupun menganalisa keadaan ekonomi bangsa ini yang konon katanya sedang terpuruk, biasanya saat sekerumunan orang pada duduk dalam satu majlis yang namanya eRTe mereka akan asyik dalam dunia analitik pragmatis.

Namun jangan lupa bahwa kumpulan eRTe bukanlah kumpulan yang berkewajiban untuk menjustis dengan menyalahkan orang-orang yang duduk diatas sana dengan segala kebijakan yang sulit dimengerti oleh orang desa seperti saya, hanya karena di rumah saya ada televisi 14 inch dan setiap harinya menyuguhkan berbagai berita yang terkadang sulit saya pahami namun dari situ semua mengalir dan membuat saya ( selain teman-teman saya tentunya) menjadi orang yang konon pandai untuk memilih yang benar maupun membuang muka untuk hal-hal yang kotor.

Perbincangan tentang gejolak di kota-kota besar malam itu menjadi topik yang sangat penting sekali di kumpulan eRTe dan bahkan sepertinya lebih penting dari acara gugur gunung minggu besok.

Sampai di rumah malam itu sekitar pukul 23.00 WIB dan sembari saya leyeh-leyeh di kursi rotan butut pikiran saya melayang kembali membayangkan kehebohan kumpulan eRTe tadi.

Saya berfikir “Seberapa penting kita mesti mencampuri urusan orang-orang dalam kotak berwarna itu?” dan saya tidak punya jawabannya kecuali bahwa tetangga-tetangga saya sekarang sudah bisa berpolitik dan ahli menganalisa keadaan yang terjadi di perkotaan daripada mereka semangat membangun kerukunan bergotong-royong.

Analisa saya bukanlah tanpa fakta, kecenderungan membangun kegotong-royongan dan persatuan sepertinya sedikit luntur dengan kecenderungan beberapa orang lebih suka membayar denda ketimbang ikut berpartisipasi kerja bakti,  dan anehnya merekalah yang paling mendominir bercerita tentang situasi politik kota-kota besar sembari paling gemar meminta bantuan ke Pemerintah bila mempunyai hajat bersama, menurut saya sikap meminta kepada siapapun ( walau ke Pemerintah) merupakan sikap yang kurang mandiri dan bahkan menjauhkan jiwa derma kita, karena tangan dibawah itu lebih hina daripada tangan diatas. (tegelinang 2016)

Tak Berkategori

BUDAYA HUMANISME MASYARAKAT JAWA

IMG_20150918_171611Sebagai masyarakat jawa terutama jawa tengah tentunya kita tidak asing lagi dengan sebuah kultur untuk menyambut bulan suci bernama Ramadhan, mengapa bulan ini disebut bulan suci dan siapa sajakah yang menyucikan bulan ini?. yang namanya Kultur atau budaya adalah sebuah produk dari olahan perjalanan akal budi manusia dalam memandang hal tertentu kemudian mengaktualisasisi ke dalam kehidupan real yang dimana masyarakatnya akan lebih mudah menerima dan menjalankan hasil olahan dari akal budi tersebut yang kemudian aktualisasi tersebut menjelma menjadi sebuah budaya. Berbicara mengenai budaya yang bersumber dari hasil olahan akal budi ini tentunya kita akan dihadapkan pada beberapa sudut pandang masyarakat atau golongan lain untuk mengklaim kebenaran dan atau kesesatannya namun ketika kita meletakkan konteks tersebut pada point of view ( sudut pandang) secara universal maka yang disebut dengan budaya yang baik adalah ketika tidak adanya sebuah pemaksaan dan nilai kerugian didalamnya tak terkecuali sebuah budaya untuk menyambut bulan Ramadhan di tanah jawa. Mungkin karena bulan Ramadhan sangat diyakini adalah bulan yang penuh berkah , karomah dan maghfiroh maka sebagai masyarakat yang juga meyakini akan adanya nilai sebuah kesucian di dalamnya kemudian mereka melahirkan sebuah budaya ritual untuk menyambut kedatangan bulan agung tersebut, sebut saja yang terjadi di daerah Magelang terutama Muntilan pasti akan dengan mudahnya menemukan Budaya Nyadran/Sadranan pada bulan Sya’ban, ketika kita menilik dari konteks islam maka kita pasti tidak akan menemukan sebuah dalilpun untuk mengesahkan budaya Sadranan tersebut kedalam ajaran islam, namun dalil untuk melegitimasinya adalah bahwa manusia itu di tuntut untuk berbuat baik/Birr terhadap orang tuanya dan salah satunya adalah mendoakan kebajikan kepada mereka. Lalu apa hubungannya perbuatan baik dan Ramadhan?, Seperti yang telah kita ketahui bahwa bulan Ramadhan adalah bulan yang suci maka untuk menyambut dan memasuki kesucian tersebut tentunya dibutuhkan hati yang suci diantaranya dengan sebuah cara yaitu kita mendoakan kerabat, saudara dan terlebih lagi orang tua kita. Saya masih ingat dulu ketika saya masih kecil acara sadranan tersebut pasti di gelar di area pemakaman namun sekarang kebanyakan saya menjumpai acara tersebut di laksanakan di area masjid walaupun masih banyak masyarakat menjalankan acara sadranan tersebut di makam-makam.Sebagai tindak lanjut pasca sadranan adalah dimana menjelang satu hari sebelum puasa Ramadhan di laksanakan terdapat sebuah kultur masyarakat tamanagung terutama dusun Bludru Desa Tamanagung sampai sekarang masih ada semacam ritual saling memaafkan antara anggota keluarga dan tetangganya hal ini dilakukan untuk lebih bisa menjalankan Puasa Ramadhan dengan penuh keikhlasan tanpa adanya kecemasan karena mendapati sebuah titik kecil hitam penghalang hubungan horisontalnya, ritual saling memaafkan tersebut biasanya digelar menjelang Padusan dan tepat hari Padusan atau mandi sunat memasuki tanggal satu Ramadhan, mereka akan meminta maaf dengan cara mengajak bersalaman ketika saling berpapasan di jalan maupun dengan rela bersilaturrahmi mendatangi rumah-rumahnya. Mari kita kembangkan dan lestarikan sebuah budaya tanpa harus mencederai agama kita sendiri walaupun tanpa ada dalil naqlinya karena kita sebenarnya telah diberi kekuatan untuk mengklaim Haq dan Bathil melalui pemberian Tuhan bernama akal karena saya yakin bahwa rasa saling menyalahkan hanya akan menjadikan perpecahan dan kehancuran disamping kita akan menjadi miskin budaya.(tegelinang 2013)

Tak Berkategori

WordPress.COM vs. WordPress.ORG — Which Is Better for Writers?

Kristen Lamb's Blog

*blinks groggily* Geeze, Kristen, what did you put in that candy? I promised I’d write a guest post for your blog. You didn’t have to kidnap me to make it happen. Methinks you like the Candy Van just a little too much.

That van was a BARGAIN. Getting my $250 worth.

Besides, I only drug my favorite people. It’s like a CLUB…bonded by candy and Stockholm Syndrome :).

Didn’t want one of my guests feeling left out. No Candy Van War Story to share. Oh, here’s some water. Might help wash the sedatives out of your system. 

Take it away, Jami!….

WordPress.COM vs. WordPress.ORG — Which Is Better for Us?

Okay, let’s see if I can focus my eyes enough to explain the differences between the WordPress.com and WordPress.org blogging platforms. Yes, one is .com and one is .org. Yes, it’s confusing. Don’t worry, we’ll…

Lihat pos aslinya 1.289 kata lagi

Tak Berkategori

How the Old Days Got Their Name (Part 3)

Mostly Bright Ideas

MotherMother was the boss. Everyone else lined up, facing her, about thirty feet away. The objective was to work your way toward Mother through a series of steps, which she directed you to perform. But here’s the thing. After receiving your instructions, you were then required to ask Mother’s permission to go ahead, and she could refuse to approve the very action she had just ordered you to take. The first person to reach her was the winner. It was called Mother May I, and while the rules were simple, the game gave us an early lesson in both the scarcity of justice and the complexities of juvenile bureaucracy.

“Margaret, please take five giant steps.”
“Mother, may I?”
“Yes, you may.”

“Eugene, take two giant steps.”
“Mother, may I?”
“No, you may not. Instead, take one teensy-weensy step.”
“Mother, may I?”
“Yes, you may.”

And so it went. To…

Lihat pos aslinya 969 kata lagi